Menjadi Kuat Seorang Diri

Menjadi Kuat Seorang Diri
Chapter 58 : Dua Kelompok Terpisah


__ADS_3

Mereka muncul di sebuah perkemahan yang diisi oleh para pasukan kerajaan yang seluruhnya didominasi oleh wanita. Setelah penyerangan undead king ke kota Vardes selesai, mereka juga akan bergerak dengan pasukan kerajaan Neira nantinya.


"Bagaimana keadaannya?" ucap Sartina kepada bawahannya.


"Pasukan musuh akan datang besok pagi, kita bisa beristirahat sampai saat itu tiba."


"Syukurlah, kau bisa pergi."


"Baik."


Arina meletakkan dua tangannya di pinggang selagi menarik nafas lega.


"Aku akan kelelahan jika terus bertarung tanpa henti, kalau begitu aku ingin bersantai sekarang."


"Kerja bagus Arina."


"Tentu saja, Via malam ini kau mau tidur bersamaku.. aku punya cemilan loh."


"Bolehkah, ikut."


Dia mirip karakter penjahat yang menggoda anak kecil dengan permen, Arina hanya merasa bosan jika tidak memiliki teman bicara.


"Kalau begitu yang mulia bisa menggunakan tenda yang di sana dan aku akan mengecek pasukan yang lainnya, saat makan malam tiba aku akan memanggil Anda."


"Ah iya."

__ADS_1


Grey sebenarnya tidak terbiasa diperlakukan khusus namun jika dia menolaknya dia takut melukai orang lain yang sudah peduli padanya.


"Kalau begitu sampai nanti."


Grey masuk ke dalam tenda yang sebenarnya bisa diisi enam orang saking luasnya, ia melepaskan helmnya dan sedikit merapikan rambutnya sebelum berbaring di atas matras yang dibuat dari dedaunan yang dimasukan ke dalam sebuah kain layaknya tempat tidur pada umumnya.


"Undead king, hanya perlu beberapa langkah lagi kami bisa menghentikannya."


Sartina memanggil Grey yang telah mengenakan helmnya kembali dan ia pun menyantap makanan bersama semuanya.


Sementara itu di sisi lain beberapa jam lalu, pasukan kerajaan Neira yang dipimpin Irena dan anggota kelompoknya telah mengalami peperangan di dalam tebing terjal pada sore hari.


Mereka berhadapan dengan pasukan tengkorak yang memiliki jumlah dua kali lipat dari pasukan mereka.


"Komandan."


"Baik."


Irena menebaskan dua pedangnya dan dalam sekejap dia memusnahkan pasukan musuh yang mengerumuninya, tepat saat dia berbalik sesuatu menyambar dari atas lalu membawanya terbang masuk ke dalam hutan dan dijatuhkan tanpa ampun. Dengan pedangnya dia menancapkan ke pohon untuk membuat dirinya jatuh secara perlahan.


"Komandan dibawa pergi, kita harus menyelamatkannya!"


Winy berteriak pada seluruh pasukan yang mulai panik.


"Jangan khawatirkan komandan, ia pasti baik-baik saja.. fokuslah dengan pertarungan kita atau kita tidak akan bisa melangkah maju."

__ADS_1


"Wakil komandan, kami mengerti."


Seperti inilah peperangan, semua orang harus bisa mempercayai satu sama lain.


Eva menggunakan sihir suci untuk melindungi semua orang dan Angel memanah para undead hingga tak bisa bergerak lagi. Dilihat sekilas tidak ada siapapun yang ingin mundur.


***


Irena melirik ke sekeliling untuk memeriksa keadaan penyerang, ia yakin bahwa dia dibawa oleh seekor makhluk yang menyerupai burung dan manusia.


Dari celah-celah pohon sebuah bulu melesat cepat dan jatuh di dekat kakinya kemudian meledak dahsyat saat dia berlari untuk menghindarinya, sebuah suara masuk ke dalam telinganya.


"Matilah."


Di belakangnya sebuah sosok bayangan muncul, dan saat Irena menebaskan pedangnya sosok itu lenyap seperti bayangan.


"Lambat," ucap suara itu kembali.


Irena mengalihkan pandangan ke atas dahan tinggi dimana dia bisa melihat sosok penyerangnya.


"Kalau tidak salah kau Harpy."


"Itulah namaku, aku kagum bahwa kau bisa mengenalku."


"Kau adalah kaki tangan undead king, saat gelombang pertama kau sendiri yang memimpin para monster itu dari dalam dungeon."

__ADS_1


"Tepat sekali jika kau tahu... dengan kata lain kau berada di pasukan perbatasan, saat itu adalah momen yang indah.. bagaimana kalian dibunuh dan berubah jadi zombie, aku merindukan bagaimana tangisan kalian terdengar," balasnya menyeringai.


__ADS_2