Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku

Menjadi Istri Untuk Pengasuh Suamiku
Bab. 61 ~Ayah untuk anakku


__ADS_3

Dengan cepat Bintang menggeser tombol hijau di ponselnya, menerima panggilan Nilam.


"Halo.."


*


*


Di sebuah cafe, Marlin dan Wina sedang duduk menikamati 2 cangkir capuchino. Keduanya memiliki satu kesamaan saat ini, mereka sangat suka saat duduk di cafe dan menikmati capuchino.


"Wina, aku ingin bicara denganmu," ujar Marlin membuka percakapan mereka.


"Aku tau, bicarala!" pinta Wina.


"Ekhem," Marlin berdehem, saat Wina berkata padanya tanpa menatap dan menikmati capuchino dari cangkirnya. "Win, aku mohon, kamu bisa mengerti. Surya- dia tidak ingin bercerai dari istrinya. Dia ingin tetap bersama dengannya, aku tak bisa memaksanya dalam perjodohan ini," ungkap Marlin dan Wina yang mendengar itu hanya tersenyum kecut.


"Bahkan putriku, tak ingin bersama putramu itu," batin Wina.


"Lalu?" tanya Wina yang entah apa maksudnya.


Marlin terdiam mendengar perkataan Wina, menatap dalam ke arahnya. Dia bukan tak mengerti, tapi apa dia akan terus memaksa, pikir Marlin.


"Apa wanita ini tak punya hati?" batin Marlin.


"Wina, aku ingin membatalkan perjodohan anak kita. Kita salah, jika melakukan ini pada mereka. Surya sudah menikah dan anakmu, juga masih sekolah dan apa dia mau di jodohkan dengan Surya?" ujar Marlin.

__ADS_1


"Segampang itu kau berkata! Marlin, aku memegang rahasia besarmu, tapi kau juga tidak tahu kebenaranku dan putriku," ujar Wina.


Marlin lagi-lagi terdiam. Wanita ini penuh tanda tanya, ucapannya penuh arti, yang dia tidak tahu. Entah apa yang akan di lakukan Wina atau apa yang tersembunyi di balik dirinya, benak Marlin bertanya-tanya.


"Apa maksudmu, Wina?"


"Baiklah. Tidak perlu berbasa-basi lagi! Kau ingin perjodohan ini batal, turuti keinginanku!" ucap Wina.


"Apa itu?" Marlin sungguh was-was saat ini, dia tahu dirinya dalam bahaya saat ini. Wina pasti akan meminta sesuatu hal yang tidak ingin di berikannya.


"Berikan ayah pada putriku!" tegas Wina.


Marlin mengerutkan dahinya, memberikan ayah. Apa maksudnya?


"Apa maksudmu, Wina? Aku sungguh tidak mengerti dengan permintaanmu. Bagaimana bisa aku memberikan ayah untuk anakmu," bantah Marlin.


"Wina! Sudahlah, jangan berputar-putar! Katakan apa maumu?" desak Marlin.


"Hg, baiklah. Akan aku katakan!" ucap Wina seraya menyeruput capuchino di tangannya.


"Iya, katakanlah!" pintah Marlin.


"Aku ingin kau mengatakan pada Dennis, jika Nilam putriku adalah putrinya juga!" ucap Wina tegas.


"Apa! Apa maksudmu? Kenapa aku harus mengatakannya begitu pada suamiku? Apa kau sudah gila?" cecar Marlin dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Pelankan suaramu. Apa kau tak melihat di sekelilingmu?" ujar Wina tanpa menatap ke mana-mana.


Marlin memalingkan wajahnya ke sekitar dan benar saja, semua mata tertuju ke arah meja mereka karena suaranya yang lantang.


"Katakan itu pada Dennis, kalau tidak jangan harap aku bisa menutup mulutku!" pintah Wina.


"Tidak! Kenapa aku harus mengatakannya? Aku akan bertengkar hebat dengan suamiku!" tolak Marlin.


"Terserah kau! Kalau tidak tunggu saja, Durya pasti akan terusir dari mansion itu!" tukas Wina.


Wina hendak pergi, namun Marlin mencegah dengan meraih lengannya.


"Tunggu! Katakan alasannya, kenapa kau ingin seperti itu?"


"Sudah ku katakan, aku ingin ayah untuk putriku," jawab Wina.


"Tidak! Tidak mungkin, hanya seperti itu. Kqu pasti punya alasan lain," pungkas Marlin.


"Baiklah. Jika kau ingin tahu," ucap Wina seraya kembali duduk di kursinya.


.


.


.

__ADS_1


.


By... By...


__ADS_2