Menjadi Kuat Seorang Diri

Menjadi Kuat Seorang Diri
Chapter 11 : Saling Menyukai


__ADS_3

Sebelum kembali Grey menyempatkan diri untuk membeli beberapa makanan bersamanya, dia membeli banyak apel serta makanan seperti steak, kebab, makanan manis dan juga makanan apapun yang dilihatnya. Itu jumlah yang bisa dihabiskan sepuluh orang dalam tiga hari.


Setelah menyimpan semuanya ke dalam cincin penyimpannya, dia membuka pintu dengan ragu, tak seperti biasanya Anabeth yang tenang telah menjatuhkannya di atas lantai dan duduk di perutnya.


"Kau terlambat pulang."


"Dungeon yang kami kunjungi cukup menyusahkan jadi agak sedikit meleset dari waktu yang ditentukan, aku minta maaf."


"Aku tidak membutuhkan permintaan minta, aku ingin bercinta sekarang."


Anabeth melepaskan helm di wajah Grey, mendorong sedikit wajahnya mendekat lalu menancapkan taring di leher Grey. Yang harus dipahami, bercinta yang dimaksud Anabeth adalah menghisap sesama darah vampir dengan penuh gairah.


Itu memberikan kepuasan padanya walaupun Grey tidak tahu perasaan tersebut. Setelah membiarkan tiga menit dia melakukannya Grey bisa merasakan seluruh darahnya telah banyak terhisap.


Anabeth kembali ke posisi duduk selagi menjilat ujung bibirnya.


"Kau minum terlalu banyak."


"Biarin, ini bayaranmu karena membuatku menunggu."


Anabeth jarang ke luar rumah atau sejujurnya hampir nyaris tidak pernah, dia hidup seperti seorang petapa dan setiap harinya Grey yang bertugas menyiapkannya makanan.


Dia vampir pemalas tapi Grey tidak pernah memikirkan hal itu merepotkan, bahkan jika dia harus menikahinya dan hidup untuk menafkahinya ia tidak akan pernah mengeluh.


Karena kejadian masa lalu telah membuat Anabeth trauma akan dunia luar, dibandingkan dirinya pengalaman hidupnya lebih sulit dan sakit, meski demikian Anabeth tidak pernah melupakan hal itu dibenaknya karena di dalam rasa sakit itu masih tersirat kebahagiaan kecil.

__ADS_1


Entah sesakit atau semenderita apapun kenangan seperti itu tidak boleh dilupakan, karenanya rasa sakit tersebut membentuk kita yang sekarang.


Grey membentuk dirinya untuk berjuang sementara Anabeth membentuk dirinya untuk melarikan diri.


Baik atau buruknya, semua orang memiliki keputusannya sendiri termasuk pilihan hidup yang sudah Anabeth tentukan. Meski demikian Anabeth berusaha merubah dirinya sekarang.


Asalkan Anabeth bahagia bagi Grey itu sudah lebih dari cukup.


"Sampai kapan kau duduk di situ, aku perlu menyiapkan makanan."


"Sampai kau membeberkan rencana kencan kita?"


"Pergi ke kota sangat tidak dianjurkan karena belum terbiasa jadi mari pergi ke tempat sepi."


"Itu fantasi yang liar."


Setelah Grey bisa berdiri dia mengeluarkan beberapa makanan yang sudah dibelinya kemudian menyusunnya di meja sebaik mungkin. Anabeth mengembungkan pipinya.


"Kukira kau akan memasaknya?"


"Aku sudah terlalu lelah untuk melakukannya, jangan khawatir semua makanannya sangat lezat."


"Apa boleh buat jika kau mengatakan itu."


Walau mengeluh sana sini, Anabeth adalah orang yang paling bersemangat.

__ADS_1


"Minta tambah lagi."


"Baik."


Tiba-tiba dia berhenti.


"Apa gadis yang terlihat makan banyak itu akan buruk di depan pria?"


Dia baru berfikir sekarang.


"Tidak juga, aku senang melihatmu makan dengan lahap dan bahagia."


"Grey?"


"Tapi jangan lupa untuk berolahraga di dalam ruangan, aku akan membuat ruangan latihan untukmu."


"Itu artinya besok kamu akan berada di rumah sepanjang hari."


"Iya."


"Aku sangat senang."


Grey hanya tersenyum kecil, walau sebagian orang menjauhi Grey, dia tak pernah memikirkannya sedikipun, yang terpenting baginya Anabeth akan selalu berada di sampingnya begitupun sebaliknya.


Kehidupan santai dengannya bukanlah sesuatu yang buruk, karena dari lubuk hatinya Grey memang menyukainya.

__ADS_1


__ADS_2