Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab. 57 ~Kunci cadangan


__ADS_3

"Bagaimana,apa kau mau lagi?" tanya Surya pelan dengan senyuman lebar, membuat Sinar melongo menatap Surya yang bertanya.


Tanpa aba-aba Sinar mencubit pipi Surya yang sedang menatapnya dengan damba dan ...


"Awk!"


"Aakh!" Sinar berteriak setelah mendengar pekikan sakit dari Surya. Kini dia yakin jika itu benar-benar nyata. Awalnya, saat Sinar baru membuka mata, dia mengira jika itu hanyalah mimpi belaka, namun tidak. Surya benar-benar ada di kamarnya padahal pintu itu telah di kuncinya dengan rapat.


"Sinar!"


"Mas Surya, kenapa bisa di kamarku?" tanya Sinar.


"Sakit tau! Kamu selalu mengubah moodku!" kesal Surya.


"Mas yang ngapain? Masuk dari mana? Kok, bisa ada di sini?" ujar Sinar yang saat ini tengah bangun dan duduk di kasur.


"Ah, sudahlah! Aku mau tidur, kamu juga tidur saja!" kesalnya lalu menarik Sinar masuk dalam pelukannya untuk tidur bersama.


Sinar diam, membiarkan Surya merengkuhnya dalam dekapan tidurnya. Dia tahu, saat ini pria itu sedang kesal.


"Mas...," panggil Sinar pelan.


"Apa? Aku udah nggak mood!"

__ADS_1


"Iih, bukan itu. Jawab pertanyaanku tadi, Mas masuk dari mana?" tanya Sinar lagi dengan rasa penasaran.


"Hm, aku punya kunci cadangan!" jawab Surya dengan mata terpejam. Kini rasa kantuk menyerangnya, karena waktu memang sudah menunjukan pukul 02.35 dini hari.


"Oh...," Sinar membiarkan saja Surya merengkuhnya dalam dekapan dan dia pun membalas pelukan Surya dengan berbalik ke arahnya dan saling berpelukan. Sinar tidak ingin menjadi istri durhaka, kini dia siap untuk hal apapun yang Surya inginkan.


*


*


Siang hari di Kediaman Wijaya, para pelayan tengah mengaduh pada Wina karena Nilam yang mengurung dirinya di kamar.


"Nyonya, Nona Nilam tidak mau membuka pintu kamarnya, dia juga tidak ingin keluar. Nona Nilam terus menangis di kamar dan katanya, sebelum Nyonya membatalkan perjodohannya, dia tidak akan keluar," jelas pelayan yang bekerja di rymah besar itu.


"Baiklah. Biar aku yang bicara dengannya," ucap Wina. Dia beranjak dari kursinya menuju kamar Nilam yang masih terkunci rapat.


Tok tok tok tok


"Pergi! Aku tidak mau keluar!" suara dari dalam kamar, membuat Wina menghembuskan nafasnya pelan.


"Nilam! Nilam, keluar dulu sayang. Mami ingin bicara. Buka pintunya!" ujar Wina dengan menggedor-gedor pintu kamar itu.


"Tidak! Seelum Mami mengubah keputusan Mami! Aku tidak akan keluar!" ujar Nilam dengan suara serak yang sepertinya sedang menangis.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi, kamu harus dengar dulu penjelasan Mami, setelah itu kau bisa memutuskan mau atau tidak, itu terserah kamu." jawab Wina.


"Sayang, ayo, buka pintunya sekarang!" pinta Wina yang masih terus mengetuk-ngetuk pintu itu.


Tidak ada suara dari dalam, hingga akhirnya pintu terbuka dengan perlahan.


Klek


Nilam menunjukan wajahnya dari balik daun pintu, dengan mat bengkak dan rambut yang acak-acakan karena menangis semalaman.


"Sayang," sapa Wina seraya cepat masuk ke dalam kamar itu, melihat putrinya dengan keadaan yang memprihatikan.


"Maafkan mami," ucap wina dengan mendekap tubuh anaknya erat.


Wina membawah anaknya duduk di sofa dan membenarkan penampilan Nilam yang acak-acakan tak karuan.


"Sayang, kamu dengarkan mami. Kenapa mami mau kamu menjadi menantu dari keluarga Haditama itu," ujar Wina dan Nilam hanya diam mendengarkan apa yang akan di ucapkan Wina padanya.


.


.


.

__ADS_1


.


By... By...


__ADS_2