
Festival dibuka dengan pertunjukan kembang api serta pidato Olivier, semua orang tidak terlalu mendengarkan apa yang dia katakan, yang jelas saat pidato selesai semua orang berteriak semangat.
"Tuan, lihat di sana... ada badut."
"Owh... dia sedang mencoba melemparkan bola-bola ke udara."
"Entah kenapa aku merasa takut," potong Arina.
Grey pikir ada juga sesuatu yang membuat Arina takut, ini pengetahuan yang harus ditulis dalam benaknya agar bisa menjahili Arina suatu hari nanti.
Setelah melihat badut mereka mengunjungi setiap kios yang disajikan di sini, kios permainan adalah hal yang paling digemari semua orang.
"Biar aku tunjukkan seberapa hebatnya aku melemparkan bola."
"Yeeeey."
Arina berkata dengan bangga saat dia mencoba salah satu permainannya, dia menggunakan kekuatannya dan itu meledakan target di depannya.
"Aaah, kiosku."
"Hey, berikan bonekanya."
Dia malah terlihat seperti pemalak yang mencoba merampok dari kios kecil.
"Boneka apanya, kau membuat lubang besar di kiosku."
"Hah, itu resikonya."
Grey memberi uang lebih pada pemiliknya kemudian menyeret Arina ke tempat yang berbeda, mari cari permainan yang lebih aman dimainkan oleh orang kuat.
Mereka akhirnya menemui salah satunya yaitu menyendok ikan emas.
__ADS_1
"Permainan seperti ini, tidak menantang."
"Ikannya bagus, jika kita menang kita bisa menaruhnya di kolam istana," balas Grey hingga mata Arina berkobar dengan api semangat.
"Kenapa kau tidak mengatakannya, akan kukeruk semua ikan ini."
Wajah pemiliknya tampak memucat, sungguh beruntung bahwa Arina tidak terlalu pandai melakukannya, setiap melakukannya jaring kertasnya rusak.
"Via, apa ada sesuatu yang ingin kau coba juga?"
"Tubuhku terlalu kecil, aku ragu bahwa aku memiliki sesuatu yang cocok dimainkan."
"Memang benar."
Grey pikir akan memasukkan kios yang bisa dimainkan Via di festival miliknya sendiri nanti.
Arina berhasil mendapatkan seluruh ikan setelah membuat pedagangnya kaya raya.
"Tentu."
"Perasanku atau mungkin Arina merasa bahwa istananya itu miliknya sendiri tuan."
"Sepertinya begitu, dia mungkin sosok yang lebih tinggi dari ratu ataupun putri duyung lainnya."
Keduanya hanya melihat kepergian Arina begitu saja dan kembali menikmati festival kembali.
Membeli banyak makanan, pakaian serta banyak oleh-oleh untuk dibawa pulang khususnya soal boneka yang digemari kedua putri Grey.
Tak lama Arina kembali bergabung untuk membuat situasi kembali rusuh. Grey pikir dia terlalu bersemangat.
Tiga hari mereka bertiga melakukannya secara berulang, terkadang Olivier juga ikut sebelum dia diseret panitia festival serta para sponsor.
__ADS_1
"Aku belum puas bersenang-senang."
"Ratu masih punya pekerjaan lainnya... khususnya soal pemilihan ratu kecantikan."
"Ah benar juga, Grey bantu aku juga."
Grey memiringkan kepalanya dan tahu-tahu dia berada di tempat yang seharusnya dia tidak masuki.
Menjadi juri pemilihan di mana banyak wanita cantik menunjukkan diri mereka tentang sebuah kecantikan.
"Seharusnya aku tidak ada di sini."
"Jangan begitu tuan Grey, kita perlu penilai dari sudut pandang laki-laki.. berikan saja nilai Anda sesuai yang Anda sukai, menilai berdasarkan seberapa besar dada mereka juga, oke."
"Itu jelas kecurangan."
Grey tidak terlalu memikirkannya jadi dia menilai sesuai yang diputuskan oleh Via yang berada di bahunya.
"Tujuh puluh, A-cup."
"Tujuh puluh lima, B-cup."
"Delapan puluh, C-cup."
"Sembilan puluh, D-cup."
"Sembilan puluh lima, G-cup."
"Seratus, H-cup."
Grey pikir akan menghilangkan kontes seperti ini di negaranya.
__ADS_1