Menjadi Kuat Seorang Diri

Menjadi Kuat Seorang Diri
Chapter 39 : Ursa Mayor dan Ursa Minor


__ADS_3

Walau disebut membangun, sebenarnya apa yang dilakukan oleh semua orang lebih ke arah memperbaiki.


Ada sebuah kota yang sebelumnya hancur meskipun demikian, kota ini masih layak untuk dipakai. Dengan sedikit perbaikan di sana sini bukan hal mustahil bahwa kota ini akan kembali dihidupkan.


Ada dua kota yang menjadi target awal untuk bisa segera dihuni kembali, pertama adalah kota pengembangan senjata yang berubah nama sebagai Kota Ursa Mayor, dan kota yang sekarang dikunjungi Grey bernama Ursa Minor.


Sistem penamaan seperti itu akan lebih mudah dikenal banyak orang.


"Yo raja, kau datang kemari haha yah, kami benar-benar berhutang budi padamu."


"Pria tua ini benar-benar tidak sopan."


"Tak apa Via, petualang memang seperti ini."


Grey disapa oleh pemimpin pembangunan tembok yang merupakan pria tua yang mengikatkan kain di kepalanya dan dengan senang menyusun bebatuan dengan semen.


"Bagaimana soal pembangunannya?"


"Berjalan lancar, kami telah menambal lubang-lubang di tembok ini dan di sana beberapa rumah telah diselesaikan dengan baik."


"Kau ternyata bekerja baik pak tua."


"Tentu saja, soal bangun membangun aku ahlinya.. tapi kami kesulitan untuk pakaian dan makanan, jika bisa kami memerlukan pengiriman barang secepatnya."


Itu jelas masalah yang dihadapi Grey saat memindahkan semua orang kemari, dia perlu bantuan orang juga untuk menutupi semuanya dan itu tidaklah mudah.


Setelah mendengarkan keluhan semua orang dari dua kota, dia kembali ke istana. Ia melepaskan helm dan duduk di kursinya.


Masalah ibukota telah diatasi oleh Flarisa, sekarang dia harus menyelesaikan kedua kota. Pada dasarnya orang-orang sudah disibukan karena pembangunan ini, jika mereka juga harus mencari makanan itu jelas akan membebani keduanya.

__ADS_1


Arina masuk dengan penampilan biasanya.


"Kau tampak kacau?"


"Aku memikirkan soal makanan untuk dua kota lainnya."


"Soal itu kah, memang benar kita bisa melewati krisis untuk ibukota tapi akan sulit untuk mereka... apa kita bisa memulai untuk berkebun?"


"Itu akan cukup lama, mereka tidak bisa bertahan saat panen tiba."


Arina diam sesaat untuk memikirkannya.


"Kalau ada pohon ajaib itu akan jauh lebih baik."


"Pohon ajaib?"


"Tidak itu bisa saja, tapi bukan pohon ajaib melainkan ramuan ajaib."


"Hm."


Grey memiringkan saat Arina berpose penuh kemenangan.


"Kita bisa membuat pohon agar tumbuh lebih cepat dan berbuah banyak, aku pikir aku punya buku yang membahas ramuan seperti itu, kurasa dua hari aku bisa menyelesaikannya."


"Kalau begitu aku mengandalkanmu."


"Laksanakan."


Selama itu Grey pikir akan membagi makanan di ibukota untuk dua kota lainnya. Ini memang beresiko tapi semua orang tidak bisa pilih-pilih dalam bertahan hidup, mereka harus bekerja sama.

__ADS_1


Selagi menunggu ramuan Arina, Grey memutuskan untuk ikut perburuan yang dilakukan oleh kesatria wanita.


Di hutan itu mereka memasang jebakan sederhana, untuk menangkap rusa, kijang, Boar dan sebagainya.


Apapun itu mereka akan menangkapnya dan membawanya pulang. Hal itu terus berlanjut sampai suatu hari Arina muncul di ruangan Grey dengan rambut acak-acakan.


"Penampilanmu?"


"Abaikan soal penampilanku, aku akhirnya membuat ramuan yang mampu melakukannya, hanya perlu setetes maka sayuran atau buah-buahan akan tumbuh dengan cepat."


"Rasanya seperti sebuah keajaiban saja."


Untuk mengujinya mereka mengambil sebuah tanaman di dalam pot, saat ramuan diteteskan pohon itu tiba-tiba tumbuh besar kemudian menghasilkan buah apel.


"Apa ini aman?"


"Omong kosong, jelas aman... Via makan itu?"


"Kenapa harus aku dulu?"


"Bukannya kau yang paling cocok sebagai kelinci percobaan," ucap Arina.


"Mentang-mentang tubuhku kecil, tapi biarlah akan kucoba."


Via tampak ragu-ragu tapi saat dia mengunyahnya dia terlihat menikmatinya.


"Enak sekali."


Arina menyusul dan Grey pun melakukannya, tadinya dia tidak keberatan untuk menjadi kelinci percobaan.

__ADS_1


__ADS_2