
Surya tersandar di sofa, tidak hilang kesadaran, namun tubuhnya bagai mati dan tak bertulang. Sinar berusaha menguatkan Surya yang mendengar kebenarannya, Sinar mengusap-usap lengannya yang sedang terlingkar di lengannya.
"Maafkan mama, Surya. Ibumu tidak mengijinkan mama untuk memberitahumu, dia melarangnya karena penyakit yang di deritanya. Dulu saat kamu berusia 4 tahun, mama mencoba memberitahumu, walau kamu belum mengerti, tapi kamu srempat memanggilnya ibu dan karena itu, ibumu marah pada mama. Dia sangat marah," ungkap Marlin dengan tangisan yang riada henti.
Surya tak bersuara lagi, hingga Sinar memutuskan untuk bertanya, walau dia tahu itu bukan haknya. Tapi, Sinar ingin semuanya jelas. Biar bagaimana pun, dia relah menerima Surya sebagai suaminya dan dia tidak akan membiarkan duaminya berlarut-larut dalam kesedihan dan hanya menerka-nerka saja.
"Ibu sakit apa, Ma?" tanya Sinar dan semua mata tertuju padanya kecuali Surya. "Maaf, kalau aku turut campur, tapi-"
"Tidak apa. Kau memang harus tahu dan kau juga berhak bertanya, Surya suamimu dan jangan pernah abaikan masalahnya," selah Dennis.
Marlin menatap Dennis dan Dennis hanya memberi tatapan dingin padanya.
"Ibunya sakit kanker payudara. Namanya Sonya anggita putri. Dia adalah pelayan di keluargaku saat masih lajang dan menikah, namun suaminya pergi meninggalkan Sonya yang sedang hamil dan setelah setahun kepergian suaminya, kami mendengar jika dia meninggal dalam kecelakaan," jawab Marlin sekaligus menjelaskan siapa Sonya dan suaminya.
"Di mana makam mereka?" tanya Surya tiba-tiba.
"Makam ibumu ada di kota ini, tapi ayahmu berada di luar kota dan mama tidak tahu tepatnya. Ibumu tidak ingin mencarinya, dia sakit hati karena di tinggal pergi, hingga tak ingin walau hanya melihat makamnya saja." jawab Marlin.
"Aku ingin pergi ke makam ibuku!" ucap Surya.
__ADS_1
"Baiklah, besok kita akan pergi ke makam, bersama Papa juga." jawab Marlin seraya menatap Dennis yang tengah duduk.
Surya menggenggam tangan Sinar, berdiri dan membawah Dinar pergi dari sana, tanpa bersuara hanya Sinar yang berinisiatif untuk pamit walau terburu-buru.
"Ma, Pa, kami pamit," ucap Sinar dengan mengikuti langkah Surya yang telah menyeretnya.
Sinar dan Surya kembali ke kamar mereka. Surya tidak bersuara, dia melepas genggaman tangannya pada Sinar setelah mengunci pintu dengan rapat. Saat ini pikirannya sangat kacau, hatinya campur aduk tak karuan. Entah apa yang dia rasakan, kesal, marah, kasihan pada diri sendiri atau bersyukur karena memiliki keluarga walau sebenarnya dia sudah menjadi yatim piatu.
Surya melangkah menuju balkon, entah apa yang harus di lakukannya sekarang. Ingin rasanya dia menangis, namun air matanya sulit untuk jatuh, entah kenapa demikian.
"Mas," sapa Sinar yang mengikutinya sampai ke balkon kamar mereka.
"Mas, aku mau," ujar Sinar.
Surya berbalik tanpa suara, menatap dalam ke arah Sinar.
"Ada apa?" tanya Surya yang sungguh tak mengerti dengan apa yang dia katakan.
Tiba-tiba, tangan halus Sinar telah bermain di area tubuh yang sangat sensitif di tubuh Surya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Surya.
"Aku. Aku mau. Aku mau menjadi milikmu seutuhnya," ungkap Sinar.
"Apa! Di saat seperti ini?" tanya Surya lagi.
"Ya. Mereka bilang, dengan melakukan itu, masalah akan hilang dari pikiran kira, walau sejenak," jawab Sinar.
Surya tersenyum dan membawah Sinar dalam gendongannya menuju tempat yang akan mereka mulai permainannya.
.
.
.
.
By... By...
__ADS_1