
Para penduduk mengucapkan terima kasih pada keduanya sementara Grey mengatakan bahwa ratu Olivierlah yang mengirimnya kemari karena itulah nama baiknya semakin meningkat.
"Pasukan yang lain pasti akan datang kemari, aku dan Arina harus pergi ke tempat berikutnya untuk mengalahkan iblis yang lainnya, kalau begitu selamat tinggal."
Keduanya terbang kembali meninggalkan para penduduk yang membungkuk ke arah mereka.
Dengan arahan Via, mereka pergi ke sebuah padang rumput landai. Arina berfikir dimana iblis yang dimaksud Via dan dalam sekejap jawaban itu muncul di bawah kakinya.
Sebuah rahang dari seekor cacing raksasa telah meluncur ke arahnya.
Dia membuka mulutnya lebar-lebar, Arina mengeluarkan sihirnya dan seketika mulut itu tertutup es membuatnya meronta-ronta dan kembali ke dalam tanah.
"Bikin kaget saja."
"Apa aku juga harus membantu?" tanya Grey demikian yang dijawab gelengan kepala.
"Tidak, biarkan aku saja yang melakukannya... selama 10 tahun ini aku juga sudah berlatih."
Grey memilih untuk menyetujui keinginannya dan hanya menonton jauh dari samping saat Arina mulai menggunakan sihir ledakan menimpa seluruh permukaan tanah.
Cacing iblis itu tak kelihatan atau sejujurnya dia mampu bersembunyi di dalam tanah.
"Jika itu maumu maka akan kulayani kau."
Arina masuk ke dalam lubang tanah yang sebelumnya dibuat oleh iblis tersebut, hanya menunggu beberapa saat ledakan terjadi yang membuat cacing itu terlempar ke udara.
__ADS_1
"Bukannya caranya sangat bar-bar tuan."
"Kurasa aku juga setuju denganmu Via."
Sebuah pilar api telah membakarnya hingga cacing tersebut lenyap menjadi debu, dia dihabisi sebelum bisa mendarat di tanah lagi.
Grey maupun Via berpikir itu kematian yang meriah. Iblis yang mereka lawan jelas berbeda satu sama lain dengan kata lain mungkin saja iblis pertama adalah iblis yang sudah berevolusi, pikir Grey dalam hati.
Arina menopang tongkat di pundaknya selagi berkata.
"Iblis selanjutnya."
Dia lebih bersemangat dari yang terlihat.
Undead king dari awal berfikir bahwa iblisnya akan memberikan ketakutan pada manusia sayangnya mereka tidak lebih kuat darinya.
Empat berhasil dihabisi dan sekarang hanya satu lagi yang mereka harus kalahkan yaitu iblis yang menyerupai manusia yang bersembunyi di kota padat penduduk.
Menyadari kedatangan Grey maupun Arina, membuatnya segera berlari, dia masuk ke dalam gang sebelum akhirnya terpojok.
"Apa yang kalian inginkan dariku?" dia hanya seorang pemuda yang terlihat lemah.
"Iblis ini tidak seperti yang kuduga, apa sebaiknya kita lepaskan saja?"
"Tidak ada jaminan bahwa dia tidak akan menyerang manusia suatu hari nanti, sungguh disayangkan bahwa kita harus membunuhnya."
__ADS_1
Grey hendak melangkah sebelum dia menemukan foto keluarga yang dijatuhkan oleh pemuda tersebut.
"Kau tinggal bersama mereka?"
"Aku tidak tahu kenapa kau mengincarku, tapi aku tidak berbuat jahat apapun."
Ingatannya mungkin telah menghilang saat berevolusi.
"Tapi kau iblis, sayang sekali tapi kami harus membunuhmu.. Grey silahkan."
"Tunggu dulu, aku ingin hidup.. aku tidak melakukan kesalahan apapun."
Iblis ini hidup terlalu dekat dengan manusia, Grey tidak bisa menebaknya apa dia benar-benar baik atau jahat.
"Grey."
Ujung pedang tajam menembus tubuh pemuda tersebut hingga darah menyembur dari mulutnya.
"Maaf, tapi kau diciptakan dari inti undead king, mungkin sekarang kau tidak merasa jahat namun ada kemungkinan hal itu juga terjadi padamu."
"Jika itu yang terbaik maka, apa boleh buat."
Tubuh pemuda itu ambruk ke samping.
"Akan lebih mudah jika dia benar-benar bersikap seperti iblis pada umumnya, Grey kau tak apa?"
__ADS_1
"Kita kembali"
Grey hanya berjalan tanpa mengatakan apapun lagi.