
Mereka menghabiskan waktu cukup lama untuk memahat es dan membuat salju, ketika semua orang mencoba menilainya, Arina jelas pemenangnya bagaimana dia membuatnya sangat detail adalah hal terbaik darinya.
Entah kenapa dia benar-benar senang dengan sesuatu seperti itu, yang jelas dia sangat kekanak-kanakan.
Beberapa hari kemudian Grey dan Sartina dibantu kesatria wanita telah pergi ke hutan, udara semakin dingin maka dari itu mereka bergerak dengan pakaian begitu tebal dari biasanya.
Masing-masing dari tangan mereka tidak membawa pedang melainkan kapak yang berfungsi untuk menebang kayu.
Biasanya ini merupakan pekerjaan pria tapi para wanita ini jelas tidak kalah tangguh dengan mereka. Untuk menghangatkan diri semua orang memerlukan.kayu bakar di rumah mereka dan para kesatria yang mengerjakan tugas itu.
Karena sibuk dengan pembangunan dua kota baru mereka sedikit terlambat memasok kayu bakar tapi itu bukan sesuatu yang sulit untuk diatasi, dengan sedikit kerja keras semuanya bisa dilakukan.
Grey mengambil pohon cukup besar dan dengan satu tebasan dia memotongnya jatuh tanpa kesusahan.
"Anda melakukannya dengan cepat, aku juga tak ingin kalah."
"Kalian tak perlu melakukan sepertiku, mari bekerja tanpa perlu memaksakan diri."
"Kami mengerti."
Grey pikir akan sedikit menahan diri dalam pekerjaannya, itu akan merepotkan jika mereka tiba-tiba ingin menyeimbangkan waktu pekerjaan dengannya.
__ADS_1
Setelah menebang pohon Grey juga harus mulai memotong-motong pohon itu dengan ukuran pas, memisahkan bagian yang tidak diperlukan ia mulai menyusun semuanya kemudian menebang pohon yang lain.
Hal itu dilakukan secara berulang, hingga pada sore hari mereka telah mendapatkan kayu dengan jumlah mengagumkan, karena hanya Grey yang memiliki cincin penyimpan ialah yang menyimpan semuanya lalu mengeluarkannya di alun-alun kota.
Akan ada kesatria lain yang bertugas membagikannya pada para penduduk yang sudah mengantri, sementara itu bagi yang sudah menebang mereka bisa beristirahat seharian.
Saat Grey tiba di istana Arina muncul dengan wajah panik.
"Grey?"
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya.
ia mengalihkan pandangan ke dua istrinya yang berada di ruangan itu juga, namun Arina memotongnya dengan penjelasan singkat.
Kampung halaman? Ia ingat bahwa Arina sempat mengatakan tempat tinggalnya dengan kata lain tempatnya pasti berada di tengah laut.
Arina melanjutkan.
"Di udara dingin seperti ini harusnya para putri duyung akan pergi ke pulau yang lebih hangat yang tidak turun salju namun karena kemunculan monster mereka terjebak dan kedinginan di sana... ini benar-benar buruk."
"Kupikir kau tidak saling berhubungan dengan orang luar?"
__ADS_1
"Walau aku dulu penyendiri aku tetap masih saling berhubungan dengan keluargaku, kami terkadang saling bertukar surat."
Dia membuat penyendiri terdengar aneh, tapi Grey tidak mempermasalahkannya, yang bisa dia harus lakukan hanyalah menyelesaikan masalahnya.
"Kalau begitu mari pergi ke sana dan selamatkan mereka."
"Kau memang baik Grey."
"Suami kita pasti akan melakukan itu."
"Benar sekali, alih-alih mengirim seseorang ia akan langsung terjun sendiri."
Grey pikir kedua istrinya sangatlah akrab.
Membawa banyak orang akan berbahaya jadi Grey hanya pergi dengan kelompok biasanya, terdiri dari Arina, Via dan juga robot bernama Eir.
"Kau baik-baik saja dengan berjalan di musim dingin?" tanya Grey pada Eir.
"Jangan khawatir tubuhku memiliki penghangat, itu tidak akan membuat sistemku bermasalah."
"Kita bisa menggunakan Eir sebagai penghangat ruangan juga, dia sangat praktis."
__ADS_1
Grey tidak tahu bagaimana dia melakukannya tapi yang jelas jika hawa dingin tidak berpengaruh padanya itu sudah cukup. Untuk Via dia hanya bersembunyi di kantong baju milik Grey berusaha tidak keluar sedikitpun.
Beristirahat sebentar, perjalanan mereka telah dimulai kembali.