
Anabeth dan Flarisa sedang mengadakan rapat di istana dengan hanya ditemani kertas yang di dalamnya berisi kertas-kertas ide mereka.
Putri mereka tampak sedang bermain di perkarangan istana di mana Rui mengejar-ngejar Ria dengan ulat di tangannya.
"Jangan dekati aku, itu menjijikan."
"Apa yang menjijikan, bukannya ini imut?"
"Imut dari mananya coba?"
Anabeth berfikir selagi menempatkan tangannya di dagu.
"Mari buat panggung di tengah kota dan biarkan orang-orang yang pandai bermusik untuk berada di sana."
"Itu kedengaran bagus tapi hanya musik saja kelihatannya kurang meriah."
"Bagaimana tambahkan para gadis yang bernyanyi di sana sambil menari?"
"Kelihatannya bagus dan jumlah gadis di sana harus sekitar 100 orang."
"Haha itu memang luar biasa, para gadis bernyanyi dengan kostum serupa dan menari dengan indahnya."
"Hmm.. untuk pengganti hiburan sudah selesai, sekarang untuk kios makanan, apa sebaiknya kita memutuskan semua orang berjualan seperti apa yang mereka inginkan."
"Kurasa itu biasa," ucap Anabeth hingga giliran Flarisa yang sejenak untuk memikirkannya.
"Kita buat saja satu kios kerajaan yang diisi makanan ekstrim, aku pernah mendengar ada resep yang bisa dibuat dari serangga."
"Kamu serius?"
"Hmm.. aku pikir aku mengenal orang yang mampu membuatnya, yah kejadiannya sangat lama aku harap ia mau membantu kita."
Makanan dari serangga memang sesuatu yang jarang dibuat, tapi itu pantas dilakukan. Anabeth tersenyum senang lalu menyeret Flarisa ke luar istana.
"Tunggu apa lagi, mari temui orang tersebut."
"Kita tidak usah terburu-buru."
Mereka sampai di sebuah rumah sederhana dan di depannya tampak seorang wanita tua sedang duduk di kursi goyang selagi merajut syal.
"Nenek, apa Anda masih kenal saya?"
"Ratu Flarisa, apa ada yang saya bisa bantu?"
"Sebenarnya..."
Flarisa mengutarakan kedatangan mereka berdua hingga wanita tua itu menatap mereka berdua dengan tatapan berapi-api.
"Kalian ingin belajar resep nenek moyangku, kenapa tidak mengatakannya sejak lama... mari bergegas, akan aku ajarkan semuanya."
Anabeth menambahkan hal lain hingga wanita tua itu kembali berteriak.
__ADS_1
"Apa? Kalian juga ingin membuat kios khusus dalam festival, untuk makanan nenek moyangku, sungguh luar biasa."
Anabeth berbisik pada Flarisa.
"Semakin tua rasanya dia jadi bertingkah semakin muda."
"Aku penasaran apa aku bisa sepertinya saat tua."
"Flarisa kamu sudah jadi vampir juga, kita tidak akan pernah menua."
"Benar juga, aku lupa kita 18 tahun abadi."
Keduanya tertawa kecil membuat wanita tua ini memiringkan kepalanya, sebelum belajar memasak mereka harus mencari bahannya terlebih dahulu dan bahan terbaik yang mereka bisa dapatkan adalah di hutan, dikawal oleh beberapa kesatria wanita mereka mulai menyisir area seperti pohon tumbang yang sudah membusuk serta tempat-tempat serangga hidup.
"Aku mendapatkannya."
"Aku juga."
Sartina tampak memucat saat dia ditunjukkan sekitar beberapa ember penuh serangga, ulat dan hal lainnya yang tidak disukai sebagian orang.
Dia tidak masalah untuk menyentuhnya hanya saja saat dia memikirkan bahwa semua ini akan dimasak membuatnya sedikit mual.
"Apa ini bisa dijadikan makanan?" tanyanya ragu.
"Kamu akan tahu setelah mencobanya, resep nenek moyangku yang terbaik."
Meski dia mengatakan itu, semua orang jelas akan ragu untuk menyantapnya adapun yang bersemangat hanya Flarisa dan Anabeth.
"Yeeeey."
Ketika Sartina melaporkannya pada Grey dia juga memucat.
"Aku tidak tahu akan seperti apa festival itu nantinya, tapi kuharap semuanya baik-baik saja."
Festival yang ditunggu semua orang telah dibuat begitu meriah, seluruh orang-orang penting dari kerajaan berbeda juga turut bergabung untuk menikmatinya termasuk ratu kerajaan Neira bersama pengawalnya serta ratu kerajaan Asteria.
Grey berdiri bersama Arina, Eir dan Via di bahunya menatap bagaimana seratus gadis muda yang energik dan cantik sedang bernyanyi dan menari.
"Apa-apaan ini?" katanya demikian.
"Ini benar-benar hebat, kedua istrimu menamakannya dengan idol," balas Arina senang dan Via menambahkan.
"Haha kelihatannya menyenangkan, aku juga ingin berada di panggung seperti itu."
Eir memotong.
"Sudah waktunya pembukaan kios kerajaan tuan."
"Ah, sudah waktunya ternyata... aku benar-benar penasaran dengan itu."
Mereka semua pergi ke tempat yang dimaksud, yang tempatnya sendiri masih ditutup dengan tirai merah tidak jauh dari lokasi sebelumnya.
__ADS_1
Grey menemukan dua istri dan dua putrinya yang sedang menunggu bersama wanita tua.
Grey sesaat menggendong kedua putrinya hingga keduanya terlihat senang.
"Jadi apa kalian sudah menyelesaikannya?"
"Tentu saja, ini akan menggemparkan era industri kuliner."
Anabeth mulai mengatakan hal-hal yang sulit dan Flarisa tampak terlihat tidak sabar untuk menunjukannya. Bukan hanya dia yang bersemangat, di sini juga sudah banyak orang yang mengantri untuk mencicipi masakannya.
Mereka murni berdatangan karena penasaran.
Coba satu kamu akan ketagihan adalah semboyan di kios ini.
"Kalau begitu mari buka tirainya," atas pernyataan Grey beberapa kesatria melakukannya dan semua orang terkejut bagaimana kios itu dibuat dengan begitu baik.
Ada beberapa makanan yang terbilang aneh ditaruh depannya meski begitu masih terlihat enak, seperti goreng tepung ulat, tumis serangga dan juga sup belalang.
Mereka menyediakan jus bunga serta minuman yang terkesan jarang dijumpai orang lain.
"Kalau begitu kios dibuka, semuanya pergi ke posisi kalian."
"Baik."
Teriakan Anabeth dan Flarisa membuat semua orang berteriak semangat. Grey memesan beberapa untuk mencoba dengan Arina dan Via.
Ketika memakannya mereka menangis.
"Ini sangat enak."
"Aku juga berfikiran sama."
Tak lama Anabeth dan Flarisa muncul.
"Kita perlu bantuan di sini, antriannya semakin banyak."
"Baik."
"Aku sudah kenyang waktunya untuk bekerja."
"Sebagai mesin aku tidak akan kalah dari manusia."
"Bukannya manusia yang harusnya mengatakan itu?" perkataan Arina tidak mendapatkan jawaban apapun.
Grey melirik ke arah semua orang yang berada di depannya, beberapa ada yang membawa keluarga mereka untuk mencoba makanan di setiap kios, hanya melihat-melihat dengan pasangan serta beberapa orang tertawa bersama.
Sesuatu yang dia dan rekan petualangnya dulu inginkan telah terwujud yaitu sebuah kedamaian, dengan demikian manusia tidak perlu mempertaruhkan nyawanya lagi dalam pertempuran menakutkan.
Bagi Grey petualangan sesungguhnya baru saja dimulai.
Tamat.
__ADS_1