Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.44 ~ Dennis berubah


__ADS_3

"Baiklah. Nanti, setelah makan malam kita akan bicara dengan mereka," ucap Dennis mengakhiri pembicaraan mereka.


Surya telah membawah Sinar ke dalam kamarnya, dia tidak ingin wanita pergi darinya hingga dia menjaganya walau hanya sedetik tak lepas dari pandangannya.


"Mas, kenapa pintunya harus di kunci? Sebentar lagi makan malam, orang-orang pasti mencari, Mas." ujar Sinar.


"Tenang saja. Bukankah kamu sudah tahu, kalau di rumah ini tidak ada yang peduli satu sama lain, selain mama dan ... Uuntuk pintu yang terkunci, agar kamu tidak kabur," ucap Surya yang berhasil membuat Sinar melotot.


"Kabur. Apa iya, aku kabur saja?" Batin Sinar menyetujui ucapan Surya.


"Jangan berpikir untuk kabur. Ke mana pun kamu pergi, aku akan menemukanmu!" ucap Surya mulai tegas.


"Ha!" kejut Sinar.


"Apa dia bisa mendengar kata batinku?" Sinar menjadi gelisah dengan batinnya sendiri.


"Iya!"


"Apa, jadi benar? Apakah iya? Memang ada orang orang seperti itu?" gumam Sinar bertanya-tanya dan dapat di dengar oleh Surya.


"Ada. Aku buktinya." ucap Surya yang telah menghadapkan wajahnya di hadapan Sinar. Padahal yang sesungguhnya dia hanya menerka saja apa yang di pikiran Sinar dan kebetulan sekali, dia benar.


Di meja makan, Marlin dan Dennis bersama Keila sekeluarga tengah duduk untuk makan malam bersama putra kecil mereka yang baru saja kembali dari jalan-jalan.


"Oma, kenapa kita belum makan juga. Aku sudah lapar," aduh Kevin.


"Sabar ya, Sayang. Kita tunggu om Surya dulu," jawab Marlin seraya mengelus pipi anak itu.


"Bi Inem, tolong panggil Surya!" pinta Keila dengan ketus.


"Sabar, Kei," ucap Dikta menenangkan istrinya.

__ADS_1


Keila memang seperti itu, dia selalu kesal walau hanya untuk hal-hal kecil saja.


"Tadi saya mau ajak tuan Surya makan malam, tapi saya lihat tuan masuk kamar dengan Sinar dan mengunci pintu dengan keras. Mungkin ada masalah, saya jadi tidak enak untuk mengganggu." jelas bi Inem.


"Sudah. Panggil aja lagi, Bi. Bilang saya ajak makan malam!" pinta Dennis. "Sekalian, Sinarnya juga ajak makan malam," lanjut Dennis.


"Kenapa Sinar, Pa?" tanya Keila tidak suka.


"Memangnya kenapa, Mi? Tante Sinar, baik, kok." ujar Kevin.


"Kamu belajar dari siapa, menyelah pembicaraan orang tua!" bentak Keila.


"Keila!" marah Dennis.


Keila terdiam, baru kali ini dia melihat tatapan tidak suka dari papanya, sepanjang umur hidupnya. Biasanya Dennis tidak mempedulikan hal-hal seperti itu. Keila diam dan tak bicara lagi.


"Sudah, Bi. Panggil mereka sekarang!" pinta Dennis lagi dan bi Inem segera melaksanakan perintahnya.


Sinar merasa tak enak, karena terus berada di kamar itu. Sungguh hatinya tak bisa membohongi, jika dia memang bahagia, tapi pertanyaan orang-orang padanya nanti tidak bisa dia hindari.


"Sudah ku katakan, tidak..." ucapan Surya terhwnti setelah mendengar ketukan pintu.


Tok tok tok tok


"Itu!" tunjuk Sinar ke arah pintu.


"Tumben!" ucapnya seraya mengerutkan dahi.


Klek


"Maaf, Tuan, mengganggu..."

__ADS_1


"Itu Bibi tau," sela Surya.


"I-itu Tuan, tuan besar mengajak makan malam bersama non Sinar juga," ucap bi Inem.


"Papa?"


"Iya, Tuan. Katanya di tunggu," ucap bi inem lagi.


"Nggak biasanya!" seru Surya kemudian menutup pintu kembali tanpa menjawab.


"Kenapa?" tanya Sinar.


"Papa, ajak makan malam," jawab Surya segera bersiap.


"Ya, udah pergi aja. Jarang-jarang tuan besar perhatian!" pinta Sinar.


"Sama kamu juga."


"Aku! Nggak. Aku di sini saja," tolak Sinar.


"Ini perintah papa dan jika dia memerintah, dia tidak suka di bantah." jelas Surya.


Sinar tak bisa membantah lagi, setelah mendengar penjelasan Surya. Dia hanya bisa ikut dengan pria itu, walau hatinya berdebar-debar.


"Pasti ada sesuatu!" Batin Sinar.


.


.


.

__ADS_1


.


By... By...


__ADS_2