
"Semoga tidak ada masalah ke depannya, amin!" Doa Rosma dalam hati.
*
*
Seminggu berlalu, situasi di mansion masih sama dengan yang biasanya. Sinar dan Surya walau sudah saling mengetahui perasaan masing-masing, tapi Sinar masih enggan untuk tidur satu kamar dengan Surya, dia tetap memilih tidur di kamarnya, walau sering kali harus bermasalah dengan Surya.
Dan ibu Rosma, Surya telah memaksa mereka untuk merawatnya di sebuah klinik khusus dengan pengobatan alami yang mereka terapkan dalam pengobatan penyakit Rosma dan dia harus menginap di sana.
Keila, Dikta dan Kevin telah pindah ke mansion milik Marlin yang tidak terlalu besar, namun cukup untuk mereka bertiga, juga beberapa pelayan di kirimkan Marlin karena tahu putrinya yang tahu akan pekerjaan rumah itu.
Surya mengajak Bintang untuk tinggal di mansion bersama mereka, namun Bintang menolaknya. Dia lebih memilih tinggal di rumah kecil dari pada mansion yang besar itu karena tidak enak dengan keluarga Surya dan dia juga tidak ingin di katakan menumpang hidup pada mereka.
Pagi ini, Sinar telah siap di dapur untuk membuat sarapan, tentunya setelah berargumen dengan Surya karena tidak bisa tidur semalaman.
"Sinar, di mana Surya?" tanya Marlin yang baru keluar dari kamarnya.
"Ada di kamarnya, Nyonya." jawab Sinar sambil mengaduk nasi goreng spesial buatannya yang masih di dalam panci.
"Kenapa, ngambek lagi?" tanya Marlin yang sudah tau keseharian yang beberapa hari ini terjadi antara Sinar dan Surya.
"Iya, Nyonya." jawab Sinar tidak enak.
"Hm, Surya memang anaknya seperti itu. Dia suka memaksa kehendaknya," ujar Marlin seraya duduk di kursi meja makan yang ada di sana.
"Tidak apa, Nyonya," jawab Sinar.
__ADS_1
"Bagaimana dengan keputusan kalian? Apa sudah mantap?" tanya Marlin lagi.
"Kami sudah bicara dengan ibu dan adik saya dan mereka setuju," jawab Marlin.
"Baguslah, karna setelah ini papanya Surya akan bicara kembali dengan kalian," ucapnya.
"Baik," Sinar menyelesaikan masakannya lalu memindahkan ke wadah yang sudah dia siapkan.
Tak berapa lama, mereka telah berada di meja makan termasuk dengan Dennis. Mereka sarapan bersama dengan tenang hingga, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang menyapa dari luar mansion, hingga masuk ke dalam.
"Spada!!!!" Suara wanita itu memekik di seluaruh ruangan mansion membuat Marlin dan Dennis saling bersih tatap mendengarnya.
"Spada.....!!!"
Marlin segera beranjak dari kursinya dan melangkah cepat menuju ruang depan mansion lalu Dennis pun menyusulnya. Sinar dan Surya hanya saling tatap, tanpa berkata karena tak mengerti dengan tingkah kedua orang itu.
"Hai, Marlin. Kamu tidak lupa sama aku, baguslah." ucap wanita bernama Wina itu dengan sombong.
"Wina, ngapain kamu ke sini?" ucap Marlin mendekatinya.
"Ha, sungguh. Kamu bertanya seperti itu padaku? Bukankah kamu tau maksudku?" ujar wina dengan sinis.
"Ayo! Kita bicara di luar!" ajak Marlin dengan menyeret lengan Wina untuk membawahnya keluar, namun baru beberapa langkah saja Wina sudah melepas cengkraman Marlin.
"Wina!" Dennis menatatp Wina yang dengan dingin, melihat sikap Wina yang berubah tak seperti yang di kenalnya.
"Dennis," sapa Wina dengan tatapan damba. "Apa sekarang kita sudah sederajat? Kau sudah sukses, bukan. Artinya kita bisa berbesanan. Di mana anakmu, kita harus membicarakan pernikahan anak kita. Bukan begitu, Marlin?" lanjut Wina tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Dennis.
"Wina, jangan membuat masalah di sini!" ketus Marlin dengan bergetar. Sebenarnya dia takut dengan Wina yang bicara, karena Wina adalah wanita yang mengetahui rahasianya.
"Kaulah masalahnya, Marlin!" pekik Wina.
"Wina!" bentak Dennis.
"Waw, Dennis. Apa kau tak punya rasa lagi padaku?" ucap Wina tanpa tahu malu.
"Wina, ku mohon, lupakan masa lalu! Kita sudah punya jalan masing-masing," ucap Dennis dengan menunduk.
"Baiklah, aku sudah melupakannya. Sekarang, urusanku dengan Marlin, aku ingin menagih janjinya!" ujar Wina menatap Marlin dengan tatapan sinisnya.
Deg deg deg deg
Jantung Marlin berdetak cepat, dia sangat takut jika Wina akan mengatakan semuanya di hadapan Dennis, bahkan Sinar dan Surya sudah berada di ruangan itu.
.
.
.
.
By... By...
__ADS_1