Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.46 ~Sarapan


__ADS_3

Marlin meneteskan air mata mendengar ucapan suaminya, tapi dia mempunyai rahasia yang besar yang tak bisa dia ungkapkan dan wanita yang menelvonnya dengan ancaman, dia tidak tahu dapat menyimpan rahasianya atau tidak.


*


*


Pagi hari di mansion, Sinar telah selesai mandi dan sekarang dia bersiap dengan pakaiannya untuk keluar.


"Awk, Mas!" pekik Sinar yang terkejut Surya yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Sinar..."


"Mas, kenapa bikin kejutan pagi-pagi!" kesal Sinar.


"Sinar, aku nggak bisa tidur," aduh Surya.


"Kenapa? Terus, kenapa ada di sini?"


"Aku mau tidur sama kamu," jawab Surya. "Aku jagain kamu, aku takut kamu lari, kabur!" ungkap Surya.


"Astaga! Mas! Aku masih di sini!" ucap Sinar.


"Aku mau tidur, ngantuk." ucap Surya yang mendorong kembali Sinar masuk ke dalam kamarnya.


"Mas! Mas! Kamu ngapain?" ucap Sinar panik.


"Aku mau tidur, Sinar. Temenin! Pintah Surya.


"Mas! Ini sudah siang, bukan waktunya tidur." ucap Sinar.


"Tapi aku ngantuk," protesnya.


"Mas, lepasin nggak! Aku mau keluar, nggak enak sama orang-orang rumah," aduh Sinar.


"Sinar, kamu istri aku. Tidak baik melawan suami sendiri karena orang lain," ujar Surya yang telah berbaring di kasur dengan menggenggam tangan Sinar erat.


"Ha!" kejut Sinar dengan ucapan Surya.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Jadi biar kamu masuk surga, nggak boleh ngelawan sama suami" pinta Surya.


"Astaga, Mas Surya sekarang pintar ceramah. Banyak mulut lagi," gumam Sinar.


"Sayang... Aku itu nggak banyak mulut, mulutku cuma satu. Nih, liat!" pinta Surya dengan menunjuk bibirnya.


"Benar, pasti dia demam," gumam Sinar lagi yang merasa aneh seraya merabah auhu panas di dahi Surya dan kembali di dahinya.


"Apaan, sih. Sudah ayo tidur!" pinta Surya.


"Nggak mau ah, ini sudah siang. Apa Mas Surya tidak ingin mengantarku ke rumah ibu?" tanya Sinar untuk mengalihkan perhatian Surya, namun tangannya masih memegang erat tangan Sinar.


"Ngapain?" Surya mengerutkan dahinya mendengar ucapan Sinar.


"Buat... Ngomong sama ibu dan Bintang, tentang kita." jawab Sinar.


"Benarkah? Baiklah, aku akan siap-siap. Kau tunggu di sini, ya!" Tiba-tiba Surya langsung bersemangat saat Sinar mengatakan ingin bicara tentang mereka.


Surya kembali ke kamarnya dan Sinar segera turun ke lantai bawah menuju dapur, tapi di pertengahan langkahnya sudah di hadang oleh suara Marlin.


"Sinar, di mana Surya?" tanya Marlin.


"Baiklah. Sebentar lagi ajak dia untuk sarapan bersama!" pinta Marlin.


"Baik!"


Sinar meneruskan langkahnya menuju dapur, terlihat bi Inem tengah menyiapkan sarapan untuk keluarga Haditama.


"Bi..., aku bantuin ya," ujar Sinar yang telah sampai di dapur.


"Eh, Sinar sudah bangun. Nggak usah, kamu urusin tuan Surya saja. Itu 'kan kerjaan kamu." ucap bi Inem.


"Tidak, Bi. Skarang tuan Surya sudah sembuh, jadi skrang aku bekerja seperti biasa." jawab Sinar.


"Owalah, iya. Kemarin bibi liat tuan Surya, kok tiba-tiba bisa sembuhnya?" ujar bi Inem.


"Iya, Bi. Sebenarnya sudah beberapa waktu sembuhnya, tapi masih takut buat jalan," jawab Sinar tanpa membeberkan Surya yang diam-diam menyembunyikan kesembuhannya.

__ADS_1


"Oh, gitu. Bibi kira tiba-tíba aja sembuh, 'kan kalau begitu jadi aneh." Sinar hanya tersenyum mendengar ucapan bi Inem.


Tak lama kemudian, sarapan telah selesai dan Sinar kembali bersih-bersih di kamarnya.


"Sinar!" panggil Surya saat Sinar telah selesai membersihkan badannya dan keluar dari kamar.


Sinar memalingkan wajahnya menuju arah suara panggilan.


"Ayo, berangkat!" ajak Surya.


"Kata nyonya, sarapan dulu," jawab Sinar


"Nanti saja. Ayo berangkat!" paksa Surya.


"Mas Surya, nanti ya. Setelah sarapan, nanti nyonya marah. Ayo! Kalau tidak, tidak usah pergi!" ucap Sinar marah.


"Ok-ok. Kita sarapan." jawab Surya cepat, takut jika Sinar berubah pikiran.


"Cepat!"


Surya mengikuti langkah Sinar yang turun dari lantai atas, ke bawah, sampai di ruang makan.


"Kalian, ayo duduk, kita sarapan bersama." Ajak Marlin.


"Sinar, duduk sini saja!" pinta seorang pria pada Sinar menunjuk kursi di sampingnya.


"Mas Aldrick," kejut Sinar yang tak menyadari kehadirannya.


"Aldrick!" Surya menatap pria yang bersuara pada Sinar dan menatapnya dengan tajam.


.


.


.


.

__ADS_1


By... By...


__ADS_2