Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab.70 ~


__ADS_3

Sungguh benar apa yang di katakan Sinar, masalahnya hilang walau tak seluruhnya, tapi kebahagiannya bersama Sinar mampu melunturkan sedikit demi sedikit rasa sakit di hatinya.


Di luar, Dennis dan Marlin sedang menunggu dua insan itu untuk turun dari kamar mereka. Sejak pagi mereka menunggu dan kini sudah pukul 09.15 lebih.


"Mereka lama sekali!" gerutu Dennis.


"Sabar. Seperti tidak pernah merasakannya saja! Dulu kau pun keluar kamar setelah sore hari," jawab Marlin yang mendengarnya.


Dennis hanya membuang nafasnya pelan, saat mendengar ucapan Marlin padanya, karena memang itulah kebenarannya.


Tak berselang lama, Surya dan Sinar turun dari tangga kamar mereka. Sinar tak berani menatap ke arah Marlin yang kini sedang menatap dirinya. Sinar merasa malu akan kejadian saat bangun tidur tadi, Marlin memergoki mereka yang sedang keadaan tidak baik.


Marlin tersenyum melihat kedua insan itu, saling bergandengan tangan menuju ke arahnya dan Dennis dan Dennis sendiri hanya memperhatikan rambut mereka berdua yang basah.


"Ternyata benar ucapan istriku. Sebentar lagi mansion ini akan penuh dengan tangisan anak kecil," Batin Dennis.


Mungkin itu akan sedikit mengobati sakit kehilangan anak kandung yang baru ia ketahui kebenarannya, walau bukan cucu kandung, tapi Surya sudah menjadi anaknya sejak bayi dan dia tidak mungkin menganggapnya anak pungut, karna rasa sayangnya sama seperti dulu dan tidak akan mudah mengubahnya.


"Slamat pagi," sapa Sinar, sedangkan Surya hanya diam. Dia masih canggung dengan keadaan mereka, setelah kebenaran terungkap Surya merasa menjadi orang lain, tak seperti biasanya, walau Marlin dan Dennis tak menunjukan mengurangi kasih sayang mereka.


"Pagi... Kalian sarapanlah. Setelah ini kita akan pergi ke makam!" pinta Marlin dengan senyum yang terus saja mengembang dan itu membuat Sinar sangat malu.

__ADS_1


Dennis melihat jam di tangannya dan jarum pendek jam tangan itu menunjukan di antara angka 9 dan 10.


"Bukan sarapan, tapi makan siang," protes Dennis.


"Kamu sama aja dulu. Bukan lagi makan siang, tapi hampir makan malam!" bantah Marlin.


Surya segera membawah Sinar pergi ke meja makan. Di sana sudah ada bi Inem, yang menunggu mereka berdua untuk datang sarapan, itu karena perintah Marlin padanya.


"Eh, Non dan Tuan. Ini sarapannya, sudah bibi siapkan," ujar bi Inem.


"Makasih, Bi," jawab Surya.


"Biasanya, Non Sinar bangun sebelum matahari terbit, kok ini kesiangan?" tanya bi Inem dengan senyum, namun senyum yang bi Inem utarakan mengandung sedikit kejahilan.


"Sudah. Nggak apa-apa, bibi ngerti, kok. Rambutnya basa, ya Non," ucapnya lagi dengan senyuman, membuat Sinar tersendak sebelum menyuap makanannya.


"Uhuk.. Uhuk..."


"Eh, hati-hati, Non. Pelan-pelan."


Surya memberikan Sinar air dan mengelus-elus punggung belakangnya.

__ADS_1


"Pelan-pelan, Sinar. Laper banget, ya," ucap Surya dan bi Inem tersenyum melihat itu.


Sinar meneguk minuman dalam gelas itu hingga tandas. Bi Inem sangat jahil sekali, pikirnya. Sudah tau, juga masih aja di ledekin.


"Bibi pamit ke belakang dulu, ya, Non, Tuan, mari," pamit bi Inem dan segera pergi dari sana setelah mendapat anggukan dari Surya.


Selesai dengan sarapan yang hampir di bilang makan siang itu, Sinar dan Surya kembali ke depan, di mana Marlin dan Dennis berada sekarang.


"Ayo, kita berangkat!" ucap Surya setelah dekat dengan mereka.


"Iya, ayo!" jawab Marlin.


Mereka berempat pun pergi dengan mengenakan mobil Dennis, yang di kendarai Surya dan Dennis di sampingnya. Marlin dan Sinar berada di belakang.


.


.


.


.

__ADS_1


By... By...


__ADS_2