
Mereka melewati tumpukan salju yang dingin, dan tinggi, sesekali pijakan Arina amblas ke bawah dan Grey sebaik mungkin membantunya untuk keluar.
Berjalan jauh dalam cuaca seperti ini sangatlah menyulitkan, kereta tidak bisa masuk dan perjalanan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.
Setiap mereka menemukan reruntuhan terbengkalai mereka akan tinggal di sana, dan tak jarang mereka juga tidur di dalam lubang pohon. Tempat yang mereka tuju sangatlah terpencil dan konon wilayah tersebut masih dihuni manusia yang masih hidup.
Itu merupakan informasi baru yang didengar Grey dari Arina.
Di tengah area kosong Arina telah melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam tong kaleng yang telah diisi oleh air hangat.
Sementara dia bersantai, Grey sedang menyerut kayu panjang di tangannya, Via tampak menunggu dengan duduk di bahunya sementara Eir mencoba meniru pekerjaan Grey.
"Apa kita sedang membuat tombak?"
"Benar, ada aliran sungai di sana setelah Arina mandi mari tangkap sesuatu dengan tombak ini."
"Bagiku terlihat sangat primitif tapi pantas untuk disimpan di dataku."
Bagi Grey dia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Eir.
Dengan tombaknya Grey mendapatkan beberapa ikan yang mereka bisa panggang selagi menghangatkan diri di depan api unggun.
"Mandi air hangat dan makan ikan adalah hal yang menakjubkan."
"Kau bisa mengatakan hal itu di udara sedingin ini."
"Aku juga merasa kagum," tambah Eir.
__ADS_1
"Berisik, aku tidak butuh komentar kalian."
Grey hanya menjatuhkan bahunya lemas.
Setelah sebentar beristirahat mereka akhirnya melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah pelabuhan kecil dengan pemandangan beberapa bangunan yang menawan, semuanya terlihat sederhana di mana orang-orang berlalu lalang menjejalkan barang dagangan mereka yang merupakan hasil laut.
"Untuk kota kecil, di sini sangat ramai."
"Dari yang kudengar ada beberapa desa lagi di dekat sini, sepertinya semua orang memutuskan berjualan di tempat ini juga."
Singkat tempat ini adalah wilayah tanpa raja ataupun pemimpin.
Grey membalas dengan anggukan sebelum mereka memasuki bar yang disarankan oleh orang-orang yang mereka temui di sepanjang jalan.
"Kami ingin menyewa kapal," perkataan Grey dibalas suara tertawa semua orang.
"Hey kalian, tidak ada orang yang berpergian saat musim dingin. Sebaiknya kalian urungkan saja untuk melintasi lautan."
Semua orang mengibaskan tangannya.
"Kapal-kapal besar seperti itu, tidak ada di tempat seperti ini... kalian pergilah."
Saat semua orang serempak mengatakan penolakan, satu anak laki-laki berkata selagi duduk di kursi, ia mengenakan topi serta kemeja yang ditutup rompi lusuh.
"Aku bisa membantu kalian, tapi tentu aku ingin dibayar... namaku Erik."
"Dasar bocah nakal, lagi-lagi kau ingin melakukan hal itu," ucap salah satu pengunjung bar.
__ADS_1
"Tak masalah bukan, mereka adalah tamu kita seharusnya memperlakukan mereka dengan baik."
"Cih, terserah kau saja."
Sosok Erik melompat ke depan lalu berjalan dan berkata setelah melewati kelompok Grey.
"Kalian kenapa diam saja? Ikuti aku."
"Apa bocah ini bisa dipercaya?"
"Dataku mengatakan itu mungkin saja."
"Mari coba saja dulu," ucap Grey demikian.
Mereka diajak sedikit lebih jauh dari tempat sebelumnya hingga akhirnya mereka memasuki sebuah celah-celah dari sebuah tebing di sisi laut dan menemukan sebuah kapal raksasa di dalamnya.
Wajah Arina menunjukkan wajah ketertarikan.
"Hoh, ada kapal sebesar itu di sini, benar-benar menarik."
"Kakekku yang membuatnya... sayangnya karena dia terlalu bersemangat dia melupakan ukurannya dan hasilnya kapal ini malah terjebak di sini... ada apa, kalian tidak perlu menahan tawa."
"Kami tidak tertawa berkat kecerobohan kakekmu kurasa kami mempunyai kesempatan untuk bisa pergi dari sini."
"Aku turut berduka untuk kakekmu."
"Oi, jangan perlakuan kakekku seperti orang yang sudah mati, dia di sana sedang mengecat tiang."
__ADS_1
"Ugh, ternyata dia masih hidup."
"Kupikir barusan adegan sedih," tambah Via demikian.