
Di ruangan kecil ini ada sebuah tungku yang diletakkan di tengahnya dengan begitu rasanya terasa hangat.
"Kami seharusnya berada di pulau tropis sekarang, sayang sekali bahwa tiba-tiba ada kawanan monster yang muncul di jalan utamanya."
"Kawanan, dengan kata lain jumlahnya banyak."
"Iya, mungkin sekitar 10-20 ekor dan mereka semua adalah kepiting raksasa."
"Grey... bahkan aku juga tidak yakin bisa mengalahkan mereka jika mereka berada di dalam laut."
"Jelas sekali."
"Sebenarnya ada jalan lagi yang lain hanya saja itu cukup jauh karena harus berputar, dan di cuaca sedingin ini kami tidak mungkin bisa berenang melewatinya."
"Jadi begitu, pantas saja kamu meminta kami membawa kapal yang bisa menampung paling tidak 100 orang."
"Benar, aku sangat bersusah payah untuk berenang ke pelabuhannya hanya untuk mengirimkan suratnya."
"Pastinya."
Grey meminum tehnya lalu melanjutkan.
"Jika hal seperti ini merepotkan bukannya lebih baik jika kalian terus berada di pulau tropis."
"Tidak, tempat itu sebenarnya kurang nyaman, di sana tidak ada ikan... yang bisa kami makan hanya rumput laut karena itulah kami hanya akan tinggal sementara waktu kemudian pulang lagi kemari."
__ADS_1
"Itu cukup melelahkan terlebih hal seperti ini akan terus terulang kembali," balas Arina spontan lalu menambahkan.
"Jadi bagaimana sekarang Grey, aku hanya ikut rencanamu saja."
"Lebih baik kalian membangun negara," tepat Grey mengatakan itu air teh menyembur dari Olivier maupun Arina.
"Ka-kau serius... kau tahu meski mereka pindah mereka masih harus menahan udara dingin juga."
"Bukannya kita bisa membangun rumah di sana, lagipula jika negaranya dibangun dekat negara kita mereka bisa hidup seperti kebanyakan orang dan kebutuhan mereka akan tercukupi."
"Itu benar-benar ide yang berani... yah, aku sudah tidak tinggal di sini jadi biarkan mereka memilih."
Olivier tampak kesulitan dan dia akhirnya meminta waktu semalaman untuk mendiskusikannya dengan kelompoknya.
Untuk Grey dan Arina mereka kembali ke kapal, malam itu tidak banyak hal berubah kecuali menunggu sampai besok.
"Apa menurutmu mereka akan pindah?"
"Entahlah, seseorang selalu sulit menerima perubahan terlebih keluar dari zona nyaman mereka, walaupun begitu kita tetap akan mengantar mereka."
"Begitu."
Dari kejauhan para putri duyung mulai berdatangan, dari mereka membawa ransel dipunggung mereka dan berbaris secara rapih.
Arina dan Grey menurunkan tangga ke bawah agar mereka bisa naik, Oliviera adalah orang yang terakhir naik dan berkata dengan ragu.
__ADS_1
"Grey atas tawaran kemarin."
"Jadi begitu... apa boleh buat, kakek kita pergi ke pulau tropis."
"Oke, Erik naikan jangkar."
"Siap laksanakan."
"Bukan Grey, maksudku kami akan menerima tawarannya... kurasa sudah waktunya kami putri duyung berubah."
Grey dan Arina sesaat terkejut tapi mereka mengangguk mengiyakan. Pada akhirnya tujuan mereka adalah kembali ke pelabuhan dan dari sana mereka akan berjalan ke kerajaan Vardes.
Jika jarak sejauh itu, mereka akan sanggup terlebih mereka bisa beristirahat dalam perjalanan.
"Grey wilayah yang dekat dengan kita apa maksudmu wilayah kerajaan Astrea?" tanya Arina.
"Benar, jika kita membiarkannya, itu akan berubah menjadi reruntuhan akan lebih baik jika para putri duyung menjadikannya wilayahnya sendiri."
"Itu juga tidak terlalu buruk, sebaiknya kau membuat mereka tempat yang nyaman."
Grey mengangguk sebelum akhirnya melanjutkan.
"Oh yah, Arina jika seorang pria menikahi putri duyung apa mereka akan hamil?"
"Aku pikir mungkin saja, walaupun aku yakin mereka tetap akan melahirkan perempuan dari garis putri duyung, kenapa? Jangan bilang kau ingin menghamiliku."
__ADS_1
"Bukan begitu maksudku, aku hanya ingin tahu saja."