Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.62 ~


__ADS_3

"Baiklah. Jika kau ingin tahu," ucap Wina seraya kembali duduk di kursinya.


Marlin menatap Wina dengan wajah yang sangat penuh dengan tanda tanya, pikirannya melayang, entah apa yan akan di katakan Wina padanya.


"Nilam putriku, adalah putri kandung Dennis!" ungkap Wina.


Duwaarr


Bagai petir menyambar pikiran Marlin, apa yang di katakan Wina, apa dia bercanda? Pikir Wina.


"Apa yang kau katakan, Wina?" tanya Marlin lirih, dia seperri linglung, tidak percaya dengan apa yang di katakan Wina padanya. Memang dia tidak percaya dengan yang di katakan Wina, padanya.


"Tanyakan itu pada suamimu! Mungkin dia tidak tahu dengan putrinya, tapi dia tidak akan lupa dengan vila Wijaya di puncak!" pintah Wina.


"Aku tidak percaya!" tegas Marlin.


"Aku tidak meminta kau percaya. Aku hanya ingin ayah kandung putriku, mengakuinya," ujar Wina seraya beranjak dari kursinya, meninggal Marlin yang hanya tercengang melihatnya.


*


*


Malam hari di mansion, Sinar dan Surya telah berada di kamar mereka. Sedangkan Marlin kini sedang menunggu Dennis di kamar mereka juga.

__ADS_1


Surya tengah berbaring di kasur, sedangkan Sinar duduk di sisi ranjang dengan membelakangi Surya.


"Sinar... kenapa kamu tidak tidur?" tanya Surya.


"Belum mengantuk," jawab Sinar tanpa memalingkan wajahnya.


Surya bangkit lalu mendekati Sinar yang masih duduk di sisi ranjang dengan bergeming, namun dalam benak Sinar merasa takut dengan jantung yang berdebar-debar.


"Sinar... aku tidak akan berbuat sesuatu yang tidak kau sukai. Aku janji! Aku tidak akan memaksamu, jika belum siap untuk bersatu." ujar Surya dengan meletakan dagunya di bahu Sinar dan merengkuh pinggul istri yang saat ini sangat dia cintai.


Sinar berbalik menatap mata Surya dalam. Mata itu menunjukan bisa di percaya, namun hatinya sangat tidak terima dengan apa yang di katakan Surya. Kenapa dia tak meminta haknya? Kenapa dia malah terlihatt seperti biasa saja, tak seperti yang sebelumnya? Pikir Sinar.


"Kenapa?" tanya Surya.


"Kenapa Mas berkata seperti itu?" tanya Sinar dengan masih menatap ke arah matanya.


"Apa kamu mau sekarang?" ucap Surya dengan menaik turunkan alisnya, menatap Sinar dengan tatapan nakalnya.


Plaak


"Kamu!" kesal Sinar seraya dengan tangannya yang mendarat di paha Surya dengan sangat keras, membuat Surya memekik sakit.


"Aauw! Kamu nggak bisa di ajak bercanda sedikit, ya!" ucap Surya sambil mengelus-elus pahanya yang terpampang karena hanya mengenakan celana sebatas atas paha.

__ADS_1


"Mas juga, sih! Baru aja, ngomongnya baik, malah jadi mesum!" ujr Sinar seraya menaikan kakinya dan memasuki selimut.


"Sakit nih, Sinar." keluh Surya yang masih mengelus pahanya, yang mungkin memerah karena hantaman telapak tangan Sinar.


"Rasain!" jawabnya ketus seraya menutup badannya hingga ke leher.


Di ruang kerja Dennis, Marlin tengah berada di sana. Marlin, sudah tak sabar menunggu Dennis yang rasanya begitu lama untuk tiba di kamar mereka.


"Ma, ada apa?" tanya Dennis saat Marlin duduk di hadapannya terhalang meja.


"Aku ingin bertanya tentang vila Wijaya di puncak!" seru Marlin dengan menatap Dennis tanpa berpaling.


Mendengar vila Wijaya, Dennis sedikit tersentak kaget. Vila wijaya yang tak akan mungkin dia lupakan kenangannya bersama wanita yang dia cintai.


"Apa maksud, Mama?" tanya Dennis.


"Aku bertanya pada Papa. Aku hanya butuh jawaban!" ucap Marlin.


.


.


.

__ADS_1


.


By... By...


__ADS_2