Menjadi Kuat Seorang Diri

Menjadi Kuat Seorang Diri
Chapter 19 : Bertemu Penyihir


__ADS_3

Di hari berikutnya Grey dan Anabeth berdiri di depan rumah untuk memulai perjalanan mereka.


"Maaf Anabeth memaksamu harus keluar."


Dia menggelengkan kepalanya kemudian melanjutkan.


"Aku lebih baik memaksakan diriku pergi dibandingkan ditinggalkan sendirian di sini, tanpamu rumah akan jauh lebih sepi."


"Bukannya perkataanmu sangat terdengar dalam."


"Jangan bercanda saat aku berbicara serius."


"Maaf, maaf, mari pergi."


"Iya."


Anabeth menyelimuti dirinya dengan mantel bertudung sebelum mengikuti Grey dari belakang. Mereka beberapa kali berhenti untuk beristirahat lalu mendaki kembali. Dari atas gunung itu mereka bisa melihat bagaimana pemandangan dari pepohonan hijau dan sungai tampak mempesona.


"Whoa, indah sekali."


"Yap."

__ADS_1


Semenjak jumlah manusia berkurang lahan hijau semakin bertambah kendati demikian tetap saja itu bukan sesuatu yang bagus jika pada akhirnya manusia punah.


"Jadi Grey sebenarnya kita akan pergi ke mana? Kita sudah melewati batas kerajaan Neira.


"Suatu hari aku pernah berbicara dengan seorang pedagang, katanya jauh di luar kerajaan kita tepatnya di bawah jurang terjal ada seorang penyihir yang memiliki berbagai pengetahuan di dunia ini, aku yakin jika kita bertemu dengannya kita bisa menanyakan sesuatu tentang gelombang.. menurut mereka kita hanya harus pergi ke barat."


"Mungkin itu hanya sebuah rumor belaka."


"Tak masalah, paling tidak aku ingin membuktikannya, selain kerajaan kita tidak ada manusia lagi yang hidup di luar perbatasan namun aku yakin bahwa ada banyak orang yang masih hidup di sana, memangnya sejak kapan bahwa kerajaan kita yang masih tersisa di dunia ini?"


Anabeth akhirnya mengerti dengan apa yang ingin dikatakan Grey.


Bagaimana kalau sebenarnya ada manusia lain yang sama-sama melawan Undead King? Mungkin saja mereka memiliki pengetahuan lebih baik hingga bisa bertahan dari gempuran para Undead ataupun gelombang.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, sesekali harus melawan makhluk buas, kehujanan dan bahkan berakhir tanpa bergerak sedikitpun.


Setelah beberapa hari, mereka akhirnya sampai di sebuah gunung batu yang terbagi menjadi dua bagian, di antara keduanya merupakan jalan kosong yang ketika mereka terus sisir ada sebuah danau besar di ujungnya sementara di tengahnya ada pulau kecil dengan rumah sederhana berdiri di atasnya.


"Jadi di sini tempatnya."


"Kita perlu kesebrang, biar aku saja," Anabeth memunculkan sayap kelelawar di punggungnya lalu membawa Grey untuk terbang dan mendarat di depan rumah tersebut.

__ADS_1


Saat dia mengetuk pintunya tidak ada balasan dari dalam sana.


"Apa orangnya tidak ada," ucap Anabeth selagi mencoba mengintip lewat jendela.


"Aku pikir orangnya sedang keluar."


"Apa ada yang bisa aku bantu untuk kalian berdua?" mendengar suara yang tiba-tiba muncul, keduanya berbalik dan mencari asal suara tersebut.


"Apa aku salah dengar?"


"Tidak, aku juga mendengar suara barusan," balas Grey.


Tak lama seseorang melompat dari dalam air, dibanding seseorang lebih baik disebut sebagai putri duyung dimana dia memiliki kaki sirip sementara bagian atas adalah manusia.


Ia memiliki rambut pirang bergelombang, Anabeth buru-buru menutupi wajah Grey.


"Jangan lihat Grey dia telanjang."


"Ara, aku pasti meninggalkannya di dasar lagi, sebentar aku akan kembali lagi."


Putri duyung itu masuk kembali lalu keluar dengan bra serta celana pendek, berbeda dari sebelumnya dia kini memiliki kaki dan seluruh penampilannya telah benar-benar berubah menjadi manusia.

__ADS_1


"Namaku Arina, aku seorang penyihir satu-satunya di sini," dia dengan ramah memperkenalkan dirinya demikian.


__ADS_2