
"Sinar juga tidak tahu! Jangan-jangan kamu ...." Marlin menatap Surya dengan penuh curiga di benaknya.
"Ma, jangan di kasih tau, ya." mohon Surya.
"Sinar juga tidak tahu?" tanya Marlin lagi dan Surya pun mengangguk. "Tapi, kenapa?" tanya Marlin lagi.
"Maaf, Ma! Tapi, Surya juga kaget sendiri. Kemarin-kemarin Surya hanya bisa melangkah beberapa langkah saja dan mungkin pagi ini ... Surya juga nggak tahu kenapa, Ma." jelas Surya.
"Maksud kamu? Mama jadi bingung, Surya."
"Aku tiba-tiba bisa jalan, mungkin karena terlalu bahagia, tapi yang aku tau sekarang, aku nggak ingin pisah dengan Sinar, Ma." ucap Surya.
Deg
Dugaan Marlin benar. Surya tidak ingin mengatakan pada Sinar karena dia sudah mulai mencintainya, tapi Sinar ... Apa dia akan menerima ini? Menerima Surya?
Marlin kembali di dekat sofa dan menjatuhkan dirinya di sana. Bagaimana bisa, perasaan Surya datang setelah dia sembuh dari sakitnya.
"Ma, bantuin Surya. Tolong, Ma." Surya mendekat ke arah Marlin duduk di sampingnya dan memohon.
"Surya, mama juga bingung. Mama harus apa? Mama nggak tau, waktu kemarin saja mama sudah angkat bicara sama kalian, tapi kamu diam saja. Tidak berkata apa-apa?" ucap Marlin.
Tok tok tok tok
"Ma, ada apa? Kok pintunya di kunci?" teriak Dennis dari luar pintu kamar Surya.
__ADS_1
Marlin dan Surya saling pandang, memalingkan wajah kearah pintu bersamaan.
"Ma," keluh Surya.
"Mama, nggak tau lagi, Surya. Mama nggak bisa maksa Sinar sekarang, kamu berjuanglah sendiri kalau memang kamu mencintai Sinar." ucap Marlin dan beranjak dari kursinya menuju pintu kamar yang masih terkunci.
Klek
Di depan pintu Dennis dan Keila tengah berdiri sejak tadi dan sekarang mereka menunggu penjelasan dari Marlin karena telah memanggil mereka.
"Ada apa, Ma?" tanya Keila, penasaran.
"Surya sudah sembuh," jawab Marlin dengan raut kecewa.
"Sudah sembuh. Tapi kok, wajah Mama nggak terlihat bahagia? Mama becanda, ya?" cecar Dennis yang eagu dengan perkataan istrinya.
"Iya, Pa. Mama memang suka becanda." ucap Surya yang mendengar percakapan mereka.
"Mana?" tanya Keila yang terhalang tubuh Marlin dan menggeser sedikit tubuhnya agar dapat melihat Surya.
"Mama, ini ada-ada saja. Eh, Sinar di mana? Kok tidak di sini?" tanya Dennis.
"Itu, mama suruh dia nginap di rumahnya, karna ibunya kemarin masuk rumah sakit," jelas Marlin.
"Kok, gitu sih, Ma? Terus Surya-nya siapa yang bantuin, Ma?" protes Keila.
__ADS_1
"Keila, jadi orang tuh, punya empati sedikit, dong. Itu ibu-nya, ibu kandung, masuk rumah sakit, biarkan dia jaga beberapa hari. Lagian Surya udah bisa sendiri, kok." ujar Marlin kesal, keluarganya memang seperti itu.
"Ya, udah. Aku mau nganter Kevin sekarang." Keila segera keluar dari kamar itu, karena tak berdebat dengan Marlin.
"Papa juga. Mau berangkat kerja. Sur, kerjaan yang kemarin sudah selesai?" tanya Dennis sebelum pergi.
"Sudah, Pa. Semua sudah beres," jawab Surya yang masih duduk di kursi sofa kamarnya.
"Ok. Nanti sisanya, papa kirim lewat email saja. Papa nggak sempat bawah kemarin," ujar Dennis dan segera berlalu dari sana.
"Surya! Kamu ini kenapa, sih? Kenapa harus bohong segala?" marah Marlin.
"Ma, sekali ini saja. Bantu aku. Aku belum siap untuk ini?" ucap Surya dengan memohon.
"Terserah kamu saja. Mama nggak ikut-ikutan," jawab Marlin lalu segera pergi dari sana.
Surya menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa dan memikirkan langkah apa yang harus diambilnya. Dia belum siap untuk mengatakan kesembuhannya pada Sinar dan dia sangat tidak suka Sinar pergi dari hidupnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Yang coment, yang enak, kalau asam namanya mangga mudaš¤£