
"Sudahlah Surya. Jika kau menikahi Jia, dia tidak akan mungkin bisa merawatmu. Mama sudah mengambil keputusan dan terimalah!" pintah Marlin.
"Aakh!" kesal Surya dengan meremas seprey, sangat kuat, setelah kepergian Marlin.
*
Beberapa hari kemudian. Acara akad nikah antara Sinar dan Surya akan dilangsungkan. Hanya ijab kabul yang di adakan, tanpa undangan dan keluarga lainnya. Hanya ada saksi dan penghulu yang hadir, Rosma pun tidak hadir karena berada di rumah sakit, hanya Bintang yang hadir untuk menjadi wali untuk Sinar.
Sinar telah duduk di depan penghulu, begitu pun Surya yang di bantu oleh Dikta, kakak iparnya untuk duduk di samping Sinar.
Penghulu tengah menggenggam tangan Surya untuk memulai acara ijab kabul. Sinar termenung menatap ke depan, entah apa yang di pikirkannya hingga suara-suara saksi terdengar jelas di telinganya.
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
Sinar memandang orang-orang sekitarnya, ternyata acara ijab kabul telah selesai.
"Ini cincinnya," ujar Keila.
"Apa harus memakainya juga?" kesal Surya.
"Ini, mama yang nyuruh, turutin aja!" bisik Keila di telinga Surya dan surya pun menurutinya.
__ADS_1
"Nak Sinar, cium tangan suaminya!" pinta penghulu, namun sebelum selesai Sinar melakukannya, Surya sudah menghempas tangan yang meraih tangannya.
"Kak, bantu aku!" pinta Surya kepada Dikta.
Dikta menatap Keila istrinya, dan Keila pun mengangguk padanya. Dikta membantu Surya untuk naik ke kursi rodanya dan Surya segera pergi dari sana, meninggalkan Sinar yang baru saja dinikahinya.
Mereka tak dapat berkata-kata apa-apa dan tak bisa menghentikannya.
"Kak," panggil bintang pada kakaknya. Sinar hanya menggenggam tangan adiknya agar tenang.
Sejak awal Bintang tidak setuju dengan pernikahan mereka, apapun alasannya. Tapi Sinar memaksa dan tidak bisa dibantah. Sinar telah mengambil keputusan semua untuk ibu dan adiknya.
Bintang sangat merasa kasihan pada kakaknya, hingga dia tak mampu melihat apa yang akan terjadi selanjutnya, akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari mansion itu.
"Kak, aku pamit!" ucap Bintang dan segera berlalu dari tempatnya.
"Sinar maaf, ya. Sikap Surya memang seperti itu," ujar Marlin.
"Tidak apa, Nyonya. Saya mengerti dan saya tidak apa-apa, kok. Lagi pula ini hanya formalitas." jawab Sinar.
"Baiklah. Seminggu lagi saya akan berangkat ke Amsterdam untuk beberapa waktu, tolong kamu urus Surya, ya. Di sini semua orang super sibuk, tidak ada yang bisa memperhatikannya," ujar Marlin.
"Akan saya usahakan, semoga tidak akan melakukan kesalahan." jawab Sinar.
"Saya yakin kamu bisa menangani Surya. Oh, ya! Kamu bisa mulai pekerjaanmu besok pagi, dan kalau ada yang kamu butuhkan, katakan saja pada saya!" pinta Marlin.
__ADS_1
"Baik, Nyonya." ucapnya dengan mengangguk.
Marlin pergi meninggalkan Sinar sendiri di dalam kamar. Dan malam ini dia akan tidur di kamar itu. Sebenarnya kamar Sinar sudah di pindahkan ke sebelah kamar Surya, tapi karena kamar mereka berada di lantai 2, kamar ganti pengantin menggunakan kamar tamu di lantai bawah mansion.
Di kamar itu, Sinar telah mengganti bajunya dan berbaring di kasur sambil membayangkan bagaimana pekerjaannya akan di mulai besok.
"Pasti sangat melelahkan!" seru Sinar pelan.
Sinar membayangkan pekerjaan-pekerjaannya yang tertera di surat kontrak.
"Jika saja anak kecil, pasti akan mudah melakukannya, tapi... dia pria dewasa," gumam Sinar.
Pikirannya melayang-layang, pagi hari saat bangun pukul 06.00, membantu mandi dan mengganti pakaian.
"Aaakhh!" pekik Sinar pelan saat membayangkan dirinya membantu Surya untuk mandi dan berganti pakaian. Sinar sampai bangkit dan duduk di atas kasur saat membayangkannya.
"Apa aku harus melakukannya? Menyiram, menyabunkan, dan..." rengek Sinar, namun entah pada siapa dia harus mengadu.
"Ah! Aku bisa gila, jika harus menyentuh itu... Aka ku pikirkan besok caranya!" kesal Sinar lalu menjatuhkan dirinya kembali ke kasur.
.
.
.
__ADS_1
.
Adakah pemberian gift yang sukarela untuk author😅