
Meninggalkan pemikiran soal pernikahan di belakang, Arina dan Grey memutuskan untuk pergi ke Kota Risol.
Eir sedang membuat persiapan untuk bisa menembakan senjata kuno yang mereka temukan sebelumnya, sementara Anabeth, Grey akan senang jika dia selalu berada di tempat aman.
Kuda mereka berlari di hamparan padang rumput dan Grey bersyukur bahwa dia bisa bertemu dengan Irena yang memimpin bersama yang lainnya untuk membuat jebakan di depan kotanya.
"Grey kau sudah kembali," katanya," Ada apa?"
"Kita punya masalah."
Di dalam guild yang dipenuhi para petualang ditambah Mary sebagai staf, Grey menjelaskan apa yang terjadi soal raja yang tunduk terhadap Undead King.
Suasana berubah menjadi sepi senyap, kendati demikian siapapun yang berada di kota Risol sama sekali tidak ingin pindah dari tempatnya.
Grey bisa mengerti hal itu, mengingat bahwa mereka sangat mencintai kota ini. Dari awal Grey hanya akan memindahkan orang-orang yang telah kehilangan rumah mereka, dia hanya mencoba lebih dulu menawarkan bantuan pada mereka.
Mary menunjukkan wajah ragu.
"Semuanya langsung berubah begitu cepat."
"Begitulah, aku perlu banyak petualang yang mau membantuku bekerja secara percuma, jujur kami tidak memiliki banyak uang untuk membayar jasa kalian."
Sekitar 30 petualang memutuskan untuk membantu.
__ADS_1
"Yah, aku akan senang jika bisa sedikit berguna."
"Kurasa aku juga."
"Aku benar-benar berterima kasih."
Para petualang ini akan mengirimkan berita perpindahan pada setiap kota perbatasan untuk pergi ke kerajaan Vardes, selama ini bahkan dari mereka tidak pernah berpikir ada manusia yang hidup di luar sana, itu pasti sulit dipercayai tapi dengan stempel yang diberikan guild mereka tidak akan meragukan lagi soal keasliannya.
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Untuk saat ini aku ingin menemukan putri dan juga menggagalkan kesepakatan Undead King secepatnya."
"Kalau begitu biarkan kami ikut membantu juga."
"Aku mengandalkan kalian."
Semua petualang tampak tersenyum menanggapinya. Karena berpacu dengan waktu Grey, Arina dan juga kelompok Irena telah bergerak dengan seekor kuda bersama mereka.
Langkah kuda mereka tampak jelas saat memasuki tanah gersang. Ini sudah siang hari dan cukup panas.
"Apa kau yakin putri ada di sini Grey?" pertanyaan itu datang dari Irena.
"Iya, sebelumnya aku pernah bicara dengannya, dia bilang dia ingin sekali pergi ke Oasis."
__ADS_1
"Oasis?"
"Itu adalah tempat yang ditulis di sebuah buku bergambar, tempat itu dikatakan sesuai aslinya."
"Ah begitu."
Semua orang merasa lega bahwa Grey tidak bergerak sembarangan. Eva dan Winy berada di belakang mereka mengawasi sedangkan Angel dan Arina mengawasi jika ada seseorang yang mengejar secara tak terduga.
"Di sini benar-benar panas, apa tak apa memaksa kuda kita terus bergerak?" tanya Eva.
"Di depan ada sebuah peristirahatan mari berteduh di sana," ucap Irena.
Tempat itu ada di sebuah tebing dengan batu panjang di bagian atas sementara bawahnya memiliki celah untuk membaringkan diri. Ini satu-satunya area yang tidak terkena matahari.
Grey mengeluarkan air dari cincin penyimpanannya, beserta makanan seadanya, ia juga memberikan rumput dan air untuk kuda mereka.
"Kau benar-benar mempersiapkan semuanya, aku sempat berpikir bagaimana kau melakukan petualangan sendiri, sekarang aku tahu," kata Winy disusul Angel.
"Aku pikir Grey tipe orang yang sedia payung sebelum hujan."
"Sudah jelas kan, dia juga bisa menggunakan sihir suci."
"Aku berterima kasih atas pujiannya kurasa.. udaranya cukup panas jadi mari bergerak saat udara lebih dingin."
__ADS_1
Semua orang menyetujuinya.