
Pagi berikutnya Grey, Anabeth dan juga Arina duduk di ruangan pertemuan untuk menyambut kedatangan ratu, walau belum pulih seutuhnya dikatakan bahwa ia bisa kembali berjalan berkat Arina.
Saat ratu muncul, ketiganya berdiri dari sofa, sebelumnya Grey tidak terlalu fokus dengan penampilannya tapi sekarang ia mulai menyadari bahwa ratu itu memiliki wajah cantik dengan rambut pirang yang diikat sanggul ke atas. Dia berumur di pertengahan dua puluhan dengan mata biru serta gaun kebesarannya, di kepalanya mencuat mahkota berhiaskan berlian.
Walau penampilannya pucat aura seperti itu tidak hilang begitu saja. Dia membungkuk untuk mengucapkan terima kasih dan itu terasa begitu canggung.
"Tolong angkat kepala Anda."
"Tapi.."
"Tidak apa, kami melakukan ini karena keinginan sendiri."
Atas pernyataan Grey, ratu tersebut mulai mengangkat kepalanya dengan senyuman di wajahnya sebelum mempersilahkan ketiganya duduk bersama, dia memperkenalkan dirinya dengan nama Flarisa Vardes. Sebagai tanggapan ketiganya memperkenalkan diri juga. Hanya Sartina yang berada di belakang ratu seperti kesatria pada umumnya untuk memperhatikan.
"Aku sangat senang bahwa kalian mau membantu kerajaanku, seperti yang semua orang tahu kami benar-benar kekurangan sumber daya manusia terlebih kami juga sedang menghadapi peperangan yang terjadi sebentar lagi, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kami lakukan."
__ADS_1
Perkataannya dipenuhi penyesalan, rasa sedih dan juga keputusasaan. Grey bisa melihat hal itu dengan baik.
Arina dan Anabeth merasa demikian.
"Yap, dibanding membela kerajaan kami yang tidak peduli dengan orang-orang diperbatasan kurasa memulai hidup baik di tempat ini bukan hal buruk," kata Anabeth yang mendapatkan anggukan kecil Grey sebelum dia melanjutkan.
"Aku sudah memikirkan banyak hal semalaman ini, apa boleh aku mengambil alih untuk sementara waktu?"
"Sementara waktu? Aku pikir tak masalah untuk mengambil selamanya, kami berniat untuk menjadikanmu raja."
"Tuan Grey yakin."
"Iya, aku hanya ingin menjadi petualang atas kemudian mengalahkan Undead King, hanya itu."
Walau sedikit ragu Flarisa Vardes mengangguk kecil untuk menyetujuinya. Dan rencana Grey adalah sebagai berikut.
__ADS_1
Ia meminta beberapa gadis muda untuk belajar penyembuhan serta obat-obatan pada Arina, ia juga melibatkan Anabeth di dalamnya agar ia terbebas dengan traumanya.
Untuk para kesatria wanita akan dilatih sedikit oleh Grey dalam menghadapi serangan yang akan terjadi, seperti cara bertarung memasang jebakan dan strategi.
Bagaimanapun mereka harus dilatih dari dasar.
Walau Grey ingin segera mendapatkan senjata kuno itu, dia tahu bahwa memprioritaskan nyawa penduduk kerajaan ini lebih penting dari apapun.
Setelah tiga hari berlalu ujian mereka telah datang, kumpulan serigala undead sebesar 4 meter bermunculan. Itu benar-benar ukuran raksasa bagi seekor serigala.
"Semuanya tarik panah kalian, dan tembak."
Pernyataan Grey membuat orang-orang yang berada di atas tembok mulai menembakan panah mereka, itu menghujani setiap serigala yang datang hingga mereka mulai menggeliat dan hancur, panah ini telah diberikan mantra suci karena Itulah meski mereka hanya seonggok daging busuk mereka tetap saja akan mati.
Kemudian disusul oleh pasukan para tengkorak, dari sini Grey menarik pedangnya ke atas dan para kesatria dibelakangnya turut mengikuti. Tidak benar bahwa semuanya wanita ada lima persen dari mereka pria juga.
__ADS_1
Dan ini adalah pertempuran yang mereka tidak boleh kalah.