Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Promo Novel : Kan kurebut istrimu


__ADS_3

Promo Novel


Status : Tamat



Bab.1


Di sebuah pesta, para pengusaha terkenal sedang berkumpul. Salah satunya adalah Maikel Palak, pemilik perusahaan terkemuka di indonesia Palakcorp.


Maikel datang bersama istrinya Rania Sutesja. Mereka menikah sidah lima tahun, namun Maikel tak ingin memiliki anak.


Pada umur yang sudah di bilang matang itu Rania sangat ingin memiliki seorang anak, namun pernikahan karena perjodohan membuat Maikel tak pernah memandang Rania, bukan karena tak cantik. Tapi karena kebencian akan perjodohan mereka, karena Maikel memiliki kekasih yang tak di restui oleh keluarganya.


Seperti saat ini, Rania ssdang duduk di mejanya, namun tidak dengan Maikel. Maikel sibuk dengan kekasihnya di tempat yang sama, namun berbeda dengan Rania.


"Malam!!" Sapa seorang pria pada Rania.


Rania memandang pria yang berdiri tepat di samping kursinya.


"Malam!" Jawab Rania singkat dan segera memalingkan wajahnya.


Pria itu segera duduk di kursi yang satu meja dengan Rania. Membuat Rania terperanjat, "mengapa dia duduk di sini?" Batin Rania.


"Apa aku bisa duduk di sini?" Ujar Pria itu.


"Kau sudah duduk, tapi sebaiknya kau segera pergi! Aku sudah punya suami." Jelas Rania.


"Oh, ya. Di mana suamimu? Kenapa tidak bersama dengan istrinya?" Ujarnya lagi, tak ongin beranjak dari kursinya.


"Ada! Dia sedang bertemu dengan rekannya." Jawab Rania, walau dia tahu saat ini suaminya pasti dengan wanita itu namun tidak mungkin dia mempermalukannya di saat ini.


"Boleh ku tahu, siapa suamimu?"


"Maikel Palak!" Jawab Rania singkat.


"Maikel Palak. Ternyata kau istri dari pengusaha ternama?" Pria itu tersenyum sinis mendengar nama Maikel. "Boleh kita bekenalan?"


"Untuk saat ini tidak! Suamiku tidak ada, aku tidak mau orang berpikir macam-macam!" Jelas Rania.


"Baiklah. Lain kali kita akan berkenalan saat ada suamimu." Ujarnya tersenyum dan berlalu dari sana.


Di meja lain, di mana Maikel berada. Maikel duduk dengan seorang wanita yang berprofesi sebagai model.


Liandra Sastia, model sebuah majalah terkenal di indonesia. Dia telah berhubungan dengan Maikel sebelum Maikel menikah dengan Rania dan hingga kini keduanya pun masih menjalin hubungan, hubungan yang Rania sendiri tahu hubungan seperti apa mereka jalin.


"Sayang, aku tinggal dulu. Rania ada di sebelah sana, jangan sampai ada yang mengaduhkan kita pada papa." Ujar Maikel.

__ADS_1


"Huuf! Sungguh tidak enak sekali berhibungan seperti ini. Kenapa kau tidak menceraikan saja dia?" Ucap Liandra.


"Tenanglah! Setelah papaku memberi semua warisannya padaku, aku akan menceraikannya." Ucap Maikel meyakinkan pada Liandra.


"Percepatlah Maikel, atau aku akan bosan setelah lama menunggu." Ucap Liandra malas.


"Baiklah! Akan ku usahakan. Aku pergi dulu." Pamit Maikel dan kembali pada Rania.


Sementara Maikel dan Liandra tidak tahu bahwa seorang pria tengah mendengarkan pembicaraan mereka.


Pria yang sama yang telah menyapa Rania tadi. Dengan tersenyum, dia kembali melangkah mengikuti Maikel yang kembali ke mejanya bersama Rania.


"Slamat malam Tuan Maikel!"


"Slamat malam juga, Tuan Erkan." Jawab Maikel.


Erkan Dimatra, pengusaha terkenal di asia tenggara yang bergerak di bidang industri. Memiliki tambang emas dan tambang batu bara.


Erkan adalah seorang duda dan mempuyai seorang putri yang di namai Gelora Dimatra. Erkan menceraikan istrinya saat usia Gelora masih 6 bulan, karena sang istri yang tak mau mengurus anaknya sendiri, dan menyukai kehidupan bebas.


"Dari mana saja anda Tuan Maikel? Anda meninggalkan istri secantik ini duduk sendiri!" Ujar Erkan.


"Oh, iya. Tadi saya ada di sebelah sana, ada rekan bisnis yang mengajak saya mengobrol."


"Hati-hati Tuan Maikel. Nanti ada yang mencuri istri cantikmu ini!!" Seru Erkan dan berlalu dari tempat itu.


Rania melihat tatapan yang tak mengenakan dari suaminya kemudian beranjak dari kursi mengikuti langkah sang suami yang akan kembali ke rumah mereka. Rumah yang bagai neraka untuk Rania, tidak ada kebahagiaan di rumah itu. Apalagi saat Rania di tuduh mandul oleh sang ibu mertua.


