
Selama musim dingin semua orang membantu rekontruksi kota di wilayah Astrea yang nantinya menjadi rumah bagi putri duyung. Sementara itu mereka akan tinggal di Ibukota Vardes dan direncanakan mereka akan pindah saat salju mencair.
"Ini tempat sempurna, tak kusangka ada danau di dekat kota yang akan kita pulihkan," perkataan itu datang dari Arina yang tersenyum lebar.
Via yang berada di bahu Grey membalas.
"Walaupun sekarang danaunya membeku, apa kalian putri duyung tidak bisa jauh dari air?"
"Singkatnya terkadang kami ingin berenang, sudah bawaan kami untuk menyelam."
Grey memotong.
"Kita tidak bisa melakukan apapun tentang danaunya, mari kembali."
"Sepertinya begitu."
Mereka tidak bisa memastikan apa danaunya aman atau tidak, yang jelas sampai es mencair barulah mereka akan tahu, wilayah di tempat ini sudah terbengkalai karena itulah terkadang banyak monster yang menetap.
Grey membantu untuk memperbaiki dinding yang hancur dan Arina menggunakan sihirnya untuk membereskan puing-puing yang hancur. Pekerjaan mereka terus berlanjut beberapa bulan ke depan, dan saat salju mencair, bersama para putri duyung mereka pergi ke danau yang sebelumnya.
"Apa kami harus mengenakan ini? Bra seperti ini terasa kurang nyaman."
"Maaf Oliviera dan kalian semua, menurut Grey sebaiknya kalian tidak telanjang seutuhnya. Bra harus kalian pakai... seiring waktu kalian akan terbiasa."
__ADS_1
"Jika kamu bilang begitu apa boleh buat."
Hal itu normalnya sudah biasa dilakukan, para putri duyung jelas tidak memiliki apa yang disebut rasa malu.
Grey hanya menjantuhkan bahunya lemas saat mereka mulai melompat ke dalam air danau.
"Mereka ternyata sangat menghormatimu."
"Tentu saja, jika harus dikatakan aku mirip seperti leluhur mereka."
"Aku bisa mengerti itu."
"Kurasa aku juga akan berenang."
Arina melepaskan pakaiannya lalu melompat ke atas, kakinya berubah jadi sirip saat dia hendak menyentuh permukaan air hingga memercikan riak-riak air ke atas.
Grey bisa melihat bagaimana para putri duyung yang yang saling menyipratkan air ke wajah mereka.
"Ini pemandangan bagus," gumamnya demikian.
Setelah ini yang akan menunggu Grey hanyalah sebuah peperangan.
Di ibukota Vardes di dalam ruangan rapat sebuah peta raksasa telah dibentangkan seukuran meja.
__ADS_1
Arina, Grey dan juga Sartina berada di ruangan itu untuk membahas tentang taktik perang. Berhubung Flarisa dan Anabeth sedang hamil Grey memilih untuk tidak melibatkan mereka soal peperangan.
Keseluruhan rencana hanya akan dilakukan hanya dengan mereka bertiga.
"Undead King benar-benar serius sekarang, mereka mengincar kita dari segala arah."
"Yah, itu cukup sulit.... kita masih kalah jumlah, terlebih yang akan tiba adalah pasukan ini."
Arina menunjuk ke daerah tebing berbatu di atas peta.
"Jika tempat ini, kita bisa atasi hanya dengan sedikit orang."
"Rencanamu Grey?"
"Mari ledakan tebingnya saat mereka melintas."
Dan ketiganya pergi melalui sihir teleportasi milik Arina, di atas tebing mereka bisa melihat bagaimana pasukan tengkorak berdatangan, pemimpin mereka adalah seorang bernama Dulahan yang memegangi kepala miliknya di ketiak serta menaiki kuda tanpa kepala.
Ini sudah sore hari semenjak mereka menyiapkan peledaknya, tepat saat Grey menekan tombol rentetan ledakan menggema.
Para pasukan musuh yang menengadah ke atas mulai tertimbun satu persatu dan hancur berkeping-keping.
"Berhasilkah?" ucap Sartina namun seperti mengibarkan bendera kematian sendiri, Dulahan yang tertimbun menyeruak dari reruntuhan kemudian melompat terbang ke atas di mana mereka bertiga berada.
__ADS_1
"Sungguh kalian pengecut, jika berani lawan diriku satu persatu!" teriaknya demikian.