Menjadi Kuat Seorang Diri

Menjadi Kuat Seorang Diri
Chapter 59 : Melawan Harpy


__ADS_3

Irena menebaskan kedua pedangnya di udara untuk mengirimkan tebasan cahaya berbentuk bulan sabit.


Mudah bagi Harpy untuk menghindarinya terlebih saat dia bisa terbang. Dalam segi arena pohon-pohon ini cukup baik menyembunyikan dirinya.


Beberapa bulu burung melesat ke tubuh Irena dan lalu meledakan dirinya, dia sedikit berlutut untuk menjaga posisinya tetap berdiri. Bersamaan itu Harpy melesat padanya, dia tidak memiliki kaki manusia melainkan kaki burung dengan cakar setajam pedang.


Jika itu mengenai siapapun, itu akan mudah membunuhnya.


Irena mengayunkan pedangnya untuk menangkis serangan tersebut hingga terdengar suara memekikkan telinga yang bercampur dengan kilatan menyilaukan, saat Irena membalas dia bergerak masuk ke dalam pepohonan. Harpy muncul di belakangnya untuk melukai punggungnya.


Darah menyembur ke udara dan ketika Irena menyerang untuk memberikan balasan kembali sosok Harpy menghilang kembali.


Hal itu terjadi berulang kali hingga ia tersengal-sengal dengan keringat membasahi wajahnya.


"Kuakui kau sangat kuat, jika orang lain mereka pasti akan mati sejak tadi," ucap Harpy.


"Jangan remehkan petualang," balasnya demikian saat sebuah bulu burung kembali terarah padanya lalu meledakannya hingga dia terpental jauh ke atas.


"Aaaaaargh."


Teriakan menggema ke sekitar hutan, meski begitu Irena tak ingin menyerah dan dia masih berdiri dengan dua pedang di tangannya.


"Keras kepala, karena inilah aku membenci manusia, kalian makhluk lemah tapi terus-menerus berjuang... benar-benar menyusahkan."


Irena tersenyum puas.


"Inilah yang kami banggakan sebagai manusia, perasaan pantang menyerah."


"Aku ingin lihat bagaimana keputusasaanmu saat aku mampu mengalahkanmu."

__ADS_1


Harpy kembali menyerang, berbeda dari sebelumnya pergerakannya mampu diikuti oleh Irena, dia mampu memberikan goresan di sekujur tubuhnya hingga Harpy harus berpikir dua kali untuk menyerangnya.


"Kau?"


"Jangan remehkan manusia."


Satu tebasan membuat tubuh Harpy terbang ke belakang selagi menghancurkan beberapa pohon di belakangnya.


Jika pohon-pohon ini menghalangi Irena hanya harus menebang semuanya habis, dia memikirkan hal demikian.


Irena mengayun pedangnya yang mana memotong seluruh pepohonan di dekatnya hingga semuanya tumbang dan menyisakan dirinya serta area luas di sekelilingnya.


"Kau sudah gila."


Irena memperhatikan bencana yang dibuatnya dan dia bisa melihat beberapa makhluk seperti Harpy lainnya muncul.


"Pantas saja kalian terlalu cepat, ternyata jumlah kalian cukup banyak."


Para Harpy bergerak maju namun di saat


mereka mendekati Irena, mereka tersambar petir dari atas langit membuat mereka terpanggang gosong.


"Burung panggang memang yang terbaik."


"Bagaimana ada petir? Padahal hari cerah."


Harpy mengalihkan pandangannya ke langit dimana tampak sebuah lingkaran sihir tercipta di sana. Itu membuatnya terkejut bagaimana ukurannya cukup besar.


"Saat kalian terus menyerangku, aku telah mempersiapkan semuanya."

__ADS_1


"Ini tidak sepadan."


"Kau mau lari, tak akan kubiarkan."


Harpy segera terbang menjauh di udara namun sama seperti rekannya yang lain petir menyambarnya hingga dia jatuh menukik tanah.


"Graaaah."


Dia mati untuk selamanya.


Menyeret dirinya kembali ke pasukannya berada, Irena bisa melihat bahwa pertarungan mereka telah selesai juga.


Di atas tumpukan mayat itu dia menyadari bahwa pasukannya sudah menang, mereka bergerak untuk mengerumuninya.


"Komandan?"


"Kita menang."


Teriakan suka cita menggema ke udara.


"Hari sudah gelap, mari buat tenda untuk beristirahat beberapa hari."


"Baik."


Saat Irena berjalan, ia tiba-tiba kehilangan keseimbangannya, Eva yang menyadari itu memberikan punggungnya untuk menahannya agar tidak jatuh.


"Irena kau sudah kelelahan, biar aku menggendongmu."


"Itu akan memalukan, papah aku saja."

__ADS_1


"Dasar pemalu."


__ADS_2