Di dalam mobil tak cakap antara kedua pasangan suami istri itu, keduanya hanya diam tanpa sepata kata pun.


******


Di tempat lain, Erkan pun telah kembali ke mansionnya. Dia menaiki anak tangga menuju kamarnya sendiri, namun sebelum tidur Erkan mempunyai kebiasaan yang mengharuskan dia untuk mengecup sang putri sebelum terus menuju kamarnya.


Kamar Gelora berada di samping kamar Erkan. Dia akan mampir untuk mengecup wanita cilik itu sebelum melanjutkan ke kamarnya sendiri.


Klek


Suara hendel pintu yang terbuka. Dilihatnya sang wanita cilik yang yelah terlelap di kasur seorang diri. Dia masuk menuju sisi ranjang sang putri kecil yang selama ini menjadi penyemangatnya. Di usapnya kepala putri semata wayang itu lalu mengecupnya.


"Kau akan segera mempunyai mommy, sayang! Bersabarlah. Deddy tidak akan menyia-nyiakan kesempatan, wanita itu akan menjadi mommymu!" Seru Erkan dalam gumamannya.


"Benarkah, Deddy?" Pelukan hangat di berikan Gelora pada Deddynya.


"Haa! Peri kecilku tidak tidur?" Kaget Erkan saat Gelora membuka suara.


"Hihihi! Deddy, aku bertanya padamu. Sungguhkah, aku akan punya mommy?" Tanya Gelora antusias.

__ADS_1


Dengan anggukan Erkan sekaligus menjawab pertanyaan putrinya, "tentu saja, sayang! Deddy tidak pernah berbohong padamu."


Kecupan bertubi-tubi di berikan Gelora saking bahagianya karena di janjikan mommy oleh Erkan, hingga wanita cilik itu kini sudah berada di atas tubuh sang Deddy.


"Hore... Deddy benar! Deddy tak pernah bohong." Seru gadis yang berusia hampir 6 tahun itu.


"Baiklah! Kau harus tidur sekarang. Agar mommy cepat datang." Ujar Erkan.


"Tentu saja! Aku tidak akan nakal sampai mommy datang ke rumah." Ucap Gelora dengan semangat.


Erkan menganggukan kepalanya dan menidurkan sang anak di ranjangnya. Dia menunggu hingga putrinya terlelap setelah itu kembali menuju ke kamarnya.


******


Sementara di tempat Maikel dan Rania sudah sampai dan berada dalam kamar mereka, Maikel tak henti-hentinya memaki pada Rania. Dia berpikir mungkin saja Rania menjelek-jelekannya di hadapan Erkan sewaktu dia tidak ada, bahkan dia pun berpikir jika Rania menggoda Erkan saat itu.


"Dasar ja**ng! Kau sungguh tidak tahu diri. Apa kau menggoda Erkan saat aku tidak ada? Lalu kau menjelekanku padanya!" Pekik Maikel.


"Astaga, Mas. Tidak ada yang seperti itu. Aku bahkan mengusirnya saat duduk di meja kita." Bantah Rania.


"Meja kita? Haa!! Ingat, itu mejamu sendiri. Bukan meja kita."


"Tega kamu, Mas. Apa kau pikir aku tidak tahu, kau bersama siapa di sana! Lalu kau ingin menuangkan segala kesalahanmu padaku." Air mata Rania tak dapat dibendung lagi, jatuh menetes dan membasahi pipinya.


"Jadi kau mau bilang, jika itu semua salahku! Kau yang menggoda Erkan dan kau mengatakan aku yang salah." Rania tak lagi membantah, kini dia dudul di tepi ranjang menuangkan segala kekesalannya." Apa yang cari dari laki-laki itu Rania. Apa kau haus akan belaian laki-laki lain?" Kini Maikel telah mengcengkram dagu Rania dengan ketat.


"Mas! Jangan lancang kamu." Suara rania menggelegar di ruangan tertutup itu.


"Lalu apa? Untuk apa kau mengoda Erkan, jika bukan karna ja**ng sepertimu yang haus akan sentuhan pria-pria seperti kami!" Rania sungguh merasa terhina akan kata-kata suaminya, dia tak dapat membantah lagi. Hanya air mata yang bisa menkawab kebungkamannya


"Diamnya dirimu, mengartikan itu benar Rania. Jika kau memang membutuhkan belaian aku akan memberikannya." Lanjut Maikel yang sudah lepas kendali karena emosinya.


"Jangan mendekat, Mas! Aku tidak mau." Ucap Rania mencoba menghindar dari serangan Maikel.


"Apanya yang tidak mau? Akan ku berikan apa yang kau cari!" Dengan segera Maikel menangkap Rania dan membantingnya di atas kasur.


"Aku membencimu, Mas! Aku membencimu." Hanya itu kata-kata yang dapat di ucapkan Rania dengan airmata yang tak henti-hentinya mengalir.


.


.


.


.


By... By...

__ADS_1


__ADS_2