
Surya seperti menantang Sinar dan dia sama sekali tidak suka tantangan, apapun itu akan dia layani segala tantangan yang diberikan padanya.
"Baiklah!" ucap Sinar tegas.
Sreeettt
Handuk yang di pakai Surya untuk menutupi bagian intinya kini terhempas ke lantai ulah dari Sinar.
"Kau!"
"Diamlah. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku!" ucap Sinar menyela.
Dengan telaten Sinar memakaikankan Surya pakaian yang tersisa di tangannya. Walau tanpa memandang ke arah intinya.
Melihat itu Surya berpikir untuk mengerjainya.
"Hei! Lihat ke sini!" pinta Surya, namun Sinar hanya bergemingbdi kaki Surya. Hingga Surya menarik tangannya.
"Auw!" pekik Sinar saat tubuhnya terseret.
Mata kedua insan itu saling bertemu, mereka menatap satu sama lain, seperti sedang mengagumi wajah dari lawan mereka. Sinar bukannya tidak cantik, tapi kecantikannya tertutup saat dia tidak tersenyum. Masing-masing dari mereka tidak sadar dengan tingkah mereka, tanpa Surya dan Sinar sadari jika telapak tangan wanita itu sudah menempel ke tongkat sakti milik Surya. Entah Surya sedang menikmati sentuhan tangan itu atau Sinar yang penasaran dengan tongkat sakti yang di lihatnya tadi.
Keduanya terdiam, tanpa ada kata dan kedip saling menatap hingga tongkat itu bergerak dengan sendirinya😁 dan membuat lamunan mereka pudar.
"Kau!" bentak Surya yang sebenarnya dia swdang mengendalikan rasa yang menyerangnya dan Sinar terus membalik badannya karena malu telah dengan tidak sengaja berlama-lama memegang tongkat milik Surya.
Sinar menutup matanya rapat di balik Surya, mengendalikan degupan jantungnya yang berdetak begitu cepat😊
Deg deg deg deg
Sinar sangat malu untuk kembali menatap Surya hingga ketukan pintu terdengar di kamar itu.
Tok tok tok tok
"Tuan! Nona Sinar, sarapan untuk tuan!" suara bi Inem dari balik pintu, dengan segera Sinar berjalan ke arah pintu dan Surya tengah menutup tubuh bawahnya rapi.
__ADS_1
Klek
"Sarapannya," ucap bi Inem setelah pintu dibuka.
"Iya, trima kasih, Bi." Sinar menutup kembali pintu yang terbuka itu.
"Pakailah, pakaianmu. Baru sarapan," ucap Sinar dan Surya tak menjawabnya, dia sibuk mencari dalaman dan celananya yang sempat terlempar.
"Sinar, Sinar!" panggil Surya berulang karena Sinar bergeming dari tempatnya.
"Ada apa?" tanya Sinar.
"Ambilkan itu!" pinta Surya dengan menunjuk ********** yang berada di lantai.
Sinar segera memunggut sesuatu yang Surya pintahkan padanya dan kembali berbalik.
"Akh!" pekik Surya pelan karena merasa sakit saat mengangkat sebelah kakinya.
Mendengar Surya yang merintih dan melihatnya kesusahan, akhirnya Sinar memutuskan untuk membantuh Surya.
Sinar membantuh, sebisanya. Setelah pakaian itu melewati bagian yang di perban Sinar memintah Surya untuk melanjutkan ke bagian yang ditutupi dwngan handuk.
*
Beberapa hari berlalu, kini saatnya Marlin untuk berangkat ke Amsterdam. Marlin telah bersiap-siap, di depan mansion. Disana ada Keila, Sinar, Surya dengan kursinya dan Kevin, anak dari Keila.
"Mama pergi, ya," pamit Marlin pada mereka.
"Iya, Ma. Kalau pulang, jangan lupa oleh-olehnya," ucap Keila dengan senyuman.
"Sinar, titip Surya, ya. Jewer saja kalau dia mempersulitmu! Dan kau Surya, jangan menyusahkan orang. Mama pergi dulu, mungkin sebulan atau 2 bulan mama akan kembali," pamit Marlin pada Surya dan Sinar.
"Hati-hati, Nyonya. Jangan khawatirkan kami," ucap Sinar.
"Iya, makasih. Cucu oma, sini. Oma pergi dulu, ya, jangan nakal-nakal di sini."
__ADS_1
"Oma, Kevin nggak punya temen main lagi. Opa dan papi sibuk, oma pergi, om Surya nggak bisa diajak main!" keluh anak berusia 5 tahun itu.
"Kamu bisa main sama tante Sinar dan om Surya. Om Surya 'kan di rumah terus, bisa main sama cucu oma. Nanti pulang oma belih mainan yang banyak," bujuk Marlin.
"Iya, Sayang. Kamu bisa main sama tante dan Om. Ya, mau, ya." bujuk Sinar juga.
"Bener, Tante mau main sama Kevin?" Anak itu menatap wajah Sinar dan Sinar menggangguk padanya.
"Ok, Oma!" ucap Kevin dengan mengancungkan jempolnya.
Marlin mengelus kepala anak itu dan kemudian pamit dengan mereka. Pergi menaiki mobil, dan melambaikan tangannya pada mereka.
"By..." Marlin pergi.
"Kevin, ayo masuk!" ajak Keila.
"Kevin mau main sama Om dan Tante!" ujar anak itu.
"Nona muda, biar Tuan kecil bersama saya dan Tuan muda. Saya akan menjaganya." Seperti itulah panggilan para pelayan mansion itu pada orang-orang rumah itu. Tuan besar, Nyonya besar, Nona Muda, Tuan Muda dan Tuan kecil.
"Owh, baiklah!" ucap Keila kemudian masuk kembali ke dalam mansion.
"Ayo, kita ke taman. Bersama Om Surya juga," ajak Sinar.
"Ayo!" Anak itu pun, mengiyahkan ajakan Sinar.
Sinar mendorong kursi roda yang diduduki oleh Surya. Seperti itulah pekerjaan Sinar sehari-hari, dari pagi hingga malam. Dan Siang ini dia akan membawah Surya ke taman Mansion untuk menghirup udara segar.
"Hai... Surya!" sapa dua orang pria yang berjalan ke arah mereka yang tengah duduk di taman.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa kasoh gift sama author, ya😁