
Arina yang kembali berkumpul bersama Anabeth memeriksa keadaan tubuh gadis tersebut. Tidak seperti Grey yang mendapatkan hasil memuaskan keduanya masih tidak bisa menemukan senjata kuno tersebut namun mereka tahu bahwa tempat itu berada di tempat rahasia ke empat yang tidak bisa dimasuki begitu saja.
Bahkan bagi Arina tempat itu terasa aneh.
"Bagaimana Arina?"
"Sudah kuduga dia bukan manusia, dia hanya mesin."
"Mesin?" Grey dan Anabeth jelas kebingungan dengan istilah asing tersebut.
"Aku pernah bilang bahwa sebelum Undead King menyerang manusia memiliki teknologi maju."
"Aku jelas mendengar itu."
"Aah, dan ini adalah salah satu teknologi tersebut."
"Manusia bisa menciptakan hal seperti ini juga yah."
Perlahan gadis itu membuka matanya dan melihat ke sekitar.
"Kalian?"
"Kami menemukanmu, siapa namamu?" potong Grey.
"Nama, kurasa aku tidak memilikinya."
"Akan sulit untuk memanggilmu."
"Yos mari kita namai puripuri," atas pernyataan Anisa, entah Grey atau Anabeth tersenyum masam.
Keduanya seolah bilang, nama apaan itu?
"Hey, semua orang bisa berpendapat."
"Aku ingin menamainya Robert."
Terdengar seperti nama pria dibandingkan seorang gadis.
__ADS_1
"Kalau kau Grey?"
"Bagaimana jika Eir saja."
"Kau suka nama yang simpel yah."
Meski begitu gadis itu setuju dengan menganggukkan kepalanya.
Arina memiliki banyak pertanyaan untuknya namun dalam situasi ini, ia ingin memilih pertanyaan yang langsung ke intinya saja.
"Eir, apa kau bisa membuka ruang rahasia ke empat?"
"Ruangan itu, tentu... tapi kenapa?"
"Kami perlu senjata kuno di dalamnya untuk menyelamatkan banyak orang."
"Baiklah."
"Sekarang kita hanya harus menyelinap diantara para pasukan kesatria itu."
Grey menggendong Eir di tangannya sebelum mengikuti Arina yang memimpin jalan bersama Anabeth. Ketika dia mengangkat tangannya mereka akan berhenti dan selanjutnya kembali bergerak.
Di situasi para kesatria ini adalah kerugian, mereka telah kehilangan senjata yang mereka inginkan dan sekarang mereka mencoba mencari pelakunya.
Arisa muncul di antara dua orang yang berjaga, kemudian menepuk belakang leher mereka hingga pingsan, kemudian memberi aba-aba kembali untuk bergerak sayangnya langkah mereka telah diantisipasi oleh seorang pria berkacamata yang dengan senang memamerkan pedangnya selanjutnya mereka dikepung oleh puluhan bawahannya.
"Usaha bagus, tapi kami telah menyadari keberadaan kalian."
Grey dan pria itu saling bertatapan.
"Kukira siapa, bukannya kau berasal dari perbatasan Risol."
"Hoh, tak kusangka seorang salah satu jenderal elit sepertimu bisa mengenalku, tuan Nil Sevant."
"Aku selalu mengenal orang-orang yang mencolok."
Dia mengitari pandangan ke arah Arina.
__ADS_1
"Dasar mesum? Melihat kemana kau?"
"Bukannya kaulah yang mesum, memakai pakaian bra terbuka seperti itu."
"Ini gayaku."
"Aku juga berfikiran begitu, dia pamer dada kurasa," tambah Anabeth.
"Kau ini berpihak kemana?"
"Aku hanya berpendapat."
Pria kesatria itu mendorong kacamatanya, dia memiliki wajah tampan dengan rambut pirang pendek ikal.
"Kami tidak akan menyerangmu, serahkan senjata yang kau curi."
"Maaf saja tapi tidak akan, benar Grey."
"Aah, kami akan menggunakannya di tempat lain bukan untuk ibukota."
"Heh, kau mau mengkhianati tempat kelahiranmu."
"Aku lebih suka hanya menyelamatkan kota perbatasan."
"Terserahlah, aku hanya harus merebutnya dari kalian."
Grey memberikan Eir pada Anabeth dan meminta keduanya pergi. Sementara Arina akan membantu untuk mengalahkan kesatria ini.
"Pahami posisi kalian, kalian hanya berdua, kalian kalah jumlah."
"Nil biar aku katakan, kami diperbatasan sudah terbiasa melawan jumlah musuh yang jauh lebih banyak dibandingkan sekarang, kau tidak apa-apanya bagiku."
"Jatuhkan mereka, tapi jangan dibunuh."
"Baik."
Arina bergumam.
__ADS_1
"Orang ini baik atau apa, dia sepertinya tidak berniat mengejar Anabeth ataupun membunuh kita."
"Orang ini sulit ditebak lebih tepatnya."