Menjadi Kuat Seorang Diri

Menjadi Kuat Seorang Diri
Chapter 30 : Pemberontakan


__ADS_3

Para kesatria menerjang ke arah mereka berdua, Arina merapalkan sebuah mantera dengan bahasa yang sulit dimengerti, sedangkan Grey melindunginya dari apapun yang mendekat.


Grey menahan pedang mereka kemudian menendang tubuh mereka mundur, itu hanya berjalan beberapa detik saja sampai Arina menyelesaikan manteranya dan kemudian mereka tertidur.


Tidak ada siapapun yang bergerak sedikitpun membuat Nil tampak terkejut, meski begitu dia menelan keterkejutannya untuk menyerang keduanya.


Serangan darinya ditahan oleh Grey yang mana menciptakan dentuman keras.


Nil menarik pedangnya kemudian menebas dengan beberapa tebasan samping yang diblokir dengan mudah sebelum mereka berdua saling menjaga jarak kemudian saling berputar.


"Apa aku harus menggunakan sihirku untuk menjatuhkannya?" tanya Arisa.


"Tidak, lebih baik kau pergi dengan Anabeth dan Eir... aku akan menyusul."


"Baiklah."


Arisa berlari meninggalkan keberadaan keduanya.


"Kenapa kau berkhianat pada kerajaan Neira?"

__ADS_1


"Masih bertanya? Jika kau hidup di perbatasan kau juga akan memilih jalan sepertiku."


Nil mengerenyitkan alisnya kemudian dia melompat untuk menebas, Grey tidak menahannya melainkan menghindar ke samping sebelum membalas dengan tebasan diagonal.


Itu sedikit menebas bahu Nil atau sejujurnya memang Grey sengaja melakukannya, saat semua orang bermalas-malasan Grey selalu berjuang keras menjadi kuat seorang diri, kesatria memang kuat tapi tidak sekuat monster-monster yang dia hadapi selama ini.


Grey bergerak maju dengan beberapa tebasan mengikutinya, gerakannya seperti seorang yang sedang menari-nari udara yang mana membuat Nil terpojok mundur, meski begitu dia tidak membiarkan Grey menjadi seorang dominan, Nil juga bertahan untuk memberikan serangan yang sama di tempo yang sama hingga keduanya saling membenturkan pedang di jarak sangat dekat sehingga bisa merasakan embusan nafas satu sama lain.


"Aku penasaran wajah seperti apa yang berada di balik helm itu?"


"Aku tidak bermurah hati untuk menunjukannya pada orang sepertimu."


Pedang Nil mulai bercahaya yang mana membuat Grey harus melompat mundur, itu bukan sihir melainkan kekuatan spirit.


Dilihat sekilas dia jelas memiliki spirit cahaya.


Nil mengayunkan pedangnya menciptakan tebasan cahaya berbentuk bulan sabit yang menerjang ke depan, tidak ada waktu untuk menghindarinya karena itu Grey memilih untuk menahannya hingga memantulkannya ke samping.


Tampak retakan di bilah pedang Grey. Satu kali lagi dia menahan serangan sama, itu akan menghancurkannya dengan mudah.

__ADS_1


"Kau memiliki senjata yang bagus, kenapa tidak gunakan hal itu pada anak buahmu dibandingkan menggunakan senjata dari tempat ini?"


"Kalau bisa aku juga ingin melakukannya, sayangnya orang-orang yang bisa menggunakan spirit hanya orang-orang yang dicintai roh, mereka yang tidak bisa tidak akan bisa melakukannya."


"Itu pengetahuan baru untukku, jadi kenapa kau menginginkan senjatanya?"


"Di ibukota telah terjadi pemberontak dan kami telah menjadi dua kubu sekarang."


"Oleh para tentara perbatasan?"


"Bukan, hanya antara bangsawan."


Grey sedikit terkejut, senjata ini akan digunakan untuk membunuh manusia lagi terlebih antara para bangsawan.


Nil melanjutkan.


"Kota Risol memang kota yang paling kuat yang mampu menahan gempuran gelombang ke dua, apa kau tahu bagaimana kota yang lainnya?"


"Tidak, kami tidak kuat... kami kehilangan seluruh orang yang bertarung di garis depan."

__ADS_1


"Tapi kalian masih mempertahankan kotanya, tapi bagaimana jika dengan kota perbatasan lainnya?"


"Mereka berhasil ditembus," ucap Grey ragu.


__ADS_2