Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.21 ~Ke taman kompleks


__ADS_3

"Apa Sinar punya.perasaan yang sama denganku? Lalu bagaimana dengan Aldrick? Aku salah, telah memberinya harapan. Bagaimana denganku, setelah ini?" batin Surya yang sudah sangat mendambahkan Sinar.


Surya sibuk dengan pemikirannya di dalam kamar, sedangkan Sinar yang berada di luar tengah didatangi oleh Aldrick.


"Hai, Sinar," sapa Aldrick.


"Mas Aldrick?" jawab Sinar saat memalingkan wajahnya.


"Ini buat kamu." Aldrick menyodorkan sebuah coklat pada Sinar.


"Coklat? Buat saya? Ngapain?" cecar Sinar.


"Ya, buat makanlah. Terus buat apa lagi," jawab Aldrick seraya duduk di samping Sinar, depan meja makan.


"Iya, saya juga tau buat makan. Tapi nggak ada angin, nggak ada ujan, kok, kasih saya coklat?" protes Sinar.


"Katanya, coklat itu bisa membuat mood kita membaik. Untuk itu aku membawahkan coklat untukmu, akhir-akhir ini ku lihat moodmu kurang baik," jelas Aldrick.


"Hm, begitu." Sinar manggut-mangut menerima penjelasan Aldrick. "Makasih, ya, Mas," lanjut Sinar.


"Hm, apa kamu nggak bisa libur untuk sehari saja?" tanya Aldrick.


"Maaf, Mas. Aku tau kamu mau ngajak aku, tapi aku nggak enak dengan statusku yang sekarang, jika jalan berdua sama, Mas Aldrick. Jadi nggak bisa, Mas." jawab Sinar langsung pada intinya.


"Maaf, aku cuma rasa kamu penat di mansion berbulan-bulan. Jadi aku pikir kamu mau aku ajak jalan-jalan," jelas Aldrick.


"Nggak sama sekali. Kalau di bilang capek, nggak terlalu juga, karena Tuan Surya juga sudah ada perkembangan sekarang. Jadi aku nggak..."


"Nggak apa?" tanya Aldrick saat Sinar menggantung ucapannya.


"Nggak... Nggak tau, Mas. Lupa mau ngomong apa."


"Ah, kamu ini! Bikin penasaran aja."


Sinar dan Aldrick sedang berbincang-bincang di depan meja makan itu, tanpa mereka sadari Surya sudah berada di sana sejak beberapa menit lalu.


Sudah banyak perkembangan dengan Surya, hingga dia sudah bisa berpindah ke kursi rodanya sendiri, apalagi di mansion itu sudah di sediakan lift saat Surya pertama kembali dari rumah sakit, guna untuk mempermuda Sinar dan Surya untuk naik turun dari kamar.


"Tuan, Anda sudah di sini! Kenapa tidak memanggilku?" tanya Sinar saat terkejut dengan pintu kulkas yang di buka oleh Surya.


"Nggak apa. Aku cuma mau ambil minum," jawab Surya seraya mengeluarkan botol air dari kulkas.

__ADS_1


"Kan, bisa ngomong lewat ponsel. Nggak perlu jalan sendiri," ucap Sinar lagi.


"Sur, bagaimana keaadaanmu?" tanya Aldrick sekedar basa-basi.


"Semakin baik," jawab Surya santai.


"Baguslah. Semoga kamu cepat sembuhnya," ucap Aldrick.


"Itu maunya loe!" gumam Surya. "Iya, makasih, ya," lanjut Surya.


"Ok, deh. Aku balik, ya. Masih ada kerjaan juga di kantor," pamit Aldrick dan Surya menganggukinya.


"Makasih, ya, Mas, coklatnya." Sinar mengangkat coklat yang masih terbungkus di hadapannya.


"Iya, kalau mau lagi, bilang aja. Aku bawah, ntar pabriknya sekalian!" canda Aldrick yang mulai beranjak dan Surya hanya menatap mereka dengan malas.


"Tuan mau balik, ke kamar?" tanya Sinar setelah kepergian Aldrick.


"Nggak. Aku mau ke taman komplek," ucap Surya.


"Taman komplek yang di depan itu?" Tunjuk Sinar ke arah taman kompleks perumahan mewah itu, dari dalam mansion dan Surya pun mengangguk.


"Ngapain, Tuan?"


"Apa dia mendengar ucapan mas Aldrick tadi, ya?" batin Sinar.


"Kalau kamu capek, di sini aja. Biar aku ajak pak Diman untuk menemani," lanjut Surya yang sebenarnya dia ingin Sinar ikut bersamanya.


"Nggak, kok. Aku ikut! Sekalian jalan-jalan, biar cuma di komplek." Sinar segera beranjak dari kursinya dan mendorong kursi roda Surya ke depan mansion.


"Tunggu, kita ijin dulu sama nyonya," ucap Sinar.


"Sudah, ntar di telpon aja. Aku bawah ponsel." ucap Surya.


"Serumah, kok, pake telvon juga!" gerutu Sinar.


"Biar cepet!"


Surya mulai menghubungi Marlin, mengatakan jika mereka akan pergi ke taman depan dan Marlin mengiyahkan di balik ponsel Surya, dengan Sinar yang terus mendorongnya keluar gerbang mansion.


Perjalanan menuju taman tak memakan watu banyak. Belum sampai 10 menit mereka sudah tiba di sana. Sinar duduk di bangku taman dengan melihat-lihat ke arah beberapa orang yang juga berada di sana.

__ADS_1


Surya sedang berusaha berpindah dari kursi rodanya ke bangku yang sama dengan yang Sinar duduki, dan akhirnya berhasil. Bukan Sinar tak mau membantuh, tapi di saat-saat tertentu, dokter terapi Surya menyarankan untuk membiarkan dia berusaha sendiri di waktu yang di anggap tepat dan tidak membahayakan.


"Lah, wong, Mbanya, itu suaminya di tolongin dong, jangan di biarin sendiri!" ucap seorang ibu-ibu yang memakai kebaya, melewati mereka.


Sinar dan Surya saling tatap, saat mendengar ucapan ibu-ibu itu dan mereka berdua hanya tersenyum, karena merasa lucu dengan gaya bicaranya dengan nada dongkol.


"Dasar ibu-ibu rempong," gerutu Sinar.


"Apa itu, ibu-ibu rempong?" tanya Surya.


"Itu, ibu-ibu yang suka ngerumpi dan membahas masalah orang lain," jelas Sinar.


"Apalagi, itu ngerumpi? Pakai bahasa yang jelas!" pinta Surya yang tak mengerti dengan bahasa-bahasa seperti itu.


"Ya, ampun Tuan..."


"Eits! Jangan panggil tuan-tuan di sini. Kita hanya berdua aja!" pinta Surya.


"Hm, kamu itu maunya banyak, ya?"


"Terus, apa itu ngerumpi? Kamu belum jelasin," Surya sungguh sangat penasaran.


"Hihihi..., ngerumpi itu, orang-orang yang suka ngumpul buat gosip," jelas Sinar semengertinya.


"Oh..." Surya mengangguk tanda mengerti. "Sinar, boleh tanya?"


"Hm, apaan?" tanya Sinar mempersilahkan.


"Kamu suka sama Aldrick?" Pertanyaan Surya sukses membuat Sinar terhenyak.


"Memangnya kenapa bertanya seperti itu?" tanya Sinar balik.


"Nggak, cuma pengen tau aja! Aku cuma ingin tau, apa setelah kita berpisah, kamu akan berhubungan dengan Aldrick." Surya memandang nanar ke depan menunggu jawaban Sinar.


Sinar diam menatap Surya, menatap mencari sesuatu dari raut wajahnya.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dilike, ya😁


__ADS_2