
Pikiran Sinar berkecamuk, memikirkan ucapan Surya padanya. Hingga kini dia masuk ke dalam kamar mandi, pikirannya terus saja tidak tenang.
*
*
Di kediaman Wijaya, Nilam baru saja pulang dengan di antar Bintang.
Setelah memasuki rumah besar itu, Wina telah menungggunya di ruang tamu.
"Nilam!" panggil Wina dengan berdiri dari sofa menatap kedatangan putrinya.
"Mami," sapa Nilam.
"Dari mana saja kamu?" cetus Wina.
"Aku, aku dari jalan-jaln sama teman, Mi. Ada apa?" tanya Nilam balik.
"Siapa teman kamu itu?"
"Itu ... " Nilam menjeda ucapannya saat mendapat perranyaan dari Wina.
"Apa mungkin mami tau, kalau aku pergi sama Bintang?" batinnya.
"Itu ... Pria yang menjemputmu tadi!"
"Oh, itu Bintang, Mi. Dia-"
__ADS_1
"Mami ingatkan sama kamu! Kamu tidak boleh berhubungan dengan pria mana pun, karena kamu telah mami jodohkan!" selah Wina.
Jeedaaarr
Bom nuklir telah jatuh di pikiran Sinar, hingga dia tak sanggup berkata-kata lagi. Ucapan Wina seperti bom yang meledak di dirinya, hingga bagaikan hancur berkeping-keping, tubuhnya serasa melemas, tak percaya dengan apa yang di katakan ibu-nya pada dia.
"Mi, apa yang Mami katakan?" ucap Nilam lirih.
"Ya, kamu telah mami jodohkan dengan anaknya Marlin Haditama. Jadi, jangan coba-coba menjalin hubungan dengan pria lain!" jawab Wina ketus.
"Mami! Aku nggak mau! Aku nggak mau! Aku mencintai Bintang," ucap Nilam dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.
"Tidak Nilam! Tidak ada penolakan!" ujar Wina dan meninggalkan Nilam sendiri di sana.
"Mami! Mami! Mami, aku nggak mau, Mami! Aku nggak mau! Sampai kapanpun aku nggak mau!" pekik Nilam dengan sesegukan.
"Mami tega sekali," gumam Nilam setelah Wina menghilang dari balik pintu kamarnya.
Di kamar Wina, perasaannya campur aduk. Sebenarnya dia tega melihat putri satu-satunya menangis terseduh, dia tak ingin menyakiti Nilam.
"Andai kamu tau, alasan mami menjodohkanmu dengan Surya itu. Walau dia bukan putra kandung Dennis dan Marlin," keluh Wina di kamarnya, sendirian.
*
*
Waktu tengah malam di mansion Haditama. Sinar baru saja tertidur pukul 02.00, dia memikirkan kata-kata Surya tadi padanya, hingga matanya sulit terpejam.
__ADS_1
Surya yang masih terjaga di kamarnya sendiri, kini beranjak dari sofa yang di dudukinya, membuka laci nakas dan mengambil kunci kemudian menuju luar kamarnya.
Surya keluar, berjalan dan berhenti tepat di pintu kamar Sinar yang pemiliknya sedang terlelap dengan mimpi indahnya.
Kreek
Klek
Penghalang pintu itu terbuka, perlahan-lahan pintu di buka oleh Surya. Dengan langkah pelan, Surya masuk dengan mengendap-endap menuju Sinar yang tengah tertidur lelap di kasur, berbungkuskan selimut.
Sampai di hadapan Sinar, Surya naik ke atas tempat tidur, menyelimuti dirinya bersama dengan Sinar dalam satu selimut.
"Errgh," d3sah Sinar tanpa sadar. Bibir Surya kini telah bermain-main di bibir Sinar yang matanya masih setia tertutup.
Dari bibir, Surya menyusuri wajah wanita yang tengah tidur itu. Dari mata, hidung, pipi dan kembali ke bibir, turun ke leher dan ....
"Emp...," d3sah Sinar lagi. Bagai mimpi rasanya, sesuatu rasa seperti di atas awan, ingin lagi, lagi dan lagi.
Sinar seperti berkeluh kesah, 4h, uh, 4h, uh, namun dia tak sadar juga, jika saat ini Surya sedang mempermainkan tubuhnya, sampai Sinar sudah tak betah dengan perasaannya dan perlahan-lahan membuka mata.
Sinar masih tak sadar, dia hanya menatap Surya yang tersenyum sambil sebelah tangannya bermain-main di di balik baju yang Sinar kenakan.
"Bagaimana,apa kau mau lagi?" tanya Surya pelan dengan senyuman lebar, membuat Sinar melongo menatap Surya yang bertanya.
.
.
__ADS_1
.
By... By...