Menjadi Kuat Seorang Diri

Menjadi Kuat Seorang Diri
Chapter 47 : Menuju Ibukota


__ADS_3

Di sela-sela panah tersebut, Angel menarik busurnya untuk mengincar salah satu target yang sejak tadi terus berada di belakang.


Dia adalah otak dari penyerangnya ini, dan juga termasuk salah satu jenderal berikutnya setelah Nil dan juga Basta.


Grey berkata di dekatnya.


"Apa kau bisa mengenainya?"


"Tidak masalah, anak panahku bisa mengenainya dengan mudah."


Tepat saat Angel mengatakannya panah diluncurkan melesat melewati orang-orang di bawahnya, kemudian menancap baik di kepala Abel hingga dia terlempar ke belakang dan ambruk tanpa daya.


Ini menjadi pertempuran termudah yang bisa mereka dapatkan sejauh itu.


Winy mengeluh soal dia tidak mendapatkan peran penting dan untuk Eva ia lebih bersyukur bahwa tidak ada orang yang terluka. Sebagai pendeta tidak ada yang lebih membuatnya senang selain itu.


Entah bagaimanapun mereka mendapatkan kemenangan kedua mereka.


Pagi berikutnya semua pasukan meninggalkan benteng menuju ke barat dimana benteng berikutnya berada.


Itu dipimpin oleh Alas dan juga Peron sebagai jenderal mereka, paling tidak seharusnya begitu.


Soal tahanan perang yang sebelumnya mereka tangkap dibiarkan begitu saja lalu membebaskan mereka tanpa syarat, jika mereka terus bersama mereka hanya akan menjadi masalah dan beban, karena Itulah jumlah orang yang dibawa Grey tetaplah sama.

__ADS_1


"Di sini kosong."


"Di sini juga."


Secara bergiliran para pasukan mulai memberikan situasi yang mereka lihat. Irena mendesah pelan.


"Mereka jelas melarikan diri."


"Lebih tepatnya mereka ingin mengakhiri pertarungan ini di satu tempat."


"Dan itu?"


"Ibukota, mereka menyiapkan segala yang mereka miliki di sana."


Saat mereka melintasi hutan mereka dikejutkan dengan beberapa pasukan yang menunggu mereka datang, hal yang mengejutkan bahwa pasukan itu dipimpin oleh putri sendiri Alexia.


Dia membuka tudung kepalanya.


"Kalian?"


"Aku ingin ikut berjuang juga merebut kerajaanku kembali, jika kau mengatakan bahwa aku tidak usah, maka aku tidak akan mendengarkan," katanya mendesak.


Grey jelas merasa apa yang dia akan katakan hanya berakhir sia-sia, dengan begitu satu hal yang bisa dilakukan Grey hanya akan terus berada di dekat putri ini selagi melindunginya.

__ADS_1


Bersama embusan angin yang melewati pepohonan rimbun, hujan telah jatuh menimpa tanah yang kering, dedaunan turut basah bersama perasaan kelabu menyertainya.


Bergerak dalam cuaca seperti ini hanya akan membuat kelompok mereka dalam kerugian karena itulah semua orang telah mengambil tempat sendiri dalam gua yang mereka temukan secara kebetulan.


Grey berdiri di luar selagi memperhatikan bagaimana tetesan air jatuh dari ujung-ujung tajam mulut gua.


Alexia melangkah ke dekatnya.


"Sungguh menyedihkan, bagiku ini hanya perang saudara yang tidak perlu terjadi."


"Apa kau menyesali hal ini terjadi?" tanya Grey dan Via hanya memperhatikan dari bahunya selagi ngemil.


"Tentu saja tidak, kita harus menyelesaikan ini semua dan mengembalikan kerajaan pada seharusnya."


Grey tersenyum dari balik helmnya, walau wajahnya tersembunyi Alexia merasakan hal demikian.


Yang diperlukan mereka adalah sebuah tekad yang bisa menyelamatkan umat manusia, jika mereka ragu maka tidak ada masa depan yang bisa diraih siapapun.


Undead King sudah mendapatkan kepalanya bahkan kemungkinan besar telah menjadi lebih kuat dari sebelumnya, meski begitu manusia juga sama. Mereka terus berjuang dan pada akhirnya mereka juga akan semakin berkembang.


Grey mengeluarkan sesuatu dari cincin penyimpanannya yang mana dia berikan pada Alexia.


"Apa ini?"

__ADS_1


"Madu, kau pasti akan menyukainya," jawabnya ringan.


__ADS_2