
Entah apa yang di katakannya pada mereka. Alasan apa yang harus di berikannya. Pikirannya kini harus berputar cukup keras karena kedatangan Wina ini, sebelumnya dia berpikir akan menjelaskan pada Wina, jika mereka hanya bertemu berdua saja. Tidak di sangkah Wina nekat datang ke mansion dan hampir saja, membeberkan semua rahasianya.
*
*
Di rumah besar kediaman Wijaya. Nilam tengah duduk di ruang tv dengan menonton drama serialnya kesayangannya.
Tak tak tak tak
Deru langkah kaki terdengar saling bersahutan masuk ke dalam rumah besar itu, padahal hanya seirang wanita paruh baya yang masuk dengan wajah kesal menuju ke arah di mana Nilam duduk sekarang.
Buukk
Wina menghempaskan dirinya dengan kasar di sofa samping Nilam.
"Mami!" ucap Nilam yang kaget dengan peraduan Wina dan sofa di sampingnya.
"Mami sedang kesal. Jangan ganggu, Mami!" ujar Wina pada putrinya.
"Kenapa, Mi? Mami datang-datang kesal. Kesal kenapa?" cecar Nilam.
"Kamu nggak perlu tahu, ini urudan Mami. Kamu siap-siap saja, nanti!" jawab Wina.
"Siap-siap, buat apa?" tanya Nilam penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu!" ujar Wina seraya beranjak dari kursinya menuju kamar.
"Apa maksud mami?" gumam Nilam.
"Hm, padahal aku ingin bicara tentang Bintang pada mami," gumam Nilam lagi dengan menatap punggung Wina yang tengah masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Nilam pikir, mungkin belum waktunya dia bicara dan melanjutkan acara nonton tv-nya.
Derrttt derrttt derrttt derrtt
Getaran ponsel Nilam yang berada di atas meja. Hanya getar, karena Nilam sengaja memode senyapkan ponselnya ketika mulai menonton tadi.
Tertera nama My Dear di ponselnya dan dengan senyuman yang mengembang seraya dia menerima panggilan itu.
"Halo, Bin," sapa Nilam.
"Hai, Nilam. Bagaimana, apa mami-mu sudah di rumah?" tanya Bintang dari balik telvonnya.
"Sudah, tapi rupanya mood mami lagi nggak bagus. Nanti deh, aku kabarin kamu lagi." jawab Nilam senduh.
Sebelumnya Nilam dan Bintang telah membuat rencana untuk bertemu Winandi rumahnya, namun Nilam jadi ragu karena melihat Wina yang pulang dengan mood yang tidak baik.
"Oh, ya sudah. Nanti kabarin lagi. Kamu nggak apa-apa 'kan?" tanya Bintang lagi.
"Aku baru selesai mata pelajaran si dosen killer. Rencananya mau pulang."
"Kita nonton, yuk Bin!" ajak Nilam.
"Nonton. Ok! Aku jemput di mana?"
"Di rumahku saja!" pinta Nilam.
"Baiklah, OTW sekarang," ucap Bintang lalu panggilan telvon pun terputus.
Tut tut tut tut
"Bintang kebiasaan, deh. Matiin telvon, tanpa bai!" gerutu Nilam kemudian pergi untuk bersiap-siap.
__ADS_1
*
*
Di mansion Haditama, Marlin tengah di sidang oleh Dennis dan Surya.
"Ma, katakan! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mama sampai membuat janji perjodohan untuk Surya dengan anak wanita itu?" tanya Surya.
"Mama ..." Marlin tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan Surya.
"Ayo, Ma. Jangan ada yang di sembunyikan!" pinta Surya dan Dennis hanya mendengarkan Surya yang meminta Marlin untuk menjawabnya.
"Maafkan, mama. Sebenarnya dulu Wina pernah membantu mama, dia meminta balas budi pada mama dan dia menginginkan anaknya di jodohkan dengan Surya dan mama menyetujuinya," jawab Marlin dengan berlinang air mata, walau yang di katakannya itu bukan kebenaran.
"Kenapa Mama tidak pernah cerita sama papa?" ucap Dennis kecewa.
"Maaf, Pa. Mama takut, Papa marah," jawab Marlin.
"Lalu, siapa sebenarnya wanita itu?" tanya Surya.
Marlin dan Dennis menatap Surya yang mengajukan pertanyaan, membuat Surya berpikir jika kedua orangtuanya memiliki hubungan dengan wanita itu dan memiliki kisah yang dia tidak tahu.
.
.
.
.
By... By...
__ADS_1