
"Aldrick!" Surya menatap pria yang bersuara pada Sinar dan menatapnya dengan tajam.
"Ya," jawab Aldrick.
"Ngapain, kamu di sini pagi-pagi?" ucap Surya ketus.
"Numpang sarapan!" jawab Aldrick asal.
"Ck," Surya berdecak kesal. Acaranya bersama Sinar akan gagal, jika Aldrick berada di mansion.
"Ayo, Sinar. Duduk sini," ajak Aldrick lagi.
"Ngga! Duduk sini!" ucap Surya, membuat Sinar menjadi bingung dan tak tau harus memilih yang mana.
"Tante, sini. Duduk sama aku aja." ajak anak kecil yang duduk di samping Keila.
"Ah, iya. Aku duduk bersama Tuan Kecil saja." ucap Sinar seraya berjalan ke arah sebelah samping Kevin.
Surya dan Aldrick menatap Sinar yang duduk di samping Kevin. Wanita itu memilih duduk dengan anak kecil dari pada pria dewasa yang mengajaknya, sungguh mengesalkan.
"Ma, setelah ini aku dan Sinar ingin ke rumah ibunya." ucap Surya cepat, dia tidak ingin keduluan oleh Aldrick yang sudah ada di sana.
"Apa, jadi kalian ingin keluar bersama. Kalian tidak mengajakku. Aku juga ingin bertemu dengan ca... Emp, aku boleh ikut, kan?" Aldrick menyela ucapannya sendiri, hampir saja dia keceplosan di hadapan semua orang.
"Mau ketemu siapa?" tanya Marlin, kepo.
"Emp, enggak kok, Tante. Bukan siapa-siapa, cuman pengen ikut saja," jawab Aldrick kikuk.
"Tidak bisa. Kami ada urusan keluarga!" selah Surya dengan ketus.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada Surya yang selesai berucap.
"Keluarga. Sejak kapan pelayan jadi keluarga kita?" ujar Keila tidak suka.
"Sejak dia menjadi istriku," jawab Surya santai.
"Apa, istri. Bukannya dia hanya pengasuhmu!" ketus Keila.
"Apa ini tempat untuk berdebat?" ucap Dennis tegas.
Semuanya langsung diam mendengar suara lantang Dennis yang menggema di ruang makan itu.
"Semuanya sarapan sekarang! Tidak ada suara!" pinta Dennis.
Mereka langsung mengisi piring yang berada di hadapan masing-masing dengan sarapan dan mulai memakan makanan mereka dengan tenang tanpa ada suara.
Selesai sarapan satu-persatu dari mereka meninggalkan meja makan, termasuk Sinar, Surya dan Aldrick.
"Maaf, Mas Aldrick. Kami ingin bertemu ibu dan adikku, kami ingin membicarakan tentang pernikahan kami," jawab Sinar.
"Pernikahan, maksudmu perpisahan kalian, kan. Bukannya pekerjaanmu sudah selesai, kan Surya sudah sembuh," ucap Aldrick dengan hati yang bergetar tak karuan.
"Kami ingin ... "
"Sinar, ayo!" ajak Surya cepat.
"Mas, kami permisi," ucap Sinar yang tak sempat menyelesaikan ucapannya tadi.
Aldrick menatap kepergian Sinar dan Surya yang tengah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Ada apa dengan mereka? Apa yang ingin bicarakan di rumah keluarga Sinar? Apa mereka akan membicarakan perpisahan, tapi kenapa harus ke rumah orangtuanya?" batin Aldrick bertanya-tanya.
Aldrick melangkahkan kakinya meninggalkan mansion itu dengan hati yang gundah gulana, tak menentu arah.
*
*
Beberapa saat setelah mengendarai mobil, mereka hampir sampai di rumah ibu Sinar. Surya mengendarai mobilnya dengan sangat hati-hati dan pelan. Mengingat kecelakaannya waktu, sekarang Surya menjadi was-was saat berkendara, apalagi ada Sinar di sana.
"Yang mana rumahnya?" tanya Surya saat sudah memasuki perkampungan yang di tunjuk Sinar padanya.
"Maju lagi, Mas. Seratus meter lagi, setelah kantor kelurahan dua rumah dari situ samping kiri." jelas Sinar.
"Oh, Ok." Surya terus mengendarai mobilnya pelan dan setelah beberapa saat kantor kelurahan yang di katakan Sinar sudah terlihat.
"Mas, rumah cat biru Mas," tunjuk Sinar dengan jarinya, yang rumahnya sudah terlihat.
Surya menghentikan mobilnya tepat di depan rumah yang di tunjuk oleh Sinar, kemudian dia turun lebih dulu.
"Ayo," ajak Surya dari luar pada Sinar yang terlihat ragu untuk turun dari mobil dan Surya sudah tidak sabar untuk menemui ibu mertuanya dan adik iparnya.
.
.
.
.
__ADS_1
By... By...