
"Kami sudah menang, kenapa kami harus menuruti permintaan dari yang kalah?" kata Irena.
"Apa menurutmu begitu."
Pria itu hendak bergerak, namun Grey segera memotongnya dengan sebuah pernyataan.
Kelompok Irena ataupun Grey memang masih bertahan tapi bagaimana dengan pasukan mereka.
Pria ini menjadikan mereka sebagai negosiasi yang tidak bisa ditolak.
"Aku menerimanya, biar aku yang menghadapinya."
"Grey?"
"Serahkan padaku."
"Sepertinya ada pejuang di antara kalian, ini akan jauh lebih mudah... yang kalah harus mengakui dirinya dan mundur dari pertempuran ini."
"Baiklah."
Grey dan pemimpin musuh kini saling berhadapan satu sama lain sementara orang-orang berkerumun sebagai penonton.
__ADS_1
"Siapa namamu?"
"Basta, salah satu jenderal dari kerajaan Neira, dan kau? Aku yakin wanita di sana menyebutmu Grey."
"Begitulah, pertama aku ingin menanyakan satu hal... kenapa kalian malah memilih untuk bersekongkol dengan Undead King? Sudah jelas itu pilihan buruk."
"Bagi kalian memang pilihan buruk tapi bagi kami adalah pilihan terbaik, kami semua yakin bahwa tidak ada yang bisa mengalahkannya alih-alih umat manusia punah, dengan cara ini kita bisa mempertahankan manusia walaupun sebagian kalian akan menjadi budak."
"Omong kosong, masa depan seperti itu tidak akan pernah terjadi bahkan jika di dunia ini hanya ada dua kerajaan, itu lebih baik dibandingkan apa yang kalian putuskan."
Grey bersiap dengan pedangnya begitu juga Basta dengan dua pedang miliknya, pertarungan ini akan selesai jika salah satu dari mereka mati.
Irena melempar koin ke udara dan saat itu terjatuh ke tanah keduanya bergerak maju, Grey lebih dulu melemparkan serangan melalui tebasan samping, Basta menahan dengan satu pedang sementara pedang lain dia arahkan dari sisi berbeda.
"Pedangmu? Bukannya itu pedang milik Nil, jadi begitu... kau mengalahkannya."
"Bisa dibilang begitu."
Grey mempersempit jarak dan kini Basta lebih berhati-hati padanya, dua benturan logam menggema ke udara saat keduanya saling menyerang dan bertahan.
Basta adalah pengguna dua pedang karena itu bukan berarti tidak memiliki celah, Grey melompat ke atas dan Basta bergulir ke samping kemudian melanjutkannya dengan tebasan beruntun miliknya, yang mana memaksa Grey dalam posisi bertahan hingga bunyi dentuman terdengar saat kedua logam itu berbenturan.
__ADS_1
"Kau tidak menggunakan sihir apapun, benar-benar menarik?"
"Aku tidak terlalu percaya diri dengan sihir," balas Grey santai sebelum keduanya saling mendorong satu sama lain.
Basta membuat kedua pedangnya diselimuti api sebelum melangkah maju. Grey tidak terprovokasi dan ia masih tetap bertarung dengan cara biasa.
Semakin lama gerakan mereka semakin cepat, Grey terpental oleh sebuah tendangan, bahkan saat dia belum bangun Basta sudah bersiap menikamnya dengan dua pedang.
Grey berusaha menahannya kemudian menendang Basta untuk menjauh darinya, dia bangkit dan kemudian kembali menyerang.
Kini giliran Grey yang memberikan serangan yang kuat, dia menari-nari di sana dan dengan baik memojokkan Basta dengan segala kemampuannya.
Basta terdorong tapi tidak ada satupun yang menyerah, mereka mundur dan hanya menciptakan keheningan.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Eva pada Irena, yang dijawab singkat olehnya.
"Mereka akan menyelesaikannya."
Keduanya bergerak dengan cepat hingga sulit diikuti dengan mata hingga keduanya saling membelakangi. Darah menyembur keluar dari helm yang dikenakan Grey dan ia terduduk bersimpah darah.
"Kau benar-benar hebat Grey."
__ADS_1
Di saat yang sama Basta pun ambruk ke tanah.