
Dennis sangat mengenal Sonya, dia tahu Sonya adalah pelayan keluarga Marlin yang setia, sampai hayat Sonya yang meninggal karena kanker payud4ra dia terus bekerja sebagai pelayan di keluarga mereka. Kini dia sadar sadar akan kesalahannya dulu, dia tak pernah memperhatikan keluarganya sendiri. Dia sibuk dengan pekerjaan, membesarkan perusahaannya yang sudah besar, menjadi semakin besar. Itu semua hanya semata untuk menunjukan pada mereka yang mengangap enteng dirinya dulu, yang bukan siapa-siapa.
Dennis jatuh terduduk. Dia tidak marah akan Marlin, namun dia menyesali kesalahannya. Tanpa terasa air mata telah jatuh di pipinya, sedangkan Marlin beranjak untuk keluar dari ruangan itu.
Klek
Mata Marlin terbuka lebar saat membuka pintu ruangan itu.
"Surya!" ucap Marlin dengan terkejut.
Dennis yang mendengar ucapan Marlin pun, segera beranjak dari kursinya dan membuka pintu yang masih dalam genggaman Marlin itu dengan lebar.
Surya dan Sinar tengah berdiri di depan pintu dengan menatap ke arah Marlin dan Dennis, seakan meminta penjelasan.
"Surya, apa kau mendengarkan kami?" tanya Dennis.
"Iya," jawab Surya lirih. Suaranya seakan tercekat, suaranya sngat pelan, ternyata mereka sudah berada di sana saat mendengar keributan antara Marlin dan Dennis. Saat suara vas bunga jatuh, dentumannya terdengar sampai ke kamar mereka dan mereka segera turun dari kamar itu dan mendengar segala percakapan dan ungkapan masing-masing.
"Surya, masuklah dan duduk!" pinta Dennis dan Marlin hanya bisa diam dengan air mata yang tak bisa berhenti mengalir.
__ADS_1
"Tidak! Aku-" tiba-tiba sebuah tangan bertumpu pada bahu Surya yang ingin menolak ajakan Dennis.
Sinar seperti memberikan arahan pada Surya seakan memintanya untuk mengikuti perintah Dennis. Sinar mengangguk saat Surya menatapnya, meminta untuk ikut dengan ajakan Dennis.
"Trima kasih, Sinar!" ucap Dennis.
Surya melangkah untuk masuk, namun tangannya tak lepas dari menggenggam tangan Sinar. Dia ingin Sinar ikut serta, walau kaki Sinar hanya bergeming di tempatnya.
"Ikulah, Sinar. Kamu juga masuklah, bersama Surya." Sinar menggelengkan kepalanya saat Marlin meminta padanya.
Melihat itu, Surya membalik langkahnya menuju keluar dengan menunduk. Sinar paham dengan apa yang di inginkan Surya, akhirnya dia mencegah langkah Surya dengan menahan bahu Surya dan mengangguk saat Surya menatapnya. Sinar pun ikut ke ruangan itu.
Kini mereka berempat duduk di kursi sofa yang berada di ruangan itu.
Surya menatap Marlin dan Dennis secara bergantian. Tanpa suara Surya seperti meminta penjelasan pada mereka, sedangkan Marlin juga Dennis tak tahu dari mana akan memulai ceritanya.
Sinar pun terdiam, dia juga tak tahu harus berkata apa. Masalah ini terlalu besar, hingga tak ada yang mampu membuka suara, hingga Marlin mulai bersuara.
"Surya, maafkan mama," ucap Marlin dengan air mata.
__ADS_1
Surya hanya diam, mendengar Marlin. Sinar pun hanya diam, begitu juga Dennis yang tidak tahu apa yang akan dia katakan.
"Mama bukan sengaja, tapi ini permintaan ibu kandungmu. Mama tidak bisa berbuat apa-apa." ucap Marlin lagi.
"Siapa ibu kandungku?" tanya Surya.
"Ibu kandung. Ibu kandungmu, su-sudah tiada," ungkap Marlin.
Bagai di sabet nadinya, tubuh Surya tiba-tiba melemah tanpa daya dan Marlin hanya bisa menangisinya.
Surya tersandar di sofa, tidak hilang kesadaran, namun tubuhnya bagai mati dan tak bertulang. Sinar berusaha menguatkan Surya yang mendengar kebenarannya, Sinar mengusap-usap lengannya yang sedang terlingkar di lengannya.
.
.
.
.
__ADS_1
By... By...