Menjadi Kuat Seorang Diri

Menjadi Kuat Seorang Diri
Chapter 24 : Sebuah Keputusan Sulit


__ADS_3

Grey memberikan para Boar yang dikalahkannya pada para kesatria wanita untuk diolah menjadi makanan dan dibagikan ke semua orang di kota sementara dirinya kembali ke istana untuk memberikan bahan herbal itu pada Arina.


Setelahnya dia dan Anabeth menunggu di ruangan berbeda, Grey tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya duduk di sofa dengan pandangan sulit.


"Grey?" suara Anabeth membawanya ke dalam kenyataan.


"Aku memutuskan untuk tinggal di sini Anabeth, tanpa kita kerajaan ini akan hancur."


"Apa seburuk itu?"


"Iya, kita masih banyak memiliki petualang namun di sini sangatlah berbeda, dan sepertinya Undead King sudah menyadari satu hal.. dibandingkan mengejar kepalanya dia ingin menghancurkan dulu hal yang dilindungi raja Neira."


"Mustahil?"


"Aku sudah menanyakan detailnya ke pada para kesatria, sebelum tempat ini diincar Asteria lebih dulu yang menerimanya, kerajaan itu telah musnah."


Keheningan terasa di antara keduanya.


"Dimana pun kita tinggal aku tidak keberatan, selama itu bersama Grey aku akan selalu menjadi tempat untukku."


"Terima kasih banyak."


Tak lama kemudian Arina masuk dari pintu dan duduk di sofa dengan kaki lebar, dia mengenakan celana jadi itu tidak masalah.


"Bagaimana?"


"Paling tidak obatnya berfungsi baik, benar-benar kacau... aku juga tidak bisa membiarkan penduduk kota mati juga."

__ADS_1


"Grey bilang kerajaan Asteria sudah hancur dan kami berdua akan tinggal di sini mulai sekarang."


"Sepertinya itu pilihan tepat, aku juga akan melakukan hal seperti yang kalian putuskan.. kita akan tahu setelah bisa berbicara dengan ratu untuk memikirkan langkah selanjutnya."


Arina diam sejenak lalu melanjutkan.


"Di tempat ini hanya ada ratu, para kesatria dan penjaga aku rasa tempat ini akan nyaman untuk kalian, bukannya kalian membenci mereka."


"Yah aku bukan membenci jabatannya hanya orang-orangnya saja."


"Begitukah."


Setelah mereka berkumpul, selanjutnya yang muncul adalah seorang kesatria yang ditemui grey sebelumnya atau lebih tepatnya seorang komandan.


Ia memiliki rambut pirang di ikat twintail dengan pedang melekat di pinggangnya.


"Namaku Arina."


"Nyonya Arina."


"Tidak, kau harus menyebutku nona, aku masih muda."


"Maaf Arina sepertinya kerutan di wajah tak bisa disembuhkan," atas pernyataan Anabeth, dia terduduk frustasi.


Kesatria itu kebingungan.


"Ah maaf, aku hanya menggodamu saja nona Arina."

__ADS_1


"Yah tak apa."


"Oh yah, namaku Sartina aku komandan kesatria, aku datang kemari karena jamuan telah siap dihidangkan tolong ikuti saya setelah itu kami akan menunjukkan kamar yang kalian bisa gunakan."


"Kebetulan perutku memang sedang lapar."


"Apa kalian tak keberatan jika aku melepas helmku, aku vampir juga."


"Tentu saja tak masalah, kalian adalah penyelamat kami, kami akan selalu menerima kalian semua."


Grey melakukan hal seperti apa yang dia katakan hingga Arina maupun Sartina terdiam.


"Kurasa vampir tidak seburuk itu kan."


"Bukan itu masalahnya, kau ternyata pria tampan Grey... aku selalu menebak kau ini buruk rupa!" teriak Arina.


Sartina bahkan mengangguk terus menerus spontan.


"Aku tidak setampan itu."


"Itulah Greyku, dia memang pria yang kharismatik."


Grey pikir dia akan melepaskan helmnya saat makan, tidur dan mandi saja.


Setelah makan Arina dan Anabeth pergi menuju kamar yang bisa mereka gunakan, untuk Grey dia telah memiliki sebuah ruangan untuk dirinya sendiri.


Ia membaringkan dirinya di tempat tidur dan terkejut karenanya.

__ADS_1


Ini pertama kalinya dia merasakan bahwa tempat tidur harusnya seempuk ini.


__ADS_2