
Ketika nenek si pemilik toko mengetuknya beberapa kali, pedang tersebut bersinar kemudian pecah menjadi cahaya dan berubah menjadi seorang gadis setinggi 10 cm, wajahnya mirip elf dengan ukuran kecil.
"Sakit, dasar nenek-nenek bau tanah."
"Hoh, kau berbicara dengan kasar pada orang tua, bagaimana kalau aku merebusmu."
"Hiii."
Dia berusaha bersembunyi di lengan Grey, gadis kecil itu memiliki rambut panjang hitam tanpa sayap apapun serta mengenakan gaun one piece putih.
"Tuan, lakukan sesuatu pada nenek gila ini."
"Tuan?"
Grey memiringkan kepalanya, Arina yang sudah memilih apa yang dia akan beli turut mendekat.
"Hoh, dia roh kah... jarang aku melihatnya."
"Hentikan jangan menyentuhku wanita mesum."
"Tubuhnya imut tapi perkataannya kejam."
"Itu cocok dengan pemiliknya," tambah nenek tersebut.
Grey tersenyum pahit dan memilih mengabaikan perkataannya.
"Aku pikir aku tidak melakukan kontrak apapun denganmu?"
"Apa maksudmu tuan, jika seseorang berhasil membunuh pemilik sebelumnya maka aku akan langsung berpindah tangan, itu juga berlaku pada pemilik sebelumnya."
"Mungkinkah Nil?"
__ADS_1
"Iya, dia bahkan lebih kejam dari siapapun... demi mendapatkanku dia tega membunuh gurunya sendiri."
Arina mengernyitkan alisnya.
"Kupikir itu yang disebut sisi gelap bangsawan."
"Jadi namamu?"
"Namaku Via, mulai sekarang aku akan melayanimu, jadi kuharap jangan simpan aku lagi di cincin penyimpanan lagi."
Grey mengangguk kecil.
"Apa jika aku menggunakanmu dan kemudian kau hancur, apa yang terjadi?"
Grey tidak ingin menjadikannya sebagai senjata jika itu artinya menempatkan gadis kecil ini dalam situasi berbahaya, sebelumnya pedang Grey hancur bukan sesuatu yang aneh jika itu juga suatu hari akan menimpa Via.
"Walau aku hancur aku hanya akan menjadi cahaya kemudian membentuk kembali menjadi pedang, meskipun aku yakin aku tidak bisa dihancurkan begitu saja, mungkinkah tuan khawatir padaku, whoaa! Aku dicintai," balasnya selagi memeluk dirinya sambil menggeliat.
Arina memandangnya sinis.
"Aku beli ini nenek."
"Harganya 10 koin emas."
"Mahal sekali," potong Grey Lemas.
"Tidak, jika di tempat lain aku yakin harganya lebih dari itu."
"Kau pandai menilai rupanya."
"Tentu, aku juga penyihir."
__ADS_1
Grey tidak menemukan perkamen yang dia cari meski begitu paling tidak dia mendapatkan perkamen air yang mampu mengisi sumur kering atau sebagainya.
Ketika keluar dari toko Arina meletakan tangannya di pinggang selagi membusungkan dadanya.
"Sekarang waktunya makan, Grey kau memiliki rekomendasi tempat yang bagus di kota ini?"
"Di seberang jalan ada penjual sate, mau coba."
"Sate kah? Mari beli sepuasnya."
Grey harap dia tidak menghabiskan uangnya terlalu berlebihan.
Malam harinya sesuai dugaan bulan merah telah tercipta. Sementara seluruh petualang menunggu di luar kota para monster mulai berdatangan.
Saat mereka semakin mendekat jebakan yang sebelumnya semua orang pasang melakukan tugasnya dengan baik. Beberapa monster jatuh ke dalam lubang yang di bawahnya ditaruh bambu-bambu tajam, beberapa terkena ledakan dan beberapa lagi ditembaki sihir dan panah dari kejauhan.
Arina mengarahkan tongkatnya ke atas dan dari sana puluhan api menyerupai pecahan meteor menghujani para monster tanpa ampun.
Sebelumya para petualang peringkat atas telah terbunuh dan hanya menyisakan petualang di bawahnya, jika melawan mereka sudah dipastikan kalah.
Irena melaporkan situasinya.
"Mereka terus berdatangan, jumlahnya banyak sekali."
"Karena penduduk di kota perbatasan lain telah dievakuasi maka serangan tertuju pada kita seutuhnya."
"Kau malah bersikap tenang saat seperti ini," bersamaan perkataan Irena sebuah cahaya tampak melesat dari kejauhan.
Itu menyerupai sebuah komet yang terlempar ke udara atau lebih tepatnya sebuah peluru.
"Itu?"
__ADS_1
Tembakan pertama menciptakan retakan di langit, tembakan kedua menghancurkannya hingga percikan kristal mirip cermin berjatuhan.
Bulan yang selalu terlihat merah kini menunjukan warna putih sesungguhnya.