Menjadi Kuat Seorang Diri

Menjadi Kuat Seorang Diri
Chapter 32 : Yang Dicari


__ADS_3

Grey kembali bertemu dengan yang lainnya, dia sudah menyuruh mereka untuk pergi duluan namun mereka sepertinya memilih untuk menunggunya untuk pergi ke tempat persembunyian terakhir.


"Kalian benar-benar."


"Tak asyik jika pemimpin dari kelompok ini tidak ada," balas Arina.


"Aku bukan pemimpinnya," bantahan Grey sama sekali tak didengar, Anabeth juga memilih setuju dengan Arina.


Adapun untuk Eir hanya memiringkan kepalanya.


Ada banyak masalah yang Grey dapatkan tapi dia memilih untuk menyimpannya nanti, mereka telah memasuki lorong saluran bawah kota dan melihat sebuah pintu besi yang terlihat tidak bisa dibuka.


Paling tidak itu berlaku bagi mereka kecuali Eir, dia menyentuh dinding dan sesuatu seperti tombol berderet muncul, dia menekannya dengan cepat dan dalam sekejap gerbang besi itu terbuka Yanga mana menghasilkan uap putih di sekelilingnya.


Di dalamnya tidak ada apapun kecuali sebuah senapan yang terlihat masih utuh, beratnya sekitar satu ton dengan laras yang panjang.


"Jadi ini senjata kunonya?"


"Benar, kita bisa menggunakannya dengan cara memasukan amunisi ini."


Arina sudah mengambil peluru yang sangat besar. Peluru itu bisa menyerap energi sihir karena itulah sangat berbahaya.


"Hanya ada satu?" ucap Anabeth.

__ADS_1


"Itu tidak masalah aku bisa membuat peluru yang lainnya dan kurasa Eir bisa membawa senjata itu untuk kita."


"Bagiku ini masih terasa ringan," katanya demikian.


Selama ini Grey selalu berkerja sendiri dan sekarang dia sedikit senang bahwa bisa mengadakan beberapa orang untuk membantunya.


Mereka kembali ke kerajaan Vardes dan hanya selang beberapa jam kedatangan mereka, Grey sudah mengumpulkan semua orang dari ordo kesatria, ratu, dan juga tentu rekannya.


Ini sudah pagi tapi tidak benar-benar pagi, hanya beberapa menit sampai matahari terbit lebih tepatnya.


"Maaf menggangu kalian lebih awal."


"Tidak masalah, mungkinkah sebenarnya tuan Grey ingin melihat kami berpakaian piyama."


Grey menjelaskan soal kerajaan Neira, soal pasukan kesatria yang dia bebaskan serta apa yang ia ingin pilih.


"Jadi begitu, mengandalkan senjata untuk menghancurkan bulan merah masih belum cukup," ucap Flarisa.


"Benar, raja itu akan mengorbankan orang-orang diperbatasan karena itulah aku tidak bisa membiarkannya.. kalau tidak keberatan maukah Anda mengambil mereka semua sebagai penduduk baru di kerajaan ini."


"Jika itu bisa membantu mereka, aku sama sekali tidak keberatan, hanya saja."


Grey memiringkan kepalanya namun Arina sudah tahu apa yang terjadi saat ini jadi dia yang memotong pembicaraan.

__ADS_1


"Mengendalikan ratu dengan memberikan perintah adalah sebuah kejahatan, semua orang akan tahu bahwa pemikiran itu datang darimu bukan ratu, maka itu akan terjadi dimana seseorang tidak akan mempercayai kerajaan lagi dan paling buruk akan menciptakan kudeta."


"Bisa seperti itu?"


"Tentu saja, lagipula kota ini sudah terpuruk jika seseorang mengendalikan pemimpin yang mereka akui bagaimana perasaan mereka."


"Soal itu?"


"Tapi tentu ada jalan yang bisa kau pilih, satu-satunya yang harus kau lakukan adalah menikahi Ratu Flarisa dan menjadi raja."


Grey tampak terkejut dengan pernyataan seperti itu, dia bolak-balik antara Anabeth juga.


"Jika itu dengan tuan Grey, aku tidak keberatan... tuan Grey juga bisa mengambil nona Anabeth sebagai selir."


Anabeth terbatuk.


"Ugh... ini pilihan sulit tapi jika Grey memutuskan hal itu aku tidak keberatan berbagi dengan Flarisa."


"Eh, tunggu... sejak kapan kau tahu bahwa aku menyukaimu?"


Semua orang wanita dari kesatria kerajaan ini mendesah pelan.


"Sekilas juga sudah jelas bukan."

__ADS_1


Perkataan itu telah menjatuhkan Grey, dia benar-benar polos.


__ADS_2