
Makan malam mereka berakhir dengan sup hangat yang dibuat oleh Grey. Dia memasukan kentang, daging dan beberapa rempah-rempah yang diperlukan untuk menambahkan cita rasa.
Selagi menikmati sup, Alexia menjelaskan seluruh kejadian yang terjadi di ibukota, semuanya tidak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan Nil pada Grey, kecuali pasukan pengikutnya dibunuh semuanya serta hanya Alexia yang bisa selamat satu-satunya.
"Raja sudah melakukan hal mengerikan seperti itu?"
"Tidak, ayahkulah yang membantuku untuk meloloskan diri. Ia juga menentang soal ini, sayangnya perdana menteri memberontak, dialah dalang dari semua ini bersama para bangsawan lainnya."
Jadi Nil berbohong, gumam Grey.
Dia mencoba menutupi semuanya agar para petualang tidak bergerak.
"Lalu kapan kepala itu diserahkan pada Undead King?"
"Kurasa hari ini."
Semua orang jatuh dalam keterpurukan, sudah jelas mereka telah terlambat tapi tidak menyesali karena mereka bisa menyelamatkan putri dengan keadaan selamat.
"Kurasa Undead King tidak berpihak pada manusia, lebih tepatnya dia berusaha memecah belah kita untuk saling bertarung satu sama lain."
Apa yang dikatakan Irena adalah hal yang rasional, Undead King bisa saja melenyapkan mereka semua tapi dia malah memilih cara yang berbelit-belit.
__ADS_1
Grey menyadari satu hal.
"Dia ingin membuat kita mati oleh keputusasaan, sebelum benar-benar membunuh kita... setelah kita diperbudak untuk membuat wilayahnya dia akan membunuh kita kemudian membunuh manusia yang bekerja padanya."
"Kemungkinan begitu," timpal Arina.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan, besok pagi mereka akan kembali ke kota Risol. Kecuali Grey mereka semua tidur saling berpelukan untuk menghangatkan diri.
Grey sudah biasa tidak tidur jadi hal itu tidak masalah, dia hanya duduk di sana sembari menjulurkan tangannya.
"Sekarang bagaimana aku menyelesaikan masalah ini," katanya selagi melirik cahaya bulan yang mempesona.
Setibanya di Kota Risol, semua orang telah bergerak sesuai instruksi, beberapa tidak melupakan soal jebakan.
"Serahkan padaku."
Tak lama salah satu petualang masuk ke dalam ruangan.
"Aktivitas monster terlihat mulai keluar dari dungeon, sudah dipastikan bahwa bulan merah akan terjadi malam hari ini."
"Semuanya jadi lebih cepat, ini pasti karena banyak orang yang terbunuh dalam gelombang ke dua."
__ADS_1
"Iya, kita benar-benar terpojok."
Putri Alexia berdiri.
"Aku benar-benar berterima kasih pada semua orang di wilayah perbatasan, aku merasa malu karena tidak bisa melakukan apapun untuk kalian."
"Jangan berkata begitu, bukannya putri sendiri yang memberikan proposal untuk memberikan bantuan finansial ke setiap wilayah perbatasan, sayang sekali bahwa petinggi lain tidak menghiraukannya."
"Aku hanya tidak memaksa mereka lebih jauh lagi."
"Yang terjadi biarlah terjadi, sekarang kita fokus untuk menghadapi mereka... bagaimana soal kota perbatasan yang lain?"potong Grey.
"Ah, kami dapat informasinya tadi pagi, mereka sudah pergi ke kerajaan Vardes malam nanti aku yakin mereka akan sampai."
Grey menarik nafas lega. Jadi mereka akan baik-baik saja.
"Tapi Grey, apa tak masalah kita memindahkan semua orang ke sana, bukannya itu sama saja membuat mereka tinggal di sana menjadi penduduk Vardes."
"Tidak masalah bukan, di sana orangnya sangat sedikit jika dapat tambahan orang, itu sangat membantu.," balasnya terhadap petualang tersebut lalu menambahkan.
"Ngomong-ngomong aku rajanya sih."
__ADS_1
Semua orang terkejut dan berteriak di waktu bersamaan.
"Heh?!"