
Sekembalinya ke kota, keadaan tampak seperti sedia kala, orang-orang melakukan rutinitas semestinya seolah mereka tidak memiliki masalah yang terlalu besar namun bagi Irena dan Grey perjuangan mereka masih berlanjut.
Undead King telah memiliki kepalanya kembali berkat sebuah pemberontakan, dan sekarang manusia harus melawan manusia lain hanya demi untuk bertahan hidup.
Irena membenamkan dirinya di atas meja.
"Kita memiliki waktu seminggu sampai sungainya surut dan saat itu aku sudah harus menentukan siapa saja yang akan pergi ke ibukota."
"Kalau begitu aku serahkan padamu."
"Oi, kau ingin ke mana?"
"Aku seorang petualang aku akan mengambil quest relawan biasanya."
"Kurasa hanya kau yang bisa bersikap biasanya sebagai petualang."
"Tidak juga."
Grey melambaikan tangannya kemudian membuka pintu sebelum berjalan turun ke lantai bawah untuk bertemu dengan Mary yang bertugas sebagai staf guild.
Aktivitas petualang terlihat seperti sedia kala.
"Kalau begitu apa ada quest relawan lagi?" tanyanya demikian.
__ADS_1
Mary tertawa ragu.
"Apa sesuatu terjadi?"
"Aku mungkin harus mengatakannya tapi quest relawan telah selesai dikerjakan, sekarang tidak ada lagi yang tersisa."
Grey tampak terkejut dari balik helmnya sedangkan Mary menjelaskan.
"Berkatmu semua petualang berfikir paling tidak mengambil quest relawan sesekali sebagai amal karena itulah semua orang terkadang menanyakannya."
"Jika demikian kurasa aku senang bahwa semua petualang tidak mengabaikannya lagi."
"Mereka bilang ingin jadi sepertimu terlebih orang-orang yang baru menjadi petualang menjadikanmu sebagai idolanya."
"Baik."
Setelah selesai menentukannya, Grey meninggalkan kota untuk berjalan mendaki perbukitan. Dia sering datang kemari saat bersama teman-temannya ketika mereka masihlah hidup.. semua itu terasa nostalgia.
Pekerjaan pertama kali saat dia menjadi seorang petualang lebih tepatnya, yaitu memancing. Ada beberapa restoran yang meminta untuk menangkap ikan pelangi, ikan ini hidup di tengah danau asri yang jauh dari pencemaran.
Seperti namanya ikan ini memiliki warna berbeda dengan berat maksimal 5 kg Unu ikan dewasa, cukup sulit menangkapnya namun Grey sudah memiliki trik dalam melakukannya yaitu dengan sebuah umpan racikannya sendiri. Tentu yang memikirkannya adalah salah satu temannya.
Sebelumnya dia bahkan harus menginap di tempat ini bersama temannya hanya untuk mendapatkan satu ikan.
__ADS_1
Grey pikir dia akan melakukannya lagi paling tidak sampai penyerangan berikutnya akan dilaksanakan.
Setelah memasang kemah, dia mengisi kail dengan umpan kemudian melemparkannya ke tengah danau.
Sekilas bayangan dua wanita dan satu pira terlihat di benaknya, si pria berkata.
"Bukannya tempat ini indah Grey, aku yakin ini adalah tempat satu-satunya di dekat sini yang kita bisa kita kunjungi."
"Aah, aku tahu..."
Grey menarik kailnya dan kemudian memasukan ikan pelangi yang didapatkannya ke dalam ember.
"Nah kalian bertiga, mau mendengar petualanganku..."
Ketiganya tersenyum selagi menganggukkan kepalanya sekali. Bagi siapapun yang melihat Grey sekarang, dia hanya terlihat seperti berbicara seorang diri.
Saat malam hari tiba dia telah menyusun api unggun untuk menghangatkan dirinya, dia juga memanggang beberapa ikan lain untuk ia makan hari ini sebelum akhirnya dia mengalihkan pandangan ke tempat lain.
"Apa kalian akan terus bersembunyi di sana?"
"Kami ketahuan."
"Aneh rasanya jika aku tidak menyadarinya, Irena dan kawan-kawan."
__ADS_1
"Aku lebih suka jika kau memanggil dengan nama kami dibanding kawan-kawan," ucap Eva yang mendapatkan embusan nafas panjang.