
Masalah makanan sudah bisa diatasi berkat kemampuan Arina, sekarang para kesatria mampu memberikan buah-buahan, sayuran dan sedikit daging ke dua kota lainnya tanpa mengobarkan ibukota, kini yang tersisa hanya memperkuat sistem pertahanan saja.
Grey bangun dari tempat tidurnya dengan dua wanita cantik di sebelahnya. Flarisa dan juga Anabeth. Ia bangun secara perlahan agar tidak membangunkan mereka sebelum akhirnya bisa keluar dari kamarnya.
"Mereka sudah bekerja keras untuk membangun ibukota kembali, sebaiknya mereka tidur sedikit lebih lama," katanya dalam hati sebelum berjalan ke ruangan khusus pribadi Arina.
Ruang khusus dimaksud hanyalah ruangan bekerja miliknya.
Dia tampak berantakan dengan kertas dan rambut acak-acakan.
"Ugh apa sudah pagi?"
"Seperti itulah."
Arina adalah orang yang sangat diandalkan oleh Grey, jika dia memerlukan saran ataupun pendapat Arina adalah orang yang tepat.
Setelah dia merapikan rambutnya dia duduk berhadapan, Eir muncul dengan teh yang dia seduh untuk keduanya. Di jam segini Via selalu berada di taman bunga karenanya mereka tidak terlalu mengkhawatirkannya.
"Apa kau membutuhkan hal lain lagi?"
__ADS_1
"Tidak juga, aku hanya berpikir apa kita harus menggunakan senjata seperti ini."
Grey mengeluarkan senapan laras panjang.
"Aku lupa soal itu, jika aku melihatnya itu memang senjata paling bagus... kita bisa memberikan peralatan itu pada kesatria wanita."
"Jadi kau tidak masalah jika benda ini digunakan?"
"Mau bagaimana lagi? Itulah yang dibutuhkan untuk kita saat ini, yaitu bertahan dari serangan apapun yang datang."
Grey juga merasa demikian.
Pertama yang harus mereka lakukan adalah mengambil pertambangan yang dikuasai undead, di sana tempat yang bisa digunakan untuk membuat bubuk mesiu, keberadaanya sangat diperlukan.
Bersama pasukan kesatria wanita mereka telah mengepung area tersebut, Via berubah menjadi pedang dan kini berada di tangan Grey.
Arina dan Sartina mengangguk ke arahnya.
"Mari terobos."
__ADS_1
"Baik."
Mereka membunyikan genderang peperangan dan langsung melesat ke arah undead yang seutuhnya merupakan tengkorak. Karena tidak siap mereka langsung dihabisi dengan mudah.
Para kesatria yang mampu menggunakan sihir suci segera menyucikan mereka agar tidak bisa hidup kembali sebelum mengikuti yang lainnya masuk ke dalam pertambangan.
Lantainya sendiri hanya ada lima lantai, dan setiap lantai cukuplah kuat. Beberapa tengkorak tampak mondar-mandir dengan pekerjaan mereka, ada yang mendorong gerobak ataupun menggali, ada juga yang mengawasi sebagai penjaga, sekilas mereka seperti manusia pada umumnya namun tentu saja mereka hanya mayat hidup tidak lebih dan lebih baik dimusnahkan ketika dapat kesempatan.
Grey menebas beberapa tengkorak di depannya hingga berserakan, dia bisa menggunakan sihir suci sendiri karenanya pergerakannya jauh lebih cepat dibandingkan para kesatria.
Arina menembakan bola api dan Sartina menebas mereka sambil berlari, puluhan tengkorak tak berkutik saat mereka dilenyapkan, beberapa mampu menyerang balik menggunakan senjata mereka namun tidak memberikan luka fatal bagi siapapun.
Diam-diam Grey tampak senang melihat kemampuan mereka yang semakin berkembang. Mereka melanjutkan perjalanan ke lantai berikutnya melawan musuh yang sama hingga para tengkorak membangun dirinya seperti sebuah blokade untuk menahan gempuran pasukan Grey.
Cukup lama bagi mereka menembusnya namun mereka tetap berhasil melakukannya.
Via berubah menjadi pedang yang lebih besar dan dengan tebasan horizontal dia menyapu bersih tengkorak yang baru tiba. Semuanya berjalan lancar bahkan sampai ke lantai terakhir.
Ditambang ini juga penuh dengan batuan kristal yang cukup menguntungkan untuk ke depannya.
__ADS_1