
Di istana Anabeth dan Flarisa saling meletakan tangan mereka di masing-masing perut mereka yang membesar.
"Sepertinya perutmu lebih besar Flarisa."
"Tidak, aku yakin perutmu yang lebih besar."
"Benarkah, mari kita bilang bahwa perut kita sama-sama besar."
"Sepertinya begitu."
Keduanya tertawa kecil sebelum menengadah ke atas langit.
"Kuharap hal seperti peperangan akan selesai dengan cepat dan semua orang bisa hidup dengan damai."
"Iya."
***
Grey menarik pedangnya dan dua orang di sebelahnya juga memasang kuda-kuda yang sama. Dibandingkan mereka, perkataan 'curang' harusnya berlaku untuk musuh di depan mereka yang dengan mudah menggerakan ratusan bahkan ribuan pasukan undead.
"Kalian masih mau melawan, terserahlah... majulah kalian bertiga."
Seperti yang dikatakan Dulahan, mereka menyerang secara serempak. Kuda yang ditungganginya menghilang dan kini pertempuran benar-benar terjadi.
Sartina dan Grey melompat untuk memberikan tebasan dari atas, keduanya ditahan oleh pedang Dulahan membuat mereka terlempar ke belakang, di saat yang sama Arina menembakkan panah api yang mana ditangkis melalui pedang miliknya.
"Lumayan manusia, beginilah pertarungan harusnya terjadi."
Dia mengubah posisi bertahan menjadi menyerang dan melancarkan tebasan pada Grey dan Sartina. Walau tubuhnya terbungkus dengan zirah besi Dulahan jelas tidak kerepotan, dia mengayunkan pedang besarnya seolah itu bukan masalah.
__ADS_1
Grey menahan tebasan membuat pijakan kakinya merebas beberapa meter.
"Tuan?" ucap Via.
"Bukan apa-apaan."
Dari samping Sartina berusaha memberikan tusukan, dia tidak mengincar tubuhnya melainkan kepada yang dibawanya. Namun sebelum dia bisa melakukannya dia ditendang ke sisi tebing hampir jatuh, dan Grey dilemparkan kembali mundur.
Arina yang sejak tadi berada di belakang maju ke depan, itu sedikit mengejutkan musuh hingga secara refleks dia mengayunkan pedangnya yang mana dihindari Arina dengan lompatan ke samping.
"--Apa?"
Dia meletakan tangannya pada Dulahan dan sebuah cahaya mendorongnya mundur. Namun hanya sebatas itu dan jelas tidak akan cukup untuk menjatuhkannya.
"Dia kebal dengan sihir suci."
Grey dan Sartina mulai bergabung kembali.
"Sejak tadi dia melindungi kepalanya, mari incar itu."
"Yap, itu ide bagus."
Grey mengangguk atas pernyataan keduanya sebelum melesat maju, mereka menambahkan kecepatan untuk menyerang Dulahan dari segala arah.
"Apa menurut kalian serangan seperti itu akan dengan mudah mengalahkanku, percuma saja... matilah manusia, dan juga hancurlah peradaban kalian."
Senjata mereka saling berbenturan menghasilkan dentuman keras bercampur percikan api ke udara.
Dulahan menebas tepat di atas kepala Sartina yang kehilangan keseimbangan, syukurlah bahwa Grey dapat menangkisnya tepat waktu.
__ADS_1
"Kau?" teriak Dulahan namun dia terhantam sihir Arina yang mengambil celah darinya.
"Manusia sekarang jauh lebih kuat dari kalian bayangkan, ini akan menjadi akhir kalian para iblis" ucap Grey mengintimidasi.
"Omong kosong, tuan undead king telah mendapatkan kepalanya hanya menunggu waktu saat semuanya berhasil dihancurkan... sekarang aku mulai serius."
Arina tertawa hingga ekpresi Dulahan mengeras.
"Kenapa kau tertawa?"
"Lihat tubuhmu."
Dulahan menyadari bahwa di tubuhnya ada sebuah lingkaran sihir yang menempel.
"Sejak kapan? Jangan-jangan serangan barusan."
"Ah, itu sihir yang sama yang kugunakan untuk menghancurkan tebingnya, selamat tinggal."
Tubuh Dulahan meledak dahsyat hingga kepalanya menggelinding ke arah kaki Grey.
"Jangan pikir bahwa..."
Sebelum dia menyelesaikan perkataannya pedang Grey sudah menembusnya.
"Barusan cukup menegangkan, kita beruntung bahwa dia sedikit lengah," kata Sartina
"Karena menganggap kita lemah maka inilah balasannya."
Arina menggunakan sihir teleportasinya dan mereka bertiga menghilang.
__ADS_1