Menjadi Kuat Seorang Diri

Menjadi Kuat Seorang Diri
Chapter 49 : Serangan Bagian Dua


__ADS_3

Irena menutupi wajahnya dengan tangan saat ledakan terjadi di depan matanya, seharusnya ini menjadi pertarungan tanpa keributan namun jelas semuanya berubah menjadi tak terkendali.


Di depannya, tepatnya di dalam kobaran api sosok pria mengenakan zirah besi berjalan mendekat ke arahnya.


Dia adalah Alas salah satu jenderal.


"Peralatanmu jelas terlihat sangat mahal dan juga sangat kuat."


Sebuah panah melesat padanya namun jenderal itu mampu menangkapnya di udara.


"Dia juga kuat," kata Angel hingga Irena melirik ke arahnya dan bertanya.


"Bagaimana dengan Winy dan Eva?"


"Mereka menghadapi jenderal Peron."


"Kuharap mereka baik-baik saja."


Alas menarik kapak besarnya.


"Bukan waktunya mengkhawatirkan orang lain, kalian juga dalam bahaya."


Dia melangkah maju selagi mengayunkan kapaknya, Irena menahannya dengan dua pedang menghasilkan percikan api ke udara.


"Pedang suci kah, kuyakin kau pasti seorang petualang kuat," katanya yang dibalas santai oleh Irena.


"Begitulah."


Mereka saling dorong-mendorong dan ketika ada celah, panah dari Angel akan dilesatkan ke arah Alas sayangnya dia menangkisnya dengan kapak miliknya.

__ADS_1


Angel mengerenyitkan alisnya.


"Kurasa aku juga harus menyerang."


Angel melilitkan busur di tubuhnya kemudian menggantikannya dengan sebilah pedang pendek sebelum membantu sosok Irena.


Keduanya saling bergantian mengirimkan serangan, Alas menendang tubuh Irena selanjutnya menyerang keberadaan Angel yang menyelinap dari belakang, dalam waktu singkat keduanya terkirim jauh ke samping.


Alas memilih untuk menghabisi sosok Irena lebih dulu, dia mengangkat kapak ke udara yang tiba-tiba bersinar terang, tepat saat itu dijatuhkan dan ditahan oleh Irena, area sekelilingnya meledak dahsyat


Tanah naik ke udara sejauh 50 meter dengan bunyi memekakkan telinga.


Angel dengan spontan memanggil sosok Irena, dan dia masih berdiri selagi menahan kapak Alas.


"Apa?"


"Sayang sekali namun pedangku juga tak kalah mahal dengan zirahmu dan juga sangat kuat."


"Rasakan! Inilah rasanya jika kalian melawan para petualang yang bertarung di kota perbatasan."


Angel menjatuhkan dirinya dengan posisi duduk karena perasaan lega.


"Syukur kau selamat."


"Apa maksudmu, aku tidak mungkin kalah dengan hal seperti itu," pernyataan Irena hanya dibalas senyuman ringan.


Sementara di sisi berbeda Winy masih saling meluncurkan tebasan pedang dengan Peron, tubrukan dua logam itu menghasilkan suara memekikkan telinga.


Peron memiliki rambut pendek hitam dengan pedang besar.

__ADS_1


Eva tidak ikut bertarung, dia hanya pendeta dan hanya mengawasi dari kejauhan. Saat Winy terluka ia akan mengirimkan sihir penyembuh.


Dentuman terus terdengar, Winy mengalami pendarahan di tubuhnya sementara musuhnya juga mengalami hal sama.


Mereka berdua jelas sama-sama sosok yang suka bertarung secara brutal dengan kekuatan besar. Winy mengayunkan pedangnya dari atas namun bisa dihindari baik oleh musuhnya hingga dia ditendang meluncur di samping Eva.


"Guakh."


Dia menyemburkan darah dari mulutnya hingga Eva dengan panik mencoba menyembuhkannya.


"Sejak tadi kau benar-benar mengganggu, aku akan membunuhmu lebih dulu."


Peron melompat untuk mengincar Eva, Winy memaksakan diri dan menahan tebasan itu hingga pedangnya patah dan darah menyembur dari tubuhnya kembali.


Eva yang melihat itu berteriak histeris.


"Kau sampai sejauh itu ingin menyelamatkan temanmu, tapi sayang sekali semuanya akan tetap sama."


Sebelum Peron kembali menghunuskan senjatanya, puluhan pedang cahaya menembusnya.


"Mustahil? Kau pendeta yang bisa menggunakan sihir serangan."


Peron tumbang ke tanah.


"Meski kau berhasil mengalahkanku nyawa temanmu akan mati."


"Tak akan kubiarkan, aku tidak ingin kehilangan siapapun."


Dengan sihir cahaya nyawa Winy berhasil diselamatkan.

__ADS_1


"Kau ternyata lebih kuat dari yang kubayangkan," Peron hanya bisa menutup mata selamanya.


__ADS_2