
Dia tidak diberikan kesempatan untuk balik menyerang, luka tergores di tubuhnya dari tebasan Grey ataupun Sartina.
Dengan kesal dia mengayunkan pedang dari atas ke bawah namun entah Grey ataupun Sartina sudah tidak berada di sana.
"Apa?!"
Mereka mengambil arah samping, hendak memenggal kepalanya, Januar menahan tebasan Sartina sementara untuk tebasan Grey dia mengobarkan tangannya untuk menangkapnya.
"Haha ini baru pertarungan, aku sungguh bosan... bertarung berarti mempertaruhkan nyawa di antara kedua belah pihak sampai salah satunya mati, dengan begitu pembantaian yang kulakukan akan jauh berarti, tidak seperti membunuh kerajaan Asteria mereka hanya pasrah dengan kematian mereka."
Sartina menatap dengan pandangan tajam.
"Dasar Brengsek! Akan kubunuh kau."
Dengan kebencian itu dia menebas tangan musuhnya, sebelum Januar bisa bereaksi dia menyadari bahwa Grey sudah tidak memegang pedangnya.
"Hah? Kenapa semuanya terbalik."
__ADS_1
Dia baru menyadarinya, sesuatu yang sederhana yang bisa dia perkirakan tanpa kesulitan, kepalanya telah terpenggal dengan sebuah belati yang dipegang Grey.
"Kami sudah siap sebelum kalian datang kemari, inilah kekuatan manusia yang kalian remehkan."
Dengan kekalahan pemimpinnya secara bertahap jumlah para tengkorak mulai berkurang dan akhirnya dihabisi seutuhnya, para murid yang dilatih oleh Arina mulai bermunculan untuk turut membantu pembersihan, seperti mengobati yang terluka dan juga memberikan sihir suci agar mayat-mayat ini tak hidup kembali bahkan membakar rekan yang telah terbunuh.
Anabeth berjalan ke dekat Grey.
"Apa kau baik-baik saja?."
"Aku tak apa, kita tidak benar-benar bertarung dengan mereka secara penuh."
"Aku juga, kita harus mempersiapkan pertempuran selanjutnya tak ada waktu untuk bersedih."
Ini menyakitkan melihat bagaimana rekan yang telah hidup bersama dengan mereka mati, tapi inilah jalan satu-satunya untuk bertahan hidup. Demi orang-orang yang mati sebelum mereka dan demi umat manusia mereka harus melangkah maju, begitulah apa yang dipikirkan oleh Sartina sekarang.
Di hari berikutnya, di ruangan yang hanya diisi oleh Grey dan Flarisa mereka saling mengobrol satu sama lain.
__ADS_1
Grey menceritakan bagaimana kehidupan di kerajaannya khususnya di kota perbatasan serta bagaimana orang-orang di ibukota dibanjiri kehidupan mewah.
Sementara dia dan semua orang menantang maut, mereka selalu berpesta begitulah bagaimana Grey menggambarkan kerajaannya, tapi tidak semuanya. Grey yakin bahkan ada beberapa orang yang menentangnya meskipun dia meragukan bahwa mereka tahu soal kepala Undead King yang disembunyikan di sana.
Di sisi lain Flarisa juga menjelaskan tentang keadaan raja sebelumnya yang telah mati, ngomong-ngomong Flarisa bukan anggota keluarga kerajaan sesungguhnya. Dia hanya dipilih oleh penduduk untuk mengisi tempat tersebut lagipula raja telah mati sebelum dia memiliki garis keturunan karena Itulah baginya hal seperti pemimpin membebaninya.
Kendati demikian, kini dia membulatkan tekad untuk berdiri dan berjuang bersama rekannya.
Ia akan mengembalikan kejayaan Vardes meskipun sebelumnya dia hanya seorang rakyat jelata.
Kini Grey mengutarakan pertanyaan penting yang sejak lama dia ingin ketahui, soal senjata kuno yang bisa menghancurkan bulan merah.
Flarisa diam memikirkannya sesaat kemudian berkata setelah menemukan keyakinan di dalam pikirannya.
"Kalau tidak salah jauh di utara ada sebuah tempat yang digunakan sebagai pengembangan senjata, aku yakin bahwa di sanalah tempat dimana senjata itu berada."
"Kami akan segera pergi ke sana?"
__ADS_1
"Apa harus secepat itu?"
"Iya, tak hanya di sini... kota Risol juga dalam bahaya."