
"Oh, ya sudah. Kita makan siang aja, setelah itu nyusul." ucap Marlin dan Surya menginyahkan dengan mengangguk.
*
*
Saat ini Marlin dan Surya sudah sampai di rumah sakit. Mereka berjalan menuju meja resepsionis untuk bertanya ruangan Rosma, sedangkan Aldrick berjalan menuju ke arah mereka untuk pulang.
"Sus, ruangan Rosma Suryana?" tanya Markin ketika sampai di depan resepsionis dan Aldrick pun melewati mereka tanpa menyadari kedatangan dua orang itu.
"Anggrek nomor 5," jawab wanita yang di tanyai Marlin.
"Trima kasih." Marlin kembali berbalik menuju tempat yang di katakan resepsionis tadi, sedangkan Aldrick sudah melewati mereka tanpa di sadari.
"Sinar, Bintang!" sapa Marlin.
"Nyonya!" kejut Sinar yang menatap kedatangan Marlin dan Surya yang sedang di dorongnya.
"Bagaimana keadaan ibu kalian?" tanya Marlin.
"Sudah membaik setelah cuci darah," jawab Sinar.
"Baguslah. Apa kau akan menginap di sini?" tanya Marlin lagi, sedangkan Surya hanya menatapnya menunggu jawaban.
"Kata dokter ibu bisa pulang setelah cairan infusnya habis. Ibu kurang makan dan minum, itulah harus di infus juga." Marlin mengangguk mendengar jawaban Sinar dan Surya tersenyum.
"Mas, seharusnya tidak perlu repot untuk datang. Mas pasti sibuk dan capek," ujar Sinar dan Marlin senyum-senyum sendiri mendengar panggilan Sinar pada Surya yang sudah berubah.
"Nggak repot, kok. Aku sudah selesai bekerja dan bosan juga di rumah." jawab Surya.
"Sinar, kalau begitu kamu bisa menginap di rumahmu, 2 hari ke depan," ujar Marlin.
__ADS_1
"Benarkah? Terima kasih, Nyonya. Saya juga berfikir seperti itu. Saya ingin menjaga ibu saya. Bintang harus belajar, sebentar lagi ujian semester." jelas Sinar.
"Iya, kamu bisa menginap beberapa hari di sana," ujar Marlin dan Surya menatapnya dengan kecewa.
"Kenapa kamu, Sury?" tanya Marlin yang melihat wajah Surya yang kusut.
"Emp. Tidak apa-apa. Baru ingat, masih ada kerjaan yang kelupaan tadi," jawab Surya.
"Oh, sebentar lagi kita pulang," ucap Marlin dan Surya mengangguk.
"Sinar, kenapa kamu tidak pakai kartu yang ku berikan tadi?" tanya Surya.
"Oh, itu, Mas. Anu ... itu tadi ..."
"Kenapa?" tanya Surya penasaran.
"Kartu apa, sih?" tanya Marlin bingung.
"Kartu ini, Nyonya!" jawab Sinar dengan mengeluarkan kartunya dari dalam tas.
"Sudah, Nyonya." Sinar menyodorkan kartu itu kembali pada Surya. "Ini, Mas. Sebenarnya tadi, biayanya sudah dibayar," lanjut Sinar.
"Sudah. Tidak ada notifnya di ponselku!" seru Surya.
"Iya, Mas. Saya nggak pake itu," jawab Sinar, sebenarnya dia sungkan untuk mengatakan, jika biaya administrasi yang tadinya di bayar oleh oleh Aldrick.
"Sebaiknya, nggak usah di bilang!" batin Sinar.
"Kalau begitu jangan di kembalikan. Kembalikanlah jika, kau sudah menggunakannya!" pinta Surya.
"Tapi-"
__ADS_1
"Jangan di kembalikan, jika belum berkurang uangnya!" pinta Surya.
Sinar mengalah kembali, dia menyimpan kembali kartunya di dalam tas yang tergantung di bahunya.
"Iya, Sinar. Jika kamu butuh sesuatu, katakan saja. Kami siap untuk membantu," ujar Sinar.
"Baiklah. Kalian sangat baik sekali," haru Sinar.
*
*
Di tempat lain, Jia berada di kamarnya, dengan perasaan kesal dia membanting seluruh yang ada do meja rias.
Prangk
"Awas kalian!" marah Jia.
Tiba-tiba dia melangkah menuju nakas, mengambil tasnya dan mengeluarkan ponsel.
"Leo, aku ingin bertemu!" ucap Jia setelah benda pipi itu berada di telinganya.
"...."
"Aku tunggu di cafe biasa!" ucap Jia lagi, kemudian keluar dari kamarnya.
.
.
.
__ADS_1
.
Di vote boleh, dong😁