
"Apa Sinar sudah tahu? Dan dia akan minta berhenti sekarang. Apa yang harus ku jawab?" batinnya.
Mereka sudah sampai di taman depan mansion yang sangat luas. Marlin memilih duduk di gezebo taman agar sedikit jauh dari mansion, karena gazebo berada di dekat pagar halaman.
"Ayo duduk!" pinta Marlin mempersilahkan.
Sinar duduk mengahadap Marlin yang tethalang mejanya di antara mereka.
"Katakanlah. Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Marlin dengan hati-hati.
"Maaf, Nyonya. Saya sudah banyak merepotkan Anda!" ucap Sinar swbagai pembukaan, pikirnya.
Deg deg deg deg
"Maksud kamu?" tanya Marlin tidak mengerti.
"Pekerjaan saya sudah selesai, Nyonya. Tuan Surya sudah sembuh, itulah saya ingin minta maaf, kalau saya ada salah dan banyak merepotkan Nyonya dan Tuan di sini." ucap Sinar.
"Maksud kamu? Kamu sudah tahu, Surya sudah bisa berjalan lagi?" cecar Marlin.
"Iya, Nyonya. Saya sudah tahu, dan artinya pekerjaan saya sudah selesai." ucap Sinar.
"Tapi, Sinar, apa kamu tidak bisa, bekerja beberapa saat lagi? Saya minta maaf untuk Surya, tapi dia punya alasan untuk tidak memberitahu kamu dan bahkan, bukan cuma kamu saja yang tidak tahu, dalam keluarga ini hanya saya yang tahu, itu pun kebetulan." jelas Marlin, berharap.
__ADS_1
"Tapi, kontrak kerja kita hanya sampai tuan Surya sembuh dan itu artinya sudah selesaikan?"
"Saya harap kamu bisa memikirkan lagi. Apa kamu sudah bicara dengan Surya?" tanya Marlin dan mendapat gelengan dari Sinar.
"Saya pikir tidak perlu, mungkin tuan Surya tidak mau bicarakan ini," jawab Sinar.
"Kenapa seperti itu? Saya akan bicara sama Surya," ujar Marlin lagi.
"Tidak perlu, Nyonya. Tuan Surya akan bicara jika dia mau," ucap Sinar.
"Tapi," sela Marlin.
"Tidak apa-apa, mungkin dia belum siap," sela Sinar.
Sinar mengangguk, mengiyahkan ucapan Marlin. Sang Nyonya besar itu pun pergi berlalu menuju kamar Surya dan Sinar hanya diam di tempatnya.
"Di mana aku harus cari uang setelah ini?" Batin Sinar, karena hanya pekerjaan itu satu-satunya upah yang besar, bisa mencukupi biaya berobat ibunya dan kuliah Bintang yang sebentar lagi akan melakukan ujian.
Sementara Surya yang berada di kamarnya, sedang frustasi karena tidak bisa bicara dengan Sinar mengenai hatinya. Dia tidak yakin akan dirinya sendiri, bagaimana cara membahagiakan Sinar. Melihat Aldrick dan istri yang belum seutuhnya itu di taman, hatinya bergetar. Jika dulu dia berfikir dapat membahagiakan Jia dengan uangnya, namun tidak sekarang dengan Sinar.
Wanita itu bahkan tersenyum lebar hanya karena coklat pemberian Aldrick dan canda, gaya bicara Aldrick bisa membuat Sinar tertawa renyah, tanpa ada uang.
"Apa aku kurang perhatian? Atau aku benar-benar tidak mengenal Sinar?" bayin Surya.
__ADS_1
"Aku harus mencari cara untuk mempertahankan Sinar. Bagaimana pun caranya!"
"Akan ku rebut hatinya, walau harus dengan sedikit memaksa!" gumam Surya, yang telah berambisi.
Surya berjalan ke dekat Jendela, memandang taman di mana Sinar dan Aldrick duduk tadi.
"Maaf Aldrick, tapi aku tak rela melepas Sinar!" gumamnya lagi.
Klek
Pintu kamar terbuka. Surya memalingkan wajahnya, terlihat Marlin berdiri di daun pintu.
"Surya, mama ingin bicara!" tegasnya, Surya hanya dapat memandang Marlin yang tengah berbalik keluar dari kamar itu.
.
.
.
.
By... By...
__ADS_1