
Para petualang berseru senang, sementara Mary dan Irena hanya melihat pemandangan langit malam yang jauh lebih cerah dari biasanya.
"Apa berhasil?" tanya salah satu petualang yang dijawab petualang lainnya.
"Tentu saja, lihat mereka."
Para monster yang kembali sadar tiba-tiba saja berputar kemudian kembali ke dalam dungeon, dari tempat berbeda Eir duduk di tanah selagi memeluk senjata kunonya.
"Akhirnya selesai juga," katanya tersenyum kecil.
Pagi berikutnya sebuah pesta yang menyerupai festival diadakan, setiap jalanan telah diisi pernak-pernik hiasan warna-warni, bersama makanan, musik dan juga orang-orang yang berdansa dengan gembira.
Grey melihat mereka dari tempatnya duduk yaitu sebuah teras salah satu bangunan terdekat di dalam gang kecil.
Arina muncul selagi menyodorkan es krim padanya.
"Ini manis, kau pasti menyukainya."
Grey membuka helmnya dan menjilat es krim yang diterimanya, tentu saja Via di bahunya juga turut mencobanya selagi memegangi kepalanya.
"Membeku," teriaknya demikian.
"Jadi apa seharusnya kita kembali ke Vardes sekarang? Paling tidak kau harus melangsungkan pernikahan di sana."
"Apa soal itu bisa kita undur."
"Tentu saja tidak, aku yakin banyak orang yang sedang menunggumu."
"Di sini juga masih belum selesai."
__ADS_1
"Tak perlu khawatir, karena aku sudah memiliki tongkat aku bisa menggunakan sihir teleportasi jadi kita bisa pulang pergi antara kota Risol dan ibukota Vardes dengan cepat."
"Kau bisa melakukannya?"
"Tentu saja, aku seorang penyihir... sihir teleportasi memerlukan energi mana yang besar, aku sedikit demi sedikit menyimpannya di tongkat ini dan saat memerlukannya aku akan menggunakannya dengan baik."
"Kalau begitu, mari kembali."
Setelah matahari tenggelam keduanya berpamitan dengan Alexia dan Mary, Arina mengangkat tongkatnya, dalam sekejap lingkaran sihir muncul di bawah keduanya termasuk kuda mereka, kemudian lingkaran itu naik hingga mereka menghilang dan muncul di ibukota Vardes.
Ketika pertama kali banyak orang yang tampak putus asa namun sekarang tidak demikian.
"Di sini juga banyak berubah, aku menunggu perkejaan besarmu nanti Grey."
"Kau santai sekali mengatakannya," ucapnya dari balik helm.
Grey juga dinobatkan sebagai raja namun pemerintahan akan seutuhnya diambil alih oleh ratu, ia hanya akan membantu dalam pemerintahan meski demikian tidak ada yang mengeluh dan semua orang tetap menganggapnya keluarga kerajaan sebagai wakil ratu.
Beberapa hari berikutnya Anabeth tertawa saat mereka bertiga mengadakan acara teh.
"Semua orang menyebutmu sebagai raja berwajah besi, kau yakin tidak akan melepaskannya?"
"Ini ciri khasku, lagipula jika semuanya kembali damai aku tetap akan menjadi petualang."
"Dasar keras kepala, Flarisa kamu tidak ingin menghentikannya."
"Jika itu yang terbaik, kita hanya bisa mendukung suami kita."
"Kamu sangat penurut, entah kenapa aku sangat menyayangimu."
__ADS_1
"Hentikan... Jangan memelukku."
"Sedikit saja."
Grey pikir Anabeth mulai sedikit demi sedikit kembali kepribadiannya sedia kala, bulan merah memang sangat berpengaruh padanya.
"Kalau begitu sudah waktunya aku memeriksa yang lainnya."
"Baik, biarkan aku mengurus Flarisa."
"Aku tidak membutuhkannya."
"Kamu sangat imut."
Grey memanggil Via yang sejak tadi duduk di bunga untuk duduk di bahunya.
"Kau bisa bergabung dengan kami loh Via."
"Aku tidak ingin mengganggu acara keluarga tuan.. lagipula kalian terlihat sangat menyilaukan."
"Menyilaukan? Apa itu?"
"Istilah itu hanya dipahami oleh orang-orang yang belum menikah."
"Begitu."
"Apa kita akan pergi melihat pembangunan kota?"
Grey mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1