Menjadi Kuat Seorang Diri

Menjadi Kuat Seorang Diri
Chapter 46 : Pertarungan Berikutnya


__ADS_3

Matahari mulai mengintip dari balik gunung saat Grey duduk di atas benteng. Dia sudah berjaga semalaman dan akhirnya pagi telah tiba.


Semua orang telah bersiap untuk melanjutkan perjalanan namun, sebelum itu mereka memutuskan untuk menyiapkan makanan bagi semua orang.


Grey tidak ikut dalam memasak dan hanya duduk di pinggiran selagi menunggu semuanya selesai, Via duduk di bahunya selagi memakan roti. Dia terlalu lapar untuk menunggu semua orang selesai.


"Kupikir aku melihat lebah barusan."


"Lebah kah, bukannya mereka selalu menghasilkan cairan manis yang disebut madu," ucap Via bersemangat.


"Itu benar, bagaimana kalau kita mencarinya?"


"Itu ide bagus."


Grey berdiri dan kemudian pergi tanpa sepengetahuan siapapun untuk berjalan masuk ke dalam hutan, ia melihat satu lebah ke arah sini dan jelas bahwa sarangnya tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Ia memperhatikan setiap pohon yang ia lewati. Sejauh ini tidak ada tanda-tanda bahwa sarang lebah berada di sana.


"Lebih sulit dari yang kubayangkan," ucap Grey kembali menyusuri lebih dalam hingga dia muncul di depan aliran sungai jernih.


Via yang lebih dulu menyadarinya.


"Lihat itu Grey, di sana."


"Benar sekali."

__ADS_1


Di seberang sungai ada sebuah pohon dan di lubang batangnya tampak kumpulan lebah yang bergantian membangun sarang.


Via terbang untuk memperhatikan dari jauh saat Grey melintasi sungai dan tiba disarang lebah, dia dengan hati-hati memisahkan sarangnya agar ratu lebah tidak terbawa dan hanya membawa sarangnya secukupnya.


Dia bahkan menggunakan asap untuk mengusir mereka walaupun masih ada beberapa lebah yang masih menyerangnya.


"Ternyata tuan bisa menggunakan sihir api."


"Cuma dasarnya saja."


"Begitu."


Grey memeras sarang lebah, membiarkan cairan manis itu jatuh ke dalam toples yang sebelumnya telah disediakannya.


Via mengambil beberapa sendok untuk dirinya hingga perutnya membuncit.


"Wah, enak sekali... apalagi jika ditambah roti perutku sangat kenyang."


"Aku bisa melihatnya."


Grey memasukan toples madu ke dalam cincin penyimpannya, sementara dia membawa Via dengan membiarkannya berbaring di telapak tangannya.


Saat dia kembali semua petualang telah mengambil barisan untuk mengantri di mana kelompok Irenalah yang bertugas membagikan makanan, para tahanan juga mendapatkan jatah makanan mereka.


"Kau sebenarnya dari mana saja? Ambillah," ucap Irena demikian.

__ADS_1


"Aku hanya mengawasi sebentar, terima kasih."


Grey mengambil tempat bersama yang lainnya dan memakannya dengan tenang. Setelah ini masih ada jenderal lainnya yang harus mereka kalahkan dan kemungkinan besar bahkan jika mereka tidak bergerak musuh akan datang sendirinya.


Mengingat hal itu, pada siang hari mereka mulai mempersiapkan semuanya, mereka tidak jadi pergi melainkan menunggu beberapa hari atas saran Grey.


Di hari ketiga para pasukan musuh telah tiba, dipimpin jenderal bernama Abel dia mengarahkan 200 pasukan untuk menyerang tempat tersebut.


"Mereka benar-benar datang penuh persiapan."


"Itu memang benar."


Teriakan musuh menggema.


"Kalian akan membayar karena berani menentang kerajaan Neira termasuk raja baru, semuanya tarik senjata kalian dan serang."


Bersamaan itu teriakan perang bergemuruh.


Mereka berlari tanpa ragu dan dengan mudah mereka jatuh ke dalam tanah akibat lubang yang dibuat melintang. Ada semacam cairan di dalam sana yang membuat mereka buru-buru untuk keluar.


"Keluar, ini cairan yang mudah terbakar."


Sebuah panah api dijatuhkan dari atas langit dan itu tepat menancap pada lubang hingga bersamaan itu api menyembur ke udara membentuk dirinya layaknya seperti sebuah tembok api.


Orang-orang yang tidak bisa melarikan diri terbakar hidup-hidup dan yang masih hidup menerima hujan panah secara bertubi-tubi.

__ADS_1


__ADS_2