
Tak ada yang tau keberangkatannya malam ini, kecuali keluarga besarnya. Aldrick pergi dengan hati yang hancur, oleh sahabatnya sendiri dan wanita yang dia cintai, setelah bertahun-tahun menutup hati untuk menjalin hubungan dan saat hatinya ingin mengingikannya, namun pupus sudah.
Panggilan untuk para penumpang tujuan Tailand, saat ini tengah mendapat panggilan untuk segera masuk ke dalam. Aldrick bangkit dari kursinya, dengan wajah yang tidak menunjukan kegembiraan, dia pergi dengan segala dukanya tanpa memalingkan wajahnya kembali ke belakang.
*
*
Di mansion Haditama, masih dalam keadaan yang sama antara Marlin dan Dennis.
"Ma, apa yang membuatmu yakin, jika Wina berkata benar?" ujar Dennis yang kini mereka berdua tengah duduk di sofa ruang kerja itu.
"Aku yakin, dan sangat yakin. Wina hanya meminta ayah untuk putrinya dan ayah kandungnya adalah kau!"
"Bagaimana mungkin, dia hanya ingin ayah untuk putrinya, lalu dengan menikahkan dua orang saudara itu benar!" ucap Dennis.
"Itu memang tidak benar, tapi mereka bukan saudara! Saudara kandung atau saudara tiri. Mereka tidak punya hubungan darah!" ungkap Marlin.
Deg deg deg deg
__ADS_1
"Apa maksudmu, Ma?" ucap Dennis ketus.
"Iya, mereka bukan saudara, karna Surya bukan anakmu!" ucap Wina lirih.
"Apa yang Mama katakan?" bentak Dennis.
"Itu, kebenarannya! Putramu meninggal setelah 3 hari, karna lahir prematur!" ucap Marlin, tak kalah kerasnya suara Marlin dengan Dennis yang membentaknya.
Duwaarrr
Tiba-tiba saja pikiran Dennis mati seketika. Dia tak dqpar bicara, diam dengan wajah yang pucat pasi, mendengar perkataan Marlin.
Apa yang Marlin katakan? Apa dia sudah gila? Kenapa mengatakan anak sendiri sudah tiada? Apa Wina mengacamnya? Segala pertanyaan timbul di benak Dennis. Dia sungguh tak percaya dengan yang di katakan Marlin.
Praangk
Hancur lebur, vas bunga yang berada di atas meja kerjanya karena hantaman Dennis yang begitu keras. Vas itu terhempas ke lantai dan tak beraturan lagi. Marlin sampai menutup telinganya, melihat Dennis yang tengah marah besar.
Dengan air mata yang masih bercucuran, Marlin hendak meninggalkan tempat itu, namun suara bariton pria yang seruangan dengannya menghentikan langkah yang hampir mendekati pintu keluar.
__ADS_1
"Berhenti!" pinta Dennis.
Marlin berbalik dan menatap Dennis yang membelakanginya.
"Katakan siapa ayah kandung Surya?" ucap Dennis dingin tanpa berbalik ke arahnya.
"Apa yang kau maksudkan? Kau pikir aku, sama sepertimu, yang memiliki kekasih lain. Tidak! Ternyata kau tak mengenalku slama ini!" ujar Marlin marah.
"Lalu apa? Aku harus percaya, jika anakku meninggal?" Dennis berbalik dan Menatap Marlin dengan tajam.
"Baiklah. Kau ingin tahu, 3 hari setelah anak kita lahir, kau pergi ke luar kota. Anak kita tidak bisa bertahan, tubuhnya sangat lemah hingga dia meninggal. Aku memberinya nama, kau bahkan tak memberi nama untuknya! Hingga Saat itu Sonya melahirkan Surya dan memberikannya padaku!" ungkap Marlin dengan air mata yang berlinang tanpa henti.
Dennis sangat mengenal Sonya, dia tahu Sonya adalah pelayan keluarga Marlin yang setia, sampai hayat Sonya yang meninggal karena kanker payud4ra dia terus bekerja sebagai pelayan di keluarga mereka. Kini dia sadar sadar akan kesalahannya dulu, dia tak pernah memperhatikan keluarganya sendiri. Dia sibuk dengan pekerjaan, membesarkan perusahaannya yang sudah besar, menjadi semakin besar. Itu semua hanya semata untuk menunjukan pada mereka yang mengangap enteng dirinya dulu, yang bukan siapa-siapa.
.
.
.
__ADS_1
.
By... By...