
Erik memanggil kakeknya dari bawah dengan suara teriakan.
"Kakek aku membawa pelanggan kemari."
"Aku tidak tuli, jangan berteriak seperti itu."
Arina pikir ada apa dengan cucu kakek ini.
Mereka berkumpul di sebuah batu yang dibuat menyerupai kursi dan meja.
"Jadi begitu, aku akan senang jika kalian mau menyewa kapalku... sayangnya seperti yang kau lihat kami tidak bisa keluar dari sini karena celahnya terlalu sempit."
Lebih tepatnya karena kapalnya terlalu besar.
"Hal seperti itu tidak masalah, aku yakin Arina bisa menghancurkannya dengan sihir."
"Benar sekali, aku memang mampu melakukannya."
"Syukurlah kakek."
"Aah, akhirnya ada kesempatan untuk membuatnya berlayar."
Tidak ingin membuang waktu lagi mereka mulai menarik jangkar ke permukaan dan membiarkan arus membawa mereka.
"Arina aku serahkan padamu," perkataan Grey dibalas dengan senyuman hangat.
"Serahkan padaku."
__ADS_1
Dia berdiri di depan kemudian menjulurkan tongkatnya untuk menciptakan lingkar sihir raksasa.
"Flame Arrow."
Dengan dua kata sebuah tembakan api dilesatkan itu menghancurkan celah sempit hingga berubah menjadi sebuah lubang raksasa.
Semua orang bisa merasakan hembusan angin laut melewati mereka, kecuali Eir semua orang terlihat menunjukan ekpresi kebahagiaan.
Layar dibentangkan dan mereka meninggalkan daratan.
"Yosh, mari pergi ke pulau putri duyung," teriak kakek tersebut bersemangat.
Menggerakkan kapal pada waktu musim dingin mereka harus pandai-pandai mencari celah, terkadang muncul beberapa bongkahan es yang bisa membuat kapal itu tenggelam.
Dengan navigasi Erik dan juga pengalaman kakeknya mereka mampu melewati masalah sampai akhirnya dari kejauhan mereka bisa melihat sebuah pulau besar. Karena ada beberapa bongkahan es di sekitarnya, kapal harus berhenti dan dari sini Grey dan Arina yang akan pergi ke sana, sementara Eir berada di kapal untuk berjaga jika hal-hal buruk terjadi.
"Hampir saja, terima kasih."
"Aku sekarang yakin kenapa mereka tidak mau datang kemari."
Mereka berdua sampai di pulau dan melihat bahwa para putri duyung telah menyambut mereka dalam wujud manusia dengan kaki.
"Mereka tidak telanjang, biasanya mereka tidak mengenakan apapun di tubuh mereka."
"Itu wajar, di cuaca dingin tidak akan ada yang melakukan itu."
"Maaf Grey membuatmu kecewa."
__ADS_1
"Aku tidak berniat melihat hal seperti itu," bantahnya demikian.
Singkatnya mereka menggunakan dedaunan sebagai pakaian walaupun jelas itu tidak efektif.
"Terima kasih sudah datang, saya Olivier pemimpin di suku ini."
"Aku Grey, kami datang setelah melihat suratnya."
"Terima kasih banyak, ini juga berkat Arina."
"Itu bukan masalah bagiku."
"Silahkan ikuti saya ke pemukiman kami."
Mereka dipandu untuk datang ke sebuah pemukiman yang berisi gubuk-gubuk sederhana.
Grey melirik ke sana kemari dan bertanya.
"Tidak ada laki-laki di sini?"
"Grey.. memang tidak ada laki-laki di dalam suku putri duyung, kami bisa melakukan reproduksi sesama jenis dan melahirkan putri duyung lainnya, tentu kami melakukannya tanpa ikatan seperti pernikahan atau keluarga, kami semua menjadi ibu bagi para putri duyung yang lahir.. ngomong-ngomong aku akan mengatakan bagaimana kami melakukan itu."
"Arina bukannya harusnya kamu malu mengatakan hal itu secara blak-blakan."
"Tak apa, Grey pria dewasa."
"Sebenarnya ada sesuatu yang tidak bisa di dengar walaupun kau pria dewasa," ucapan Grey tidak bisa sampai kepada siapapun.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam gubuk kecil beralaskan kayu yang mana dengan santai Olivier menuangkan teh ke dalam cangkir untuk disajikan pada keduanya